📑 Daftar Isi

Kantor Meta di Singapura, lokasi PHK karyawan mendadak

Karyawan Meta Singapura Kena PHK Mendadak Setelah 9 Tahun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Karyawan Meta di Singapura, Gary Tay, mengalami PHK mendadak sehari setelah melatih rekan baru.
  • Gary Tay telah bekerja di Meta selama 9 tahun 9 bulan, memulai karir di London sebelum pindah ke Singapura.
  • PHK ini merupakan bagian dari PHK massal Meta yang mempengaruhi sekitar 8.000 karyawan di seluruh dunia.
  • Gary Tay sebelumnya meningkatkan keterampilan AI dan membangun sistem yang meningkatkan efisiensi tim 200-300%.
  • Unggahan Gary Tay di LinkedIn viral dan menuai banyak dukungan serta simpati dari pengguna lain.
  • Kisah ini menjadi cerminan ironi di mana investasi AI perusahaan berbanding terbalik dengan nasib karyawan.

Telset.id – Seorang karyawan Meta di Singapura menceritakan pengalaman pahitnya setelah terkena PHK secara mendadak, hanya sehari setelah melatih rekan setim baru. Peristiwa ini menjadi sorotan di media sosial dan menggambarkan dampak nyata dari gelombang PHK massal yang melanda perusahaan teknologi raksasa tersebut.

Gary Tay, seorang AdTech Business Support Engineer di Meta, mengungkapkan kisahnya melalui unggahan di LinkedIn yang kini viral. Ia menceritakan bahwa pada hari Selasa, dirinya masih sibuk melatih seorang engineer baru dan merasa sudah mengajarkan seluruh materi yang diperlukan. Namun, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, pada hari Rabu ia mendadak menerima kabar PHK.

“Hari ini, saya di-PHK,” tulisnya seperti dikutip dari NDTV. Keputusan ini merupakan bagian dari PHK massal yang dilakukan Meta, yang berdampak pada sekitar 8.000 karyawan di seluruh dunia, termasuk di Singapura.

Pengabdian Nyaris Satu Dekade Berakhir Seketika

Yang membuat kisah Gary Tay semakin memilukan adalah masa pengabdiannya yang panjang di perusahaan yang sebelumnya bernama Facebook tersebut. Ia mengungkapkan telah bekerja selama kurang lebih 9 tahun 9 bulan di Meta. Perjalanan karirnya dimulai di London sebelum akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke Singapura.

“Diterima kerja di London, diberhentikan di Singapura. Bekerja lebih lama dibandingkan 99,5% karyawan global saat ini. 99,9% lebih lama dari siapa pun di kantor APAC (Asia Pasifik),” tulisnya dalam unggahan yang penuh kekecewaan.

Gary Tay juga menyebutkan bahwa pengalaman kerjanya di industri teknologi sangat panjang. Sebelum bergabung dengan Meta, ia pernah bekerja di Microsoft. Ia mengklaim bahwa hanya segelintir warga Singapura yang memiliki rekam jejak lebih dari 15 tahun sebagai engineer di dua perusahaan raksasa, Meta dan Microsoft.

Ironi di Tengah Investasi AI

Kisah Gary Tay menjadi semakin ironis ketika diketahui bahwa di tahun yang sama ia mengalami PHK, ia justru meluangkan waktu untuk meningkatkan keterampilannya di bidang kecerdasan buatan (AI). Ia membangun sistem yang diklaim mampu mempercepat penyelesaian beban kerja tim hingga 200-300%, sambil tetap mempertahankan kualitas layanan bagi klien-klien terbesar Meta.

“AI akan terus bertahan, tapi tampaknya manusia tidak,” tulisnya, seolah mewakili kegelisahan banyak pekerja teknologi seiring otomatisasi mulai mengubah lanskap pekerjaan. Kalimat ini menjadi cerminan pahit dari realitas industri teknologi saat ini, di mana investasi besar-besaran pada AI justru berbanding terbalik dengan nasib para karyawan.

Fenomena ini sejalan dengan temuan survei yang menunjukkan bahwa warga Singapura jadikan AI asisten kerja, bukan sekadar teman curhat. Artinya, adopsi AI di tempat kerja sudah sangat masif, dan hal ini berpotensi mengancam posisi pekerja manusia.

Unggahan Gary Tay di LinkedIn pun menuai banyak reaksi dari berbagai pengguna. Banyak yang merasa prihatin dan memberikan dukungan moral kepadanya.

“Saya prihatin atas apa yang menimpa Anda dan semua orang yang kena PHK. Bekerja begitu lama di sebuah perusahaan pasti menumbuhkan rasa keterikatan kuat, tapi Meta memang sudah tak sama lagi sejak Sheryl Sandberg pergi. Semoga sukses untuk perjalanan karier Anda selanjutnya!” tulis salah satu pengguna di kolom komentar.

