Layanan BBM ‘Ngaco’, Penjualan BlackBerry Turun 70 Persen

Ilustrasi BlackBerry
Ilustrasi BlackBerry

Jakarta – Seringnya menemukan gangguan pada layanan BlackBerry Messenger (BBM), membuat banyak pelanggan di Indonesia mulai habis kesabarannya. Hal ini berimbas pada penjualan perangkat BlackBerry di Indonesia yang dikabarkan anjlok hingga 70 persen.

Beberapa hari yang lalu pengguna BlackBerry dilanda kekecewaan karena layanan BBM mengalami gangguan. Kasus ini terjadi di sejumlah negara Asia Pasifik seperti, Australia, Hong Kong, Thailand, India, Filipina, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

Gangguan BBM disinyalir terjadi sejak Minggu malam hingga Senin pagi. Awalnya BlackBerry mengira layanan BBM yang tidak bekerja hanya disebabkan pemadaman sementara untuk OS BB10. Namun kenyataannya, masalah ini menyerang semua perangkat BlackBerry.

Karena Indonesia merupakan negara pengguna BB terbesar, jumlah keluhannya pun tinggi. Bahkan Menteri Komunikasi dan Informatika Indonesia, Tifatul Sembiring, ikut angkat bicara soal masalah ini.

Ia menyatakan kekecewaannya karena BlackBerry tidak menangani masalah tersebut dengan cepat. Akibatnya, sambung Tifatul, kepercayaan pengguna terhadap perangkat BlackBerry menurun.

“Akibat menurunnya tingkat kepercayaan pelanggan itu telah berimbas pada merosotnya penjulan BlackBerry di Indonesia hingga 70 persen,” katanya yang dikutip telsetNews dari Tehcinasia, Rabu (15/5).

Penurunan jumlah penjualan BlackBerry juga akan terus terjadi mengingat layanan messaging khas BlackBerry akan hadir pada perangkat Android dan iOS.

Sebelumnya Menkominfo juga menyatakan akan meminta penjelasan pihak BlackBerry terkait gangguan yang sering terjadi pada layanan BBM, termasuk yang baru saja terjadi pada beberapa hari lalu.

“Kami sudah mendengar bahwa layanan BBM sedang bermasalah, di media dikabarkan bahwa server yang berada di Singapura sedang down. Kami akan meminta penjelasan dari pihak BlackBerry langsung,” ujar Tifatul.

Namun dia belum bisa memastikan apakah dengan kerapnya BBM bermasalah tersebut, akan bisa mendesak pihak BlackBerry menempatkan servernya di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar lebih bisa dimonitor.

“Sebenarnya masalah server ini sudah di atur dalam PP Nomor 82 tahun 2012. Dalam PP tersebut sudah mewajibkan semua perusahaan asing harus membuka Data Center-nya di Indonesia,” jelasnya.

Menurut menteri yang suka berpantun ini, pihaknya akan mencari waktu yang tepat untuk menanyakan soal masalah ini ke BlackBerry. Karena sekarang waktunya kurang pas karena pihak BlackBerry sendiri sedang mengalami kendala internal.

“Kita biarkan saja dulu, karena mereka juga sedang mengatasi kendala internal. Tetapi kita akan mendesak dan meminta penjelasan hal terkait secara detail kepada mereka nanti,” imbuhnya. (LKH/HBS)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

RELATED ARTICLES

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0