Telset.id – Sebuah kebocoran data besar mengekspos lebih dari 153 juta Surat Izin Mengemudi (SIM) milik warga Amerika Serikat dan Kanada. Insiden ini terungkap setelah seorang peneliti keamanan menemukan peretas yang menjual akses ke database tersebut, termasuk data milik Pete Hegseth, Menteri Pertahanan AS saat ini.
Peretas tersebut membuat situs bernama Nexus dan mengklaim memiliki akses ke pindaian digital dari 153.347.439 kartu identitas. Klaim ini ditemukan oleh jurnalis keamanan Brian Krebs, yang melaporkan bahwa database tersebut kemungkinan besar asli. Departemen Pertahanan AS dikabarkan telah mengetahui dan sedang menyelidiki insiden ini.

“Hasil penelusuran singkat di Nexus menunjukkan mereka kemungkinan tidak melebih-lebihkan angka 153 juta itu: Menjalankan pencarian kosong di Nexus (tanpa parameter pencarian) mengembalikan sekitar 11,5 juta halaman hasil, dengan sekitar 15 hasil per halaman,” tulis Krebs.
Dalam postingan forum di situs kejahatan siber Rusia, Nexus diduga mendapatkan pindaian tersebut dari “perusahaan verifikasi identitas besar”. Hal ini mengindikasikan bahwa para peretas memiliki akses yang hampir real-time ke sistem perusahaan tersebut.
Krebs menemukan SIM miliknya sendiri termasuk dalam catatan yang bisa dicari. Ia juga menemukan data Hegseth yang fotonya terdaftar di situs tersebut. Untuk mengidentifikasi sumber kebocoran, Krebs bekerja sama dengan peneliti keamanan Zach Edwards, yang datanya juga ikut bocor.
Keduanya mengidentifikasi perusahaan IDScan sebagai sumber potensial kebocoran. Perusahaan yang berbasis di Louisiana ini digunakan oleh banyak perusahaan untuk memverifikasi jutaan identitas dari seluruh dunia.
“Berdasarkan semua detail dalam artikel dan bagaimana Brian benar-benar bisa melakukan doxing terhadap saya (dan waktu screenshot SIM saya yang ditambahkan ke sistem bertepatan dengan perjalanan saya), semua tanda menunjukkan IDScan mengalami pelanggaran data real-time yang masif. Ini vendor yang sangat besar,” tulis Edwards di Bluesky.
Investigasi FBI dan IDScan
Menurut Krebs, FBI dan IDScan sama-sama sedang menyelidiki kebocoran ini. Tom’s Guide telah menghubungi kedua organisasi tersebut namun tidak menerima balasan.
“Pada titik ini saya tidak bisa membagikan informasi tambahan, tetapi pembaruan yang Anda berikan sangat membantu tim investigasi kami,” kata juru bicara IDScan kepada Krebs.

Seorang komentator di laporan Krebs mengklaim bahwa perusahaannya menerima pemberitahuan kebocoran data dari IDScan. Pemberitahuan tersebut berbunyi:
“Sebelumnya hari ini, 1 September, kami menerima informasi yang menunjukkan bahwa informasi tertentu mungkin telah terekspos dan IDScan.net mungkin terlibat. Kami sedang bekerja keras untuk memvalidasi informasi tersebut dan menentukan apakah akses tidak sah terjadi, serta lingkup aktivitas tersebut.”
Pemberitahuan itu juga menyatakan bahwa perusahaan telah mengambil langkah-langkah untuk mengamankan sistemnya, memberi tahu perusahaan mitra, melibatkan penasihat hukum, dan melakukan investigasi forensik pihak ketiga. Situs Nexus dilaporkan sempat down tidak lama setelah laporan Krebs tayang, meskipun ada kemungkinan situs tersebut kembali dengan domain berbeda.
Baca Juga:
Risiko di Balik Verifikasi Identitas
Kebocoran data seperti ini sangat mengkhawatirkan, terutama karena terjadi saat pemerintah di berbagai negara sedang berupaya menerapkan undang-undang verifikasi usia. Regulasi tersebut mengharuskan orang dewasa untuk mengunggah atau memindai dokumen identitas agar bisa mengakses situs web atau aplikasi tertentu, umumnya konten dewasa.
Para advokat privasi dan peneliti keamanan telah memperingatkan bahwa undang-undang tersebut menempatkan data masyarakat dalam risiko. Kasus ini menjadi bukti nyata bahwa sistem verifikasi identitas pun tidak sepenuhnya aman dari serangan peretas.

Data Edwards kemungkinan dipindai saat ia mengunjungi toko cannabis yang memiliki kontrak dengan IDScan. Sementara Krebs meyakini datanya dipindai saat ia menyewa mobil dari Hertz tahun lalu. Ia juga menemukan SIM ibunya dari waktu yang hampir bersamaan.
Ada banyak tempat di mana identitas seseorang bisa dipindai, mulai dari agen penyewaan mobil, bar, hingga petugas keamanan bandara (TSA). Para ahli menyarankan pengguna untuk meminta agar identitas mereka tidak dipindai oleh perusahaan yang memintanya saat checkout atau check-in.
Langkah Perlindungan Data Pribadi
Meskipun belum diketahui apakah database Nexus akan kembali, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk tetap aman setelah kebocoran data. Pengguna disarankan untuk mendaftar layanan perlindungan pencurian identitas terbaik dan tetap waspada terhadap serangan phishing serta social engineering.
Waspadai pesan yang mendesak untuk “bertindak sekarang”. Hindari mengklik tautan, kode QR, atau lampiran dari pengirim yang tidak dikenal. Selain itu, pengguna sebaiknya mengganti kata sandi dengan membuat kata sandi yang kuat dan kompleks untuk semua akun. Penggunaan password manager juga bisa membantu mengelola kata sandi secara lebih aman.

Bahkan tanpa kebocoran data besar, praktik-praktik ini tetap baik untuk menjaga keamanan data pribadi. Pasalnya, semakin banyak perusahaan yang dinilai tidak mampu menjaga data pelanggan mereka dengan baik.
Kasus kebocoran data ini menjadi pengingat penting bahwa data pribadi, terutama dokumen identitas seperti SIM, adalah aset yang sangat berharga dan rentan terhadap penyalahgunaan. Kehati-hatian dalam menyerahkan data identitas menjadi langkah preventif yang perlu dilakukan setiap orang.
Insiden ini juga menyoroti kebutuhan akan regulasi yang lebih ketat terkait penyimpanan dan pemrosesan data identitas oleh perusahaan verifikasi. Tanpa pengawasan yang memadai, risiko kebocoran data serupa akan terus mengancam privasi jutaan orang.
Sementara investigasi masih berlangsung, masyarakat diimbau untuk secara proaktif memantau aktivitas yang mencurigakan terkait data pribadi mereka. Pemantauan laporan kredit dan kewaspadaan terhadap komunikasi yang mencurigakan menjadi langkah awal yang penting.
[CLOSING]
Kebocoran data 153 juta SIM ini menegaskan bahwa tidak ada sistem yang sepenuhnya kebal terhadap serangan siber. Perusahaan verifikasi identitas seperti IDScan memegang data sensitif dalam jumlah besar, menjadikannya target utama para peretas. Sampai investigasi FBI dan IDScan selesai, masyarakat disarankan untuk membatasi pemindaian dokumen identitas dan memperkuat praktik keamanan digital mereka.





Komentar
Belum ada komentar.