📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center dengan rak server dan lampu menyala

Konsumsi Listrik Data Center China Diprediksi Capai 774 TWh pada 2030

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Wood Mackenzie memproyeksikan data center China konsumsi 774 TWh listrik per tahun pada 2030
  • Angka tersebut sekitar 4x lipat dari konsumsi saat ini
  • Data center China akan mewakili 6% total konsumsi listrik China pada 2030
  • Persentase diperkirakan naik hingga 17% pada 2060
  • Total konsumsi listrik China diperkirakan mencapai 12.900 TWh pada 2030
  • Konsumsi energi berasal dari inferensi AI dan pelatihan model
  • Data center dipindahkan ke wilayah barat dan utara China untuk biaya lebih murah
  • Emisi data center diperkirakan mencapai puncak sekitar 2035
  • Proyeksi 774 TWh lebih tinggi 60% dibanding prediksi tahun lalu sebesar 479 TWh
  • Angka tersebut melampaui total konsumsi energi Korea Selatan yang mencapai 596 TWh pada 2025

Telset.id – Seluruh data center di China diperkirakan bakal mengonsumsi listrik hingga 774 TWh per tahun pada 2030. Angka ini menandai lonjakan sekitar empat kali lipat dari konsumsi saat ini, seiring dengan investasi besar-besaran negara tersebut di bidang kecerdasan buatan (AI).

Proyeksi dari Wood Mackenzie tersebut menunjukkan bahwa data center China akan mewakili sekitar 6% dari total konsumsi listrik China pada 2030. Persentase ini diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 17% pada 2060. Dengan pangsa 6% tersebut, total konsumsi listrik tahunan China diperkirakan mencapai 12.900 TWh pada akhir dekade ini, yang menekankan besarnya tekanan pada jaringan listrik untuk terus berkembang.

Data Center

Konsumsi energi ini diperkirakan berasal dari dua area utama terkait AI. Pertama, konsumsi terkait inferensi yang dapat diprediksi dari menjalankan model untuk pengguna dan bisnis. Kedua, lonjakan tak terduga yang tinggi akan datang dari pelatihan model seiring dengan semakin canggihnya model AI.

China juga mengalami perpecahan dalam hal lokasi data center sebagai upaya mengatasi lonjakan permintaan daya. Fasilitas besar di dekat kota-kota seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen menawarkan koneksi latensi rendah untuk kinerja langsung. Namun, tugas yang dapat menerima latensi sedikit lebih buruk seperti pelatihan, pencadangan, dan penyimpanan dipindahkan ke luar kota.

Wilayah barat dan utara China, misalnya, menawarkan lahan yang lebih murah, iklim yang lebih sejuk, dan akses yang lebih besar ke energi terbarukan. “Seiring AI mendorong pertumbuhan berkelanjutan dalam permintaan komputasi, akses ke listrik yang andal, hemat biaya, dan rendah karbon akan memainkan peran yang semakin besar dalam menentukan di mana dan bagaimana kapasitas pusat data baru dikembangkan,” tulis analis riset Wanting Zhao.

Energi Jadi Kendala Utama Data Center

Meskipun analis memperkirakan konsumsi energi terkait data center akan terus meningkat selama beberapa dekade, Wood Mackenzie memperkirakan emisi data center akan mencapai puncaknya sekitar tahun 2035. Hal ini mengisyaratkan bahwa sumber energi terbarukan mungkin sedikit tertunda.

Para analis juga memperkirakan bahwa data center bisa menjadi lebih fleksibel dalam hal tekanan pada jaringan listrik, mirip dengan bagaimana beban kerja yang toleran terhadap latensi bisa dipindahkan dari kota. Misalnya, beban kerja yang tidak mendesak bisa dijadwalkan pada periode ketika produksi energi terbarukan lebih murah atau permintaan jaringan lainnya lebih rendah.

“Fleksibilitas ini bisa memungkinkan pusat data untuk melampaui peran tradisional mereka sebagai beban dasar pasif dan menjadi komponen yang lebih aktif dari sistem tenaga listrik China yang terus berkembang,” tulis perusahaan tersebut.

A data center with racks of servers and lots of lights glowing

Angka 774 TWh tersebut menempatkan data center China jauh di depan total konsumsi energi Korea Selatan yang mencakup pengukuran domestik dan industri. Korea Selatan secara keseluruhan menghasilkan sekitar 596 TWh pada 2025, menurut statistik utilitas.

Angka 774 TWh tersebut juga bisa berubah seiring kita mendekati akhir dekade ini. Baru setahun yang lalu, Wood Mackenzie memprediksi data center China akan mengonsumsi 479 TWh per tahun pada 2030, menjadikan proyeksi tahun ini sekitar 60% lebih tinggi. Perkembangan ini sejalan dengan dinamika industri teknologi yang terus berubah, termasuk berbagai kebijakan terkait regulasi di China yang turut memengaruhi lanskap teknologi negara tersebut.

Pergeseran lokasi data center ke wilayah dengan biaya lebih murah ini juga mencerminkan tren yang lebih luas dalam industri. Seperti halnya penarikan produk di China yang menunjukkan tantangan operasional, pengelolaan konsumsi energi menjadi isu krusial bagi keberlanjutan operasi data center di negara tersebut.

Dengan proyeksi yang terus meningkat, kebutuhan akan infrastruktur listrik yang memadai menjadi semakin mendesak. Kemampuan China untuk mengembangkan jaringan listrik dan mengintegrasikan sumber energi terbarukan akan menjadi faktor kunci dalam mendukung pertumbuhan industri data center dan AI di masa depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.