Kominfo: Soal Data Center, Pilih Dipatuhi atau Dilanggar

Jakarta – Kementerian Kominfo mengapresiasi keputusan Google untuk membuka kantor perwakilannya di Indonesia. Dan sebagai perusahaan asing, Google diingatkan harus tetap tunduk pada hukum atau peraturan yang berlaku di Indonesia.

Kami sangat appreciate dengan keputusan Google untuk membuka kantor perwakilannya di Indonesia, karena akan lebih mempermudah koordinasi jika ada masalah, ujar Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto kepada Telsetnews di Jakarta, Selasa (3/4).

Menurut Gatot, selama ini pihaknya sering mengalami kesulitan dalam hal koordinasi jika ada masalah teknis, karena kantor perwakilannya belum ada di Indonesia. Kalau ada masalah jadi lama koordinasinya. Makanya kita senang Google berkantor di Indonesia, masalah komunikasi jadi lebih lancar, ucapnya.

Namun ia mengingatkan, masalah tidak selesai sampai disitu saja karena Kominfo tetap akan menerapkan peraturan sesuai hukum yang berlaku di Indonesia, dan Google wajib mengikuti aturan tersebut. Tidak ada satu perusahaan asingpun yang kebal hukum, mereka tetap harus tunduk pada peraturan di sini, tegas Gatot.

Lebih jauh diterangkannya, peraturan yang harus ditaati itu baik yang sekarang berlaku, maupun yang nantinya baru akan disahkan. Seperti misalnya Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Penyelenggaraan Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) yang merupakan turunan dari UU ITE No.11/2008 yang saat ini sedang menunggu untuk disahkan.

Selain itu, nantinya akan dibuat peraturan yang mengatur soal entitas bisnis para perusahaan yang masuk golongan OTT (Over the Top) seperti Google, Yahoo dan perusahaan sejenis lainnya.

Kita memang belum bisa mengkategorikan Google itu masuk entitas bisnis apa. Karena memang harus diakui hingga saat ini OTT masih belum ada devinisi dan dasar hukum yang jelas. Sekarang lagi kita godok aturannya, ungkapnya.

Terkait RPP Penyelenggaraan ITE, Gatot menegaskan, jika nantinya sudah disahkan menjadi PP, maka semua perusahaan asing, termasuk Google dan juga RIM harus mengikuti peraturan tersebut. Salah satunya tentang kewajiban membangun data center di Indonesia.

Saat ditanya bagaimana kalau Google atau RIM tidak mau karena merasa sudah memiliki data center di Hong Kong dan Singapura, yang dianggap sudah cukup meng-cover wilayah Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Gatot dengan tegas mengatakan, tetap harus ada data center di Indonesia!.

Terkait peraturan konvergensi ini, pilihannya cuma dua, dipatuhi atau dilanggar. Kalau pilihannya melanggar, ya langsung kita kasih sanksi sesuai peraturan yang berlaku, tandasnya.

Menurutnya, pembangunan data center memang diwajibkan oleh UU Telekomunikasi No.36/1999 dan UU ITE No.11/2008. Tujuannya, kata Gatot, agar biaya koneksi internet bisa lebih murah dan juga memudahkan para pelaku bisnis di Indonesia.

Sebelumnya, pada saat peresmian kantornya di Indonesia, Country Head Google Indonesia Rudy Ramawy mengatakan, saat ini Google sudah membangun data center, tapi memang bukan di Indonesia.

“Google sudah ada data center di Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Data center tersebut untuk melayani pengguna Google di kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia,” jelas Rudy. [hbs]

 

 

 

 

Previous articleYahoo! She Gelar Kampanye ’‘Real Women, Real Answers’™
Next articleGoogle Jangan Ikut-ikutan ‘Bandel’ Seperti RIM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here