Virtual Private Network (VPN) telah menjadi teknologi rumahan yang akrab bagi banyak pengguna internet dalam beberapa waktu terakhir. Namun, di balik popularitasnya, masih tersimpan ketidakpastian besar mengenai keamanan alat ini. Sebagian keraguan ini muncul karena kemampuan VPN menyembunyikan aktivitas online yang mungkin dianggap ilegal oleh pemerintah tertentu, seperti menyiasati pemeriksaan identitas untuk verifikasi usia. Namun, bagi konsumen awam, kebingungan ini semakin diperparah oleh banyaknya produk gagal yang dijual di toko aplikasi, bersanding langsung dengan layanan VPN terbaik di pasaran.
Situasi ini menjadi ironis ketika pengguna justru bergegas mencari perlindungan anonimitas online, namun malah terjebak pada layanan yang mengeksploitasi momen tersebut. Jika Anda sudah hampir memutuskan untuk mulai menggunakan VPN, pertanyaan yang paling mendesak di benak Anda mungkin adalah: “Apakah layanan yang saya lirik ini benar-benar aman?” Sayangnya, jawaban jujur dari pertanyaan tersebut adalah “tergantung”. Seperti halnya teknologi lain, VPN bisa bekerja dengan sangat baik atau sangat buruk, dan bisa digunakan untuk tujuan baik maupun jahat.
Tidak ada yang secara intrinsik berbahaya dari penggunaan VPN itu sendiri. Keamanan sebuah layanan sangat bergantung pada siapa yang membangunnya dan bagaimana mereka menjalankannya. Kabar baiknya, ada cara-cara mudah untuk membedakan mana layanan yang kredibel dan mana yang berpotensi merugikan. Selain itu, pertanyaan mengenai keamanan VPN juga sering kali merujuk pada apakah alat ini cukup untuk menjaga Anda tetap aman secara menyeluruh di dunia maya. Jawabannya mungkin akan sedikit mengecewakan bagi sebagian orang: VPN adalah alat keamanan penting, tetapi mereka tidak cukup untuk melindungi Anda dari semua ancaman digital sendirian.
Dua Wajah VPN: Kelalaian dan Niat Jahat
Dalam membedah keamanan sebuah layanan, ada dua faktor utama yang membuat sebuah VPN bisa dikategorikan tidak aman: kelalaian dan niat jahat (malice). Sebuah VPN yang lalai gagal melindungi pengguna dari bahaya yang seharusnya mereka tangkis, yang pada akhirnya membuat Anda lebih terekspos dibandingkan jika Anda tidak menggunakan VPN sama sekali. Sementara itu, VPN yang berbahaya memang dirancang untuk membuat Anda kurang aman agar pihak di belakangnya bisa mengeruk keuntungan.
Kelalaian dalam layanan VPN bisa bermanifestasi dalam berbagai bentuk teknis yang fatal. Salah satu contoh paling umum adalah penggunaan protokol usang dengan enkripsi yang telah berhasil diretas, seperti PPTP, atau penggunaan protokol buatan sendiri yang keamanannya tidak memadai. Protokol yang lemah ini berisiko mengekspos aktivitas pencarian Anda kepada pihak luar. Hal ini sangat krusial untuk dihindari, terutama jika Anda ingin menghindari Aplikasi VPN Berbahaya yang masih beredar di toko aplikasi.
Selain protokol, kebocoran data juga menjadi tanda kelalaian yang serius. Beberapa VPN membiarkan kebocoran terjadi dengan menggunakan server DNS publik alih-alih menyiapkan sistem mereka sendiri untuk menyelesaikan permintaan. Risiko dari praktik ini adalah terungkapnya situs web apa saja yang sedang dikunjungi oleh pengguna VPN tersebut. Lebih jauh lagi, kegagalan dalam memblokir atau mengelola IPv6 dengan benar dapat membocorkan lokasi asli pengguna, yang tentu saja menggagalkan tujuan utama penggunaan VPN.
Risiko Tersembunyi di Balik Layanan Gratis
Di sisi lain spektrum, terdapat VPN yang beroperasi dengan niat jahat. Cara paling umum bagi layanan semacam ini untuk menghasilkan uang adalah melalui iklan dalam aplikasi, terutama jika iklan tersebut mengandung pelacak (trackers). Praktik yang lebih mengerikan melibatkan pengambilan alamat IP residensial pengguna dan menjualnya sebagai proxy kepada pihak lain. Ini berarti koneksi internet rumah Anda bisa saja digunakan oleh orang asing untuk aktivitas yang tidak Anda ketahui.
Tidak berhenti di situ, beberapa penyedia layanan nakal melacak aktivitas pengguna dan menjual data tersebut kepada pengiklan, atau bahkan menanamkan malware langsung ke perangkat pengguna. Penting untuk ditegaskan bahwa tidak semua risiko ini melekat pada cara kerja VPN secara umum. VPN tidak diharuskan menjadi berbahaya. Ada banyak layanan bagus di luar sana, yang membuat kemampuan Anda untuk memilah yang buruk dari yang baik menjadi sangat vital. Anda mungkin tergiur dengan VPN Gratis Terbaik, namun Anda harus selalu waspada bagaimana mereka memonetisasi layanan tersebut.
Layanan yang mengklaim selalu gratis tanpa perlu membayar sama sekali sering kali menjadikan penggunanya sebagai produk. Jika mereka tidak menarik biaya langganan, besar kemungkinan mereka menjual data Anda ke pengiklan atau menggunakannya sebagai proxy residensial. Sebaliknya, langganan berbayar umumnya menjadi indikator awal yang baik untuk keamanan, meskipun bukan jaminan mutlak.
