Telset.id – Microsoft secara resmi menjual empat studio game utama milik divisi Xbox dan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.600 karyawan di divisi tersebut. Langkah drastis ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran yang bertujuan untuk “mereset Xbox” dan mengembalikan pertumbuhan bisnis pada tahun 2027.
Keputusan ini diumumkan setelah beredar spekulasi mengenai potensi penutupan sejumlah studio. Sebelumnya, rumor menyebutkan bahwa lima studio akan ditutup, termasuk Obsidian Entertainment yang legendaris. Namun, berdasarkan laporan dari The Verge, Microsoft memilih untuk menjual empat studio, bukan menutupnya.
Xbox CEO Asha Sharma mengkonfirmasi langkah ini melalui sebuah memo internal. Sharma menyebutkan bahwa PHK akan berlangsung sepanjang tahun fiskal 2027, dengan 1.600 karyawan yang terkena dampak langsung pada hari ini, 7 Juli 2026. Alasan di balik keputusan ini adalah kerugian finansial yang disebabkan oleh pemeliharaan beberapa jenis studio dalam portofolio perusahaan.
Nasib Empat Studio Xbox
Keempat studio yang dijual adalah Double Fine, Compulsion Games, Ninja Theory, dan Undead Labs. Dua studio pertama, Double Fine dan Compulsion Games, akan kembali menjadi pengembang independen. Tim Schafer akan mengambil alih kembali Double Fine, sementara Guillaume Provost akan bertanggung jawab atas Compulsion Games. Kedua studio ini sebelumnya diakuisisi oleh Microsoft pada tahun 2019 dan 2018.
Sementara itu, Ninja Theory dan Undead Labs dijual melalui perjanjian khusus. Langkah ini diambil untuk memastikan kelanjutan proyek game yang sedang dikerjakan. Ninja Theory sebelumnya mengumumkan bahwa game horor ambisius mereka dihentikan demi fokus pada kelangsungan waralaba Senua. Undead Labs sendiri tengah mengerjakan State of Decay 3, yang kini akan ditangani oleh perusahaan pembeli studio tersebut.
Keputusan ini menandai perubahan besar bagi struktur portofolio Xbox. Seperti yang diberitakan sebelumnya dalam artikel Xbox Siap PHK Massal, spekulasi awal menyebutkan akan ada penutupan lima studio. Namun, realisasinya berbeda dengan penjualan empat studio.
Dampak PHK dan Restrukturisasi
PHK ini merupakan bagian dari gelombang pemutusan hubungan kerja yang lebih besar di Microsoft. Secara total, 4.800 karyawan Microsoft terkena PHK pada hari yang sama, dan lebih dari 30% dari jumlah tersebut atau sekitar 1.600 karyawan berasal dari divisi Xbox. Sharma menjelaskan bahwa tim platform saat ini 40% lebih besar dibandingkan awal generasi konsol saat ini, namun basis pemain dan waktu bermain justru menurun.
Memo Sharma juga mengungkapkan bahwa struktur manajemen akan dikurangi menjadi “tidak lebih dari lima, dan jika memungkinkan, tiga” level sebagai bagian dari reboot platform. CEO tersebut menekankan perlunya “mereset Xbox” dimulai dari portofolio konten merek tersebut.
Menurut Tom Warren dari The Verge, masih ada satu studio lain yang akan ditutup dan PHK tambahan yang akan diumumkan kemudian. Warren menyebutkan bahwa Arkane Studios, yang sedang mengembangkan game Blade di bawah manajemen Xbox, mengalami penundaan proyek dan pembengkakan anggaran. Hal ini memicu konsultasi dengan Dewan Pekerja untuk mencari opsi strategis potensial.
Perubahan besar ini juga mempengaruhi struktur organisasi. Mojang dan King, yang merupakan studio Xbox terbesar berdasarkan pemain aktif bulanan, akan melapor langsung ke Sharma. Perubahan juga terjadi di Activision, Bethesda/ZeniMax, Blizzard, Kind, dan Xbox Game Studios. Sharma memastikan bahwa game atau proyek first-party yang telah diumumkan secara publik tidak akan dibatalkan sebagai bagian dari pengurangan ini.
Sebagai bagian dari restrukturisasi operasional, Helen Chiang dipromosikan menjadi Chief Operating Officer dengan tanggung jawab penuh atas laba rugi di seluruh konten, perangkat keras, platform, dan layanan. Langkah ini diharapkan dapat membantu perusahaan “kembali ke pertumbuhan pada tahun 2027.”
Krisis yang dialami Xbox ini telah menjadi perbincangan hangat di industri game. Banyak yang mempertanyakan strategi akuisisi massal Microsoft yang kemudian tidak diikuti dengan jadwal rilis game yang memadai. Dalam artikel Krisis Xbox PHK Besar-besaran, dijelaskan bagaimana keputusan bisnis sebelumnya berkontribusi pada situasi saat ini.
Baca Juga:
Dengan penjualan empat studio ini dan PHK massal yang terjadi, masa depan Xbox memang masih belum jelas. Namun, satu hal yang pasti: merek Xbox akan terlihat sangat berbeda tahun depan dengan lebih sedikit karyawan dan studio. Sisa tahun fiskal 2027 akan menjadi periode transisi yang krusial bagi divisi game Microsoft ini.
Perubahan strategi ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen Microsoft terhadap eksklusivitas game. Dalam artikel Avowed Siap Meluncur ke PS5, terlihat sinyal bahwa tembok eksklusivitas Xbox mulai runtuh seiring dengan strategi baru perusahaan.
Keputusan Microsoft untuk menjual studio dan melakukan PHK massal ini menjadi salah satu babak paling penting dalam sejarah divisi Xbox. Para pengamat industri akan terus memantau bagaimana langkah ini mempengaruhi lanskap persaingan konsol game di masa depan.





Komentar
Belum ada komentar.