Telset.id ā Kepolisian Omaha, Nebraska, Amerika Serikat, menuai kecaman publik setelah terungkap bahwa mereka menggunakan sarung tangan setrum listrik terhadap dua siswa terpisah selama tahun ajaran 2025-2026. Salah satu siswa tersebut terdaftar dalam program pendidikan khusus, memicu gelombang protes dari orang tua, siswa, hingga pejabat sekolah.
Superintendent Omaha, Matthew Ray, mendesak departemen kepolisian kota untuk menghentikan penggunaan sarung tangan setrum tersebut terhadap siswa. Meskipun polisi Omaha menyebut perangkat ini sebagai āopsi penggunaan kekuatan teramanā untuk menundukkan tersangka, mereka akhirnya setuju untuk tidak lagi menggunakan perangkat tersebut di lingkungan sekolah, sebagaimana dilaporkan oleh Associated Press.
Kontroversi ini semakin memanas ketika muncul pertanyaan mengenai seberapa banyak pihak distrik sekolah mengetahui tentang perangkat tersebut sebelum digunakan. Ray mengaku baru mengetahui keberadaan sarung tangan setrum ini pekan lalu. Namun, stasiun televisi lokal KETV melaporkan bahwa polisi sebenarnya telah memberi tahu administrator sekolah tentang perangkat ini sejak tahun 2023.

Permintaan distrik sekolah ini datang di tengah meningkatnya suara kemarahan dari orang tua dan siswa terhadap perangkat yang sangat kontroversial tersebut. Sarung tangan setrum ini kini diadopsi oleh lembaga penegak hukum lokal dan federal dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
āSaya bahkan tidak bisa membayangkan berjalan di lorong sekolah dan melihat teman sebaya saya tersetrum di tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi siswa,ā ujar Nora Wessel, siswa senior di Omaha Central High School, dalam sebuah rapat dewan sekolah baru-baru ini, seperti dikutip oleh AP.
āNamun, ini sekarang menjadi kemungkinan yang sangat nyata. Mereka adalah orang dewasa yang seharusnya bisa kita percaya, tetapi senjata-senjata ini menciptakan penghalang bagi siswa kita untuk meminta bantuan kepada petugas keamanan sekolah saat dibutuhkan,ā tambahnya.
Perusahaan di Balik Sarung Tangan Setrum
Perusahaan yang memproduksi perangkat ini, yang bernama āCompliant Technologiesā, hingga tahun 2022 masih memasarkan sarung tangan setrum ini sebagai āsenjataā dalam materi publikasinya. Dalam beberapa tahun terakhir, mereka mengubah penyebutannya menjadi perangkat āgangguan konduktif dan de-eskalasiā.
Dalam praktiknya, sarung tangan setrum ini tampak seperti taser yang diubah mereknya, meskipun jauh lebih ātidak mencolokā, sebagaimana dikatakan Kepala Polisi Omaha, Todd Schmaderer, kepada Government Technology dalam sebuah pernyataan.
Perangkat tersebut mungkin tidak mencolok secara visual, tetapi hal itu tidak otomatis membuatnya manusiawi. Atau, pada tingkat yang murni praktis, efektif sebagai alat untuk menyelesaikan kejahatan, sebagaimana diperdebatkan oleh para ahli.
Berbicara kepada Mother Jones tentang sarung tangan ini, analis kebijakan senior di Center for Victims of Torture, Yumna Rizvi, menyebut perangkat tersebut sebagai āperalatan yang secara inheren abusive yang memfasilitasi penyiksaanā, serta menambahkan bahwa perangkat ini ātidak memiliki tujuan penegakan hukum yang sahā.
Baca Juga:
Kasus di Omaha ini menyoroti meningkatnya kekhawatiran tentang penggunaan teknologi keamanan yang semakin agresif di lingkungan pendidikan. Penggunaan perangkat setrum di sekolah menjadi perdebatan hangat tentang keseimbangan antara keamanan dan perlindungan hak-hak siswa, terutama mereka yang memiliki kebutuhan khusus.
Keputusan polisi Omaha untuk menghentikan penggunaan perangkat ini di sekolah merupakan langkah positif, namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Bagaimana bisa perangkat sejenis ini digunakan dalam dua kesempatan terpisah tanpa sepengetahuan distrik? Atau apakah distrik sebenarnya sudah tahu sejak 2023 dan tidak bertindak?
Yang jelas, insiden ini telah membuka mata publik tentang penggunaan alat-alat yang berpotensi membahayakan di lingkungan sekolah. Sementara polisi Omaha mengklaim perangkat ini sebagai opsi teraman, para ahli dan aktivis hak asasi manusia memiliki pandangan yang sangat berbeda.
Perkembangan teknologi keamanan seperti ini juga menjadi perhatian di berbagai belahan dunia. Di tengah meningkatnya adopsi teknologi oleh aparat penegak hukum, penting untuk terus mengawasi bagaimana teknologi tersebut digunakan dan apakah penggunaannya sejalan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan perlindungan hak-hak sipil.
Kasus sarung tangan setrum Omaha ini menjadi pengingat bahwa teknologi, sekecil apa pun, dapat memiliki dampak besar ketika digunakan di lingkungan yang salah. Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi siswa, bukan tempat di mana mereka harus khawatir tentang kemungkinan disetrum oleh petugas keamanan.
Ke depannya, diharapkan ada pengawasan yang lebih ketat terhadap penggunaan perangkat-perangkat semacam ini di sekolah-sekolah. Transparansi antara kepolisian dan distrik sekolah juga menjadi kunci untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Insiden di Omaha ini juga menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana teknologi keamanan baru diadopsi dan digunakan oleh lembaga penegak hukum. Seperti halnya perkembangan AI yang mengubah banyak industri, teknologi keamanan juga terus berevolusi dengan cepat, seringkali lebih cepat daripada regulasi yang mengaturnya.
Keluhan Nora Wessel dan para siswa lainnya menunjukkan bahwa dampak dari keputusan ini dirasakan langsung oleh mereka yang paling terdampak. Rasa aman yang hilang di lingkungan sekolah adalah harga yang tidak boleh dibayar oleh siswa mana pun.
Polisi Omaha yang setuju untuk tidak lagi menggunakan sarung tangan setrum di sekolah adalah sebuah awal, tetapi perjalanan masih panjang untuk memastikan bahwa perangkat semacam ini tidak akan kembali digunakan di lingkungan pendidikan. Masyarakat akan terus mengawasi perkembangan kasus ini dan berharap ada akuntabilitas yang jelas dari semua pihak yang terlibat.





Komentar
Belum ada komentar.