Bayangkan sebuah laboratorium penelitian mutakhir di Amerika Serikat tiba-tiba harus menghentikan eksperimen pentingnya hanya karena satu alasan: kehabisan helium. Inilah yang dialami Nancy Washton dan timnya di Pacific Northwest National Laboratory pada awal 2022. Pasokan helium mereka menyusut drastis, memaksa mereka mematikan spektrometer nuklir magnetik senilai miliaran rupiah—satu-satunya di Amerika Utara yang mampu mengungkap rahasia molekuler mineral penyerap karbon.
Helium: Sumber Daya yang Diabaikan namun Vital
Anda mungkin mengenal helium sebagai gas pengisi balon ulang tahun, tetapi perannya jauh lebih krusial. Gas inert ini menjadi tulang punggung teknologi modern:
- Kedokteran: 32% pasokan global digunakan untuk mendinginkan magnet dalam pemindai MRI
- Riset Sains: Menjaga suhu superkonduktor di Large Hadron Collider (LHC)
- Industri Dirgantara: Membersihkan mesin roket dan menstabilkan tangki bahan bakar
- Elektronik: Proses produksi chip komputer dan baterai kendaraan listrik
Krisis Pasokan yang Berulang
Sejak 2006, dunia telah mengalami empat kali krisis helium. Yang terparah terjadi pada 2022 ketika:
- Kebakaran di pabrik gas Rusia di Amur, Siberia
- Perang Ukraina mengganggu rantai pasokan
- Pemeliharaan pabrik helium Qatar
- Penutupan Cadangan Helium Nasional AS selama empat bulan
Akibatnya, harga helium melonjak hampir dua kali lipat dalam lima tahun terakhir.
Mengapa Helium Begitu Sulit Didapatkan?
Helium memiliki karakteristik unik yang sekaligus menjadi kelemahannya:
- Sumber Terbatas: Hanya diproduksi dari fusi nuklir di bintang atau peluruhan radioaktif di kerak Bumi
- Sulit Disimpan: Dalam bentuk superfluid, helium bisa merembes melalui celah terkecil bahkan “memanjat” dinding
- Mudah Hilang: Sebagai gas paling ringan kedua, helium mudah terlepas ke atmosfer dan akhirnya ke luar angkasa
Solusi di Tengah Kelangkaan
Berbagai upaya sedang dilakukan untuk mengatasi krisis ini:
- MRI Hemat Helium: Scanner baru hanya membutuhkan 1 liter helium dibandingkan 2000 liter pada versi konvensional
- Sistem Daur Ulang: Beberapa universitas seperti Mississippi State mengembangkan teknologi yang bisa memulihkan 90% helium
- Penemuan Cadangan Baru: Tanzania akan memulai produksi helium pada 2025 dari cadangan terbesar dunia yang ditemukan 2016
“Bayangkan nenek Anda tidak bisa mendapatkan MRI karena tidak ada helium untuk mendinginkan scanner,” kata Washton. “Ini masalah serius yang perlu segera diatasi.”