Telset.id â Perusahaan Telekomunikasi Suriah (SyTC) melaporkan bahwa kabel bawah laut yang menghubungkan Mesir dan Suriah terputus. Pemerintah Damaskus menuding insiden ini sebagai bagian dari âkampanye sabotase sistematisâ yang menyebabkan gangguan layanan internet di seluruh negeri.
Meskipun belum menyebutkan aktor spesifik di balik kerusakan tersebut, SyTC menyatakan butuh waktu sebelum âpemulihan penuh layananâ dapat dilakukan. Sebagai langkah darurat, data kini dialihkan melalui kabel bawah laut lain yang terhubung ke Siprus dan kabel darat sebesar 1 Tbps yang melewati Turki. Namun, langkah ini belum sepenuhnya mengembalikan konektivitas internet bagi pengguna di Suriah.
Insiden ini kembali menyoroti kerentanan infrastruktur kritis global. Kabel bawah laut bukan hanya penting untuk menjelajahi internet, tetapi juga vital bagi perdagangan dan pasar global, dengan transaksi senilai miliaran dolar mengalir melalui kabel-kabel ini setiap saat. Lebih penting lagi, kabel ini digunakan oleh pemerintah untuk berkomunikasi dengan sekutu dan negara lain, menjadikannya sama krusialnya dengan jalur komunikasi laut.

Meskipun sangat penting, infrastruktur ini tergolong rapuh. Kabel-kabel tersebut seringkali hanya tergeletak di dasar laut atau terkubur sedalam 1,5 hingga 5 kaki di dalam lumpur. Hal ini membuatnya mudah rusak, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, oleh benda-benda yang terseret di dasar laut, seperti jaring pukat atau jangkar kapal.
Menjaga kabel-kabel ini juga sangat sulit karena membentang jarak yang sangat jauh. Total panjang kabel bawah laut yang dipasang diperkirakan lebih dari 32 kali keliling Bumi di ekuator. Tidak ada satu negara pun di dunia yang memiliki cukup sumber daya untuk berpatroli di setiap mil dari kabel-kabel ini.
Akibatnya, kabel bawah laut sering dianggap sebagai target lunak dan sering menjadi korban âperang zona abu-abu.â Beberapa insiden pemotongan kabel bawah laut oleh kapal yang diduga bagian dari armada bayangan Rusia telah terjadi, dengan Finlandia mengalami beberapa insiden di Laut Baltik dalam dua tahun terakhir. Timur Tengah juga mengalami gangguan kabel, terutama di Laut Merah yang menjadi titik rawan koneksi antara Eropa dan Asia.

Taiwan juga telah meningkatkan patroli pertahanan di sekitar 24 kabel bawah laut, terutama setelah hampir seratus kapal terkait China yang masuk daftar hitam terlihat berkeliaran di sekitar infrastruktur pulau tersebut.
Baca Juga:
**Kerentanan Geopolitik Suriah**
Meskipun Suriah menyatakan bahwa kerusakan kabel bawah lautnya adalah bagian dari âkampanye sabotase sistematis,â mereka tidak menuding secara spesifik kepada negara atau aktor non-negara tertentu. Namun, lokasi geografis Suriah yang berada di antara Eropa dan Timur Tengah menjadikannya pemain krusial bagi berbagai kekuatan regional dan global yang memiliki kepentingan di kawasan tersebut.
Lebih lanjut, negara ini juga menjadi tuan rumah bagi beberapa pangkalan Rusia, yang memungkinkan akses ke Laut Mediterania. Hal ini menambah dimensi geopolitik yang kompleks pada insiden pemutusan kabel tersebut. Seperti yang pernah dilaporkan, insiden serupa juga memicu investigasi, seperti peretas China yang menjadi sorotan di ranah keamanan siber global.
**Ancaman Terus Menerus**
Insiden pemutusan kabel di Suriah bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Kerentanan infrastruktur bawah laut ini merupakan ancaman berkelanjutan bagi konektivitas dan keamanan global. Setiap gangguan, baik yang disengaja maupun tidak, dapat melumpuhkan komunikasi, perdagangan, dan bahkan operasi militer suatu negara.
Kejadian di Suriah menjadi pengingat betapa rapuhnya tulang punggung internet global yang kita andalkan setiap hari. Tanpa pengamanan yang lebih ketat dan kerja sama internasional, insiden serupa diperkirakan akan terus terjadi, mengancam stabilitas digital dunia.





Komentar
Belum ada komentar.