telset

Peneliti Top AI Ini Dipecat Google Gegara Protes Keragaman

Telset.id, Jakarta – Peneliti top kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang sempat berkarir di Google mengaku dipecat perusahaan raksasa pencarian tersebut usai mengkritik upaya keragaman perusahaan.

Klaim tersebut langsung memanaskan situasi di tengah sengketa antara Alphabet dan aktivis pekerja.

Sang peneliti Google di bidang AI tersebut bernama Timnit Gebru. Ia dipecat Google pada Rabu (2/12/2020) setelah mengirim email ke rekan-rekannya mengenai ungkapan rasa frustrasi atas keragaman gender dalam unit AI Google. Ia mempertanyakan sikap para pemimpin di sana.

Gebru ikut mendirikan organisasi nirlaba Black in AI yang bertujuan untuk meningkatkan representasi orang kulit hitam dalam kecerdasan buatan dan ikut menulis makalah penting tentang bias dalam teknologi analisis wajah.

{Baca juga: Google Pecat Karyawan yang Suka Komentar “Nyinyir”}

Jeff Dean, kepala unit AI Google, mengatakan kepada staf bahwa Timnit Gebru telah mengancam untuk mengundurkan diri, kecuali diberi tahu kolega mana yang menganggap draf makalah yang ditulis tidak dapat diterbitkan. Dean pun menolak protes yang dilayangkan Gebru.

“Kami menerima dan menghormati keputusannya untuk mengundurkan diri dari Google. Kami semua benar-benar berbagi semangat untuk membuat AI lebih adil dan inklusif,” terang Dean, dikutip Telset dari Reuters, Sabtu (5/12/2020).

Peneliti AI itu mengatakan dalam serangkaian postingan di Twitter bahwa Google melakukan pemecatan tanpa mengajak bertemu terlebih dahulu guna mendiskusikan persoalan. Kepergian Gebru secara mendadak menambah kecemasan para karyawan lain, khususnya mereka yang mendukung Gebru.

Lebih dari 150 karyawan menyatakan dukungan untuk Gebru. Lewat petisi online, mereka menuntut Google untuk memperkuat komitmen terhadap kebebasan akademik dan menjelaskan mengapa memilih untuk “menyensor” makalah.

{Baca juga: AI Google Bisa Tulis Puisi dengan Gaya Penyair Legendaris}

Google menolak berkomentar. Timnit Gebru merupakan peneliti top AI di Google yang sebelumnya bekerja di Microsoft Research.

Ia ikut menulis makalah 2018 soal penemuan tingkat kesalahan yang lebih tinggi dalam teknologi analisis wajah untuk wanita dengan warna kulit lebih gelap. (SN/MF)

SourceReuters

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0