Sudah 2025, tapi Micro USB masih bikin pusing. Bagaimana bisa, di era USB-C yang sudah mendominasi, kita masih terjebak dengan kabel kuno ini? Kisah Victoria Song, reporter senior The Verge, mungkin mewakili frustrasi banyak orang.
Kisah Nyata: Hadiah Printer yang Bikin Frustrasi
Tahun lalu, teman baik Victoria memberikannya HP Sprocket portable photo printer sebagai hadiah. “Ini akan membawa hobimu ke level berikutnya,” kata sang teman. Antusiasme Victoria langsung menguap saat membuka kotaknya – port Micro USB lagi! Padahal, ia baru saja membuang semua kabel Micro USB-nya, hanya menyisakan satu untuk keadaan darurat.
USB-C pertama kali diperkenalkan pada 2014 dengan janji menjadi konektor universal yang cepat untuk transfer data dan daya. Namun, HP Sprocket edisi kedua yang dirilis tahun 2018 – versi terbaru printer ini – masih menggunakan Micro USB. Padahal saat itu, USB-C sudah mulai menjadi standar mainstream.
Bukan Hanya Printer: Masalah yang Meluas
Masalah ini ternyata lebih luas dari sekadar printer HP. Victoria menemukan berbagai gadget baru yang masih menggunakan Micro USB:
- Penggiling kuku kucing
- Wearable pereda stres (2023)
- Amazon Fire TV Stick 4K terbaru
- Hampir semua perangkat streaming Roku
- Lampu sepeda Garmin
Yang lebih menjengkelkan, banyak produk tidak secara jelas menyebutkan jenis konektor yang digunakan. Misalnya, Roku Streaming Stick 4K hanya menyebut “USB” tanpa spesifikasi. Pembeli harus membuka fitur “View in 3D” untuk mengetahui itu Micro USB.
Mengapa Micro USB Masih Bertahan?
Jeff Ravencraft dari USB Implementers Forum (USB-IF) menjelaskan beberapa faktor:
- Siklus Pembaruan Panjang: Pesawat terbang dirancang untuk 20-30 tahun, mobil 5-10 tahun. Perubahan ke USB-C membutuhkan waktu.
- Persediaan di Gudang: Mungkin masih banyak HP Sprocket edisi kedua tersimpan di gudang Amazon dan Best