Survei: Blokir Medsos Efektif Tingkatkan Produktivitas

Telset.id, Jakarta – Untuk menghilangkan suntuk ketika bekerja, biasanya karyawan melakukan berbagai hal di luar pekerjaannya, terutama di dunia online seperti bermain game atau aktif di media sosial (medsos).

Tapi ternyata hal itu selain menyita waktu bekerja, juga memunculkan risiko ancaman keamanan pada perusahaan, sehingga divisi IT biasanya melakukan pemblokiran atau filter terhadap medsos atau website yang tak terkait tugas karyawan.

Untuk mengetahui dampak pemblokiran itu, perusahaan jaringan Spiceworks melakukan survei terhadap penggunaan filter web di tempat kerja dan implikasi dari pembatasan situs online tertentu. Perusahaan asal Texas ini melakukan survei ke 645 responden dari organisasi di seluruh Amerika Utara dan Eropa pada Mei 2018.

Seperti dilansir ZDnet, hasilnya menunjukkan bahwa ketika organisasi tidak membatasi aktivitas internet, lebih dari separuh karyawan (58 persen) menghabiskan setidaknya empat jam per minggu di situs web yang tidak terkait dengan pekerjaan mereka. Ini setara dengan 26 hari kerja per tahun.

Dengan kata lain, karyawan menghabiskan 10 persen dari waktu mereka untuk menjelajahi konten web yang tidak terkait dengan pekerjaan. Tingkat produktivitas di tempat kerja dapat mencapai puncak ketika medsos dibatasi pada jaringan perusahaan.

“Jika organisasi membatasi media sosial, khususnya di sepertiga (30 persen) karyawan menghabiskan setidaknya empat jam per minggu di situs web yang tidak terkait dengan pekerjaan mereka,” kata Spiceworls dalam keterangannya.

“Sedangkan ketika organisasi membatasi satu atau lebih situs web di jaringan perusahaan, 85 persen membatasi situs ilegal dan tidak pantas dan 61 persen membatasi situs kencan online,” imbuh mereka.

Survei menunjukkan aktivitas internet paling banyak yang dibatasi antara lain Facebook, Snapchat, dan Instagram. Sedangkan di seluruh organisasi, 36 persen memblokir Facebook, 36 persen memblokir Snapchat, dan 35 persen memblokir Instagram. Selain itu, 32 persen memblokir Twitter dan 31 persen memblokir Pinterest, tetapi hanya 16 persen memblokir LinkedIn.

Hasilnya menunjukkan lebih banyak karyawan yang tetap bertugas pada organisasi yang lebih besar, di mana hanya 28 persen karyawan menghabiskan lebih dari empat jam per minggu di situs web yang tidak terkait dengan pekerjaan mereka. Sedangan hasil untuk bisnis menengah hasil surveinya 45 persen dan bisnis kecil 51 persen.

Insiden keamanan juga dapat mempengaruhi produktivitas. Survei mengungkapkan bahwa ancaman bisa datang dari penggunaan layanan webmail pribadi (15 persen) dan saluran media sosial (11 persen). Tetapi kurang dari 40 persen organisasi memblokir properti online yang dapat memperburuk masalah.

Sedangkan insiden keamanan yang berasal dari situs web ilegal hanya sekitar 5 persen atau yang tidak etis rata-rata berkurang sekitar 7 persen selama 12 bulan terakhir, mungkin karena 85 persen perusahaan memblokir situs-situs ini.

”Ini bukti penyaringan web efektif dalam menjaga karyawan pada tugas dan mengurangi risiko keamanan,” ujar Analis Teknologi Senior Spiceworks Peter Tsai

Namun divisi IT perusahaan tidak mungkin untuk memblokir setiap situs web yang berpotensi bahaya. Akibatnya, pemfilteran web hanya menjadi salah satu bagian dari strategi keamanan berlapis-lapis, bukan dipandang sebagai solusi untuk semua. [WS/HBS]

Sumber: ZDNet

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here