Baca Juga:
Investigasi Mandiri Sebelum Membeli
Proses memverifikasi keamanan VPN dimulai jauh sebelum Anda menekan tombol beli atau unduh. Lakukan riset mendalam. Membaca situs ulasan teknologi kredibel adalah langkah awal yang baik, tetapi jangan abaikan laporan dari pengguna biasa di media sosial dan toko aplikasi. Bersikaplah skeptis terhadap ulasan bintang lima yang minim detail; semakin banyak ulasan positif yang mendetail dari pengguna asli, semakin baik.
Saat melakukan riset, carilah kasus di mana VPN tersebut mungkin gagal dalam misinya melindungi pelanggan. Pertanyaan kritis yang perlu Anda ajukan meliputi: Apakah mereka pernah menyerahkan informasi kepada polisi meskipun memiliki kebijakan tanpa pencatatan (no-logs policy)? Apakah server mereka pernah dibobol oleh peretas yang membahayakan pengguna lain? Apakah perusahaan tersebut tertutup mengenai informasi kunci seperti basis operasional atau perusahaan induknya?
Anda juga disarankan untuk membaca kebijakan privasi dengan teliti. Kebijakan privasi adalah dokumen hukum yang bisa memicu tuntutan hukum jika penyedia melanggarnya secara terang-terangan, sehingga banyak perusahaan lebih memilih menanamkan celah hukum yang samar. Bacalah kebijakan tersebut dan putuskan sendiri apakah ada pengecualian yang tidak dapat diterima terhadap klaim “tanpa log”.
Uji Coba Langsung: Jangan Beli Kucing dalam Karung
Jika hasil riset Anda positif, langkah selanjutnya adalah mengunduh dan menguji VPN tersebut. Hampir setiap VPN yang layak digunakan menawarkan jaminan pengembalian dana dalam periode tertentu. Gunakan waktu ini untuk menguji faktor-faktor krusial. Pertama, periksa protokol VPN yang tersedia. Protokol terbaik yang diverifikasi oleh para ahli adalah OpenVPN, IKEv2, dan WireGuard. Jika VPN menggunakan protokol selain ketiga ini, pastikan mereka menggunakan sandi enkripsi yang tidak dapat dipecahkan seperti AES-256 atau ChaCha20.
Selanjutnya, lakukan tes kebocoran. Anda bisa menggunakan situs web sederhana seperti ipleak.net untuk memeriksa alamat IP normal Anda, kemudian hubungkan ke server VPN, dan periksa lagi. Jika alamat IP yang Anda lihat sama seperti sebelumnya, berarti VPN tersebut mengalami kebocoran. Kebocoran ini bisa membuat situs web Lacak Lokasi Pengguna meskipun status VPN Anda aktif.
Fitur keamanan lain yang wajib ada adalah “kill switch”. Fitur ini mencegah Anda mengakses internet saat tidak terhubung ke VPN, yang sangat penting untuk mencegah jenis peretasan tertentu yang mengandalkan server palsu. Sebagian besar VPN teratas memiliki kill switch atau fitur serupa dengan nama berbeda. Selain itu, periksa apakah aplikasi tersebut bersifat open-source. Transparansi kode di Github menunjukkan bahwa penyedia tidak menyembunyikan apa pun.
Keterbatasan VPN dalam Keamanan Siber
Penting untuk memahami bahwa VPN bukanlah solusi total untuk keamanan siber. VPN melakukan satu tugas spesifik: mengganti alamat IP Anda dengan server anonim dan mengenkripsi komunikasi ke server tersebut. Ini berarti Anda tidak akan mengungkapkan identitas atau lokasi dalam penggunaan internet normal. Namun, jika Anda mengungkapkan informasi dengan cara lain, perlindungan tersebut menjadi tidak relevan.
Jika Anda mengklik tautan mencurigakan yang mengunduh malware ke komputer Anda, malware tersebut tidak peduli bahwa alamat IP Anda disembunyikan—ia sudah berada di tempat yang diinginkannya. Demikian pula, jika Anda membocorkan informasi penting dalam postingan sosial atau memberikannya kepada penipu phishing, VPN tidak akan bisa membantu. Oleh karena itu, selain menggunakan VPN, Anda juga perlu memperkuat keamanan dengan kebiasaan lain, seperti menggunakan Password Manager Terbaik dan selalu memperbarui perangkat lunak.
Jangan jatuh ke dalam perangkap berpikir bahwa Anda tidak tersentuh hanya karena Anda menggunakan VPN. Keamanan digital membutuhkan pendekatan berlapis. VPN hanyalah salah satu lapisan dari benteng pertahanan digital Anda.
Rekomendasi Layanan yang Teruji
Mencari tahu apakah sebuah VPN aman dan dapat dipercaya memang membutuhkan banyak usaha. Namun, ada beberapa nama yang telah teruji oleh waktu dan insiden. Proton VPN, misalnya, sebagian besar dimiliki oleh yayasan nirlaba Proton, telah membuka seluruh kode produknya (open-source), dan tidak pernah mengalami peretasan serius. Sementara itu, ExpressVPN tetap aman meskipun ada kontroversi seputar perusahaan induknya; server mereka pernah disita oleh pihak berwenang setidaknya satu kali dan terbukti tidak menyimpan informasi apa pun.
NordVPN pernah mengalami peretasan pada tahun 2018, namun mereka belajar dari kesalahan tersebut dengan menggandakan keamanan di lokasi server mereka. Demikian pula, Surfshark pernah dikritik karena menggunakan metode autentikasi yang lemah, namun mereka telah menghentikannya sepenuhnya pada tahun 2022. Sering kali, respons yang tepat dari penyedia VPN terhadap pelanggaran keamanan terlihat lebih baik daripada penyedia yang belum pernah diserang sama sekali. Terkadang, kekuatan sejati hanya dapat diketahui dalam kesulitan.