“Sangat sedih mendengar kabar ini, Gary. Anda adalah seorang engineer yang luar biasa; perusahaan mana pun akan sangat beruntung memiliki Anda. Mengirimkan energi positif untukmu,” tulis pengguna lainnya.

Bahkan, ada komentar dari seseorang yang diduga merupakan mantan rekan kerjanya. “Selalu menyenangkan bisa bekerja denganmu. Dengan bekal pengetahuan luar biasa yang kamu miliki, segalanya menjadi terasa lebih mudah. Sangat sedih melihatmu harus pergi. Semoga kita berkesempatan untuk bekerja sama lagi di masa depan,” tambah pengguna tersebut.

Dampak PHK Massal di Industri Teknologi

Kisah Gary Tay hanyalah salah satu dari ribuan kasus serupa yang terjadi di industri teknologi global. Meta, perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, telah melakukan PHK massal yang mempengaruhi sekitar 8.000 karyawan di seluruh dunia. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari strategi efisiensi dan restrukturisasi perusahaan.

PHK mendadak tanpa aba-aba seperti yang dialami Gary Tay menjadi momok bagi banyak pekerja teknologi. Rasa aman dan stabilitas kerja yang dulu menjadi daya tarik utama bekerja di perusahaan teknologi besar kini mulai dipertanyakan. Para karyawan dihadapkan pada ketidakpastian, di mana performa dan dedikasi tinggi sekalipun tidak menjamin kelangsungan karir.

Fenomena ini juga memicu perdebatan tentang masa depan pekerjaan di era AI. Di satu sisi, perusahaan berlomba-lomba mengadopsi teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Di sisi lain, otomatisasi ini berpotensi menggantikan peran manusia, terutama untuk tugas-tugas yang bersifat repetitif dan analitis. Bahkan, Fitur “Dear Algo” Threads yang baru-baru ini dirilis menunjukkan bagaimana algoritma dan AI semakin mengatur interaksi pengguna di platform digital.

Bagi para pekerja teknologi, kisah Gary Tay menjadi pengingat bahwa loyalitas dan dedikasi tinggi pada satu perusahaan tidak selalu berbanding lurus dengan jaminan keamanan kerja. Peningkatan keterampilan, terutama di bidang AI, menjadi sebuah keharusan untuk tetap relevan di pasar kerja yang terus berubah.

Namun, ironisnya, seperti yang dialami Gary Tay, bahkan peningkatan keterampilan di bidang AI sekalipun tidak mampu menyelamatkannya dari PHK. Hal ini menunjukkan bahwa faktor-faktor di luar kendali individu, seperti keputusan strategis perusahaan dan kondisi ekonomi global, memiliki peran yang lebih besar dalam menentukan nasib seorang pekerja.

Kisah ini juga membuka mata bahwa PHK massal tidak hanya dialami oleh karyawan dengan masa kerja pendek, tetapi juga oleh mereka yang telah mengabdi selama hampir satu dekade. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang budaya kerja di perusahaan teknologi raksasa dan bagaimana mereka memperlakukan karyawan yang telah berkontribusi besar bagi pertumbuhan perusahaan.

Bagi para pencari kerja dan profesional di industri teknologi, kisah ini menjadi pelajaran berharga untuk selalu memiliki rencana cadangan dan tidak bergantung sepenuhnya pada satu sumber pendapatan. Portofolio keterampilan yang beragam dan jaringan profesional yang luas menjadi aset penting untuk menghadapi ketidakpastian karir di masa depan. Robot AI Saku seperti Poketomo dari Sharp mungkin bisa menjadi teman curhat, tetapi tidak bisa menggantikan kebutuhan akan keamanan finansial dan stabilitas karir.

Dengan semakin maraknya PHK di industri teknologi, para pekerja dituntut untuk lebih adaptif dan proaktif dalam mengelola karir mereka. Investasi pada pengembangan diri, membangun merek pribadi, dan memperluas jaringan menjadi semakin krusial. Kisah Gary Tay adalah pengingat pahit bahwa di era disrupsi ini, tidak ada yang namanya pekerjaan seumur hidup.

Ke depannya, industri teknologi mungkin perlu mengevaluasi kembali pendekatan mereka terhadap manajemen sumber daya manusia. PHK massal yang dilakukan secara tiba-tiba tidak hanya merugikan karyawan, tetapi juga dapat merusak reputasi perusahaan dan menurunkan moral karyawan yang tersisa.

Kisah Gary Tay di LinkedIn telah menjadi cermin bagi industri teknologi, menunjukkan bahwa di balik gemerlap inovasi dan pertumbuhan, ada sisi gelap yang harus dihadapi oleh para pekerjanya.

Komentar

Belum ada komentar.