Telset.id – Konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran yang memasuki minggu kelima mengancam pasokan helium global. Menurut The Wall Street Journal, penutupan Selat Hormuz oleh Korps Pengawal Revolusi Iran telah memotong hampir sepertiga pasokan helium dunia, yang berpotensi mengganggu produksi chip untuk kecerdasan buatan (AI).
Qatar, yang bertanggung jawab atas 30 hingga 35 persen produksi helium global, terhambat mengekspor gas tersebut karena posisinya sebagai pihak yang berseteru dengan Iran. Helium merupakan komponen krusial untuk mendinginkan mesin yang digunakan dalam fabrikasi chip AI di pusat data.
Ralf Gubler, Direktur Riset di S&P Global Energy, mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa guncangan helium ini menyoroti kerentanan mendalam dalam pengembangan AI, yaitu ketergantungan ekstrem pada sejumlah kecil simpul yang rentan secara geopolitik. Industri helium biasanya beroperasi dengan kontrak jangka panjang, sehingga produsen chip kini berebut mencari pemasok jangka pendek, memicu perang penawaran yang memperparah kelangkaan.
Bahkan jika Selat Hormuz dibuka kembali, pemulihan pasokan diperkirakan memakan waktu lama. Fasilitas penambangan Qatar terkena dampak dari Iran, dan perusahaan petrokimia milik negara, QatarEnergy, memperkirakan ekspor helium secara keseluruhan akan turun 17 persen, seperti dilaporkan Al Jazeera. Perbaikan kapasitas produksi diperkirakan membutuhkan waktu tiga hingga lima tahun.
Baca Juga:
Anish Kapadia, pendiri firma konsultan energi AKAP Energy, memberikan analogi sederhana kepada The Wall Street Journal. Korban pertama adalah balon pesta, di mana alokasi bisa dikurangi dengan konsekuensi beberapa orang tua yang kecewa. Namun, ketika sepertiga pasokan global hilang dalam semalam, dampak signifikan akan terasa di semua sektor, termasuk industri teknologi tinggi.
Kelangkaan helium ini terjadi di tengah pengaruh industri AI yang semakin meluas, bahkan ke sektor seperti gaming. Di sisi lain, persaingan di industri AI semakin ketat, ditandai dengan peluncuran berbagai model baru seperti model AI Exaone dari LG. Sementara industri berfokus pada AI, ada juga gerakan alternatif dalam mencari sumber energi, seperti yang dilakukan aliansi aliansi hidrogen oleh Toyota, Daimler, dan Volvo.
Implikasi dari gangguan pasokan ini berpotensi memperlambat laju inovasi dan produksi perangkat keras AI dalam beberapa bulan hingga tahun mendatang, selama krisis helium belum terselesaikan.




