Arkeolog Menemukan Kota Romawi Kuno Lewat Radar

Telset.id, Jakarta  – Sebuah kota Romawi kuno di Italia berhasil ditemukan tanpa proses penggalian. Para arkeolog menemukan kota tua ini menggunakan radar penembus tanah yang diikat ke sepeda quad.

Jejak-jejak kota Romawi kuno di Falerii Novi yang berusia lebih dari 2.000 tahun ini sebagian besar di bawah tanah. Kawasan tersebut meninggalkan banyak bangunan kuno yang belum ditemukan sampai sekarang.

{Baca juga: Google Earth Temukan Situs Kuno Berumur 9.000 Tahun}

Namun, pemindaian baru via radar di situs itu menangkap tempat pemandian, teater, toko-toko, bahkan seluruh sistem saluran air kota dalam detail yang belum pernah terungkap sebelumnya.

Para arkeolog mengatakan, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Rabu (10/6/2020), alat radar penembus tanah atau GPR dapat merevolusi pemahaman manusia tentang permukiman kuno.

Teknologi tersebut memungkinkan para peneliti untuk menyurvei wilayah luas yang terperangkap di bawah permukaan Bumi tanpa harus melakukan penggalian dalam yang cukup memakan waktu.

Anggota tim Profesor Martin Millett mengatakan, jenis survei kali ini dapat mengubah cara para arkeolog menyelidiki situs-situs perkotaan. Harapannya, ada penemuan lain lewat cara yang sama.

Falerii Novi merupakan sebuah kota bertembok dengan luas 75 hektare, terletak sekitar 30 mil utara Roma. Falerii Novi didirikan pada 241 SM pada masa Republik Romawi dan dihuni hingga 700 M.

Kota itu, tidak sampai setengah dari ukuran Pompeii kuno, sebagian telah digali, sebagian besar tetap terkubur. Di sana ada 60 rumah besar dan sebuah kuil persegi panjang dengan tiang-tiang.

{Baca juga: Situs Kuno dan Terbesar Peninggalan Suku Maya Ditemukan}

GPR memantulkan gelombang radio dari benda-benda dan menggunakan “gema” untuk membangun gambar di kedalaman berbeda. GPR ditarik ke permukaan menggunakan sepeda quad.

Sebelumnya, para ilmuwan telah berhasil menemukan struktur bangunan kuno dan besar di selatan Meksiko. Dilaporkan, bangunan tua tersebut merupakan situs tertua dan terbesar peninggalan suku Maya kuno.

Situs bernama Aguada Fenix tersebut merupakan bangunan tinggi berukuran lebih dari 1.400 meter yang dibangun dalam jangka waktu antara 1.000 – 800 SM. Bangunan ini berlokasi di negara bagian Tabasco, tepatnya di pangkalan Teluk Meksiko.

Bentuk bangunan ini sangat berbeda dengan piramida peninggalan suku Maya yang dibangun 1.500 tahun kemudian yang terletak di Tikal di Guatemala dan Palenque di Meksiko.

Bukannya dibangun dari batu, namun situs kuno dan terbesar suku Maya ini dibangun menggunakan tanah liat dan bahan-bahan lainnya, dan kemungkinan digunakan untuk ritual massal saat itu. [SN/HBS]

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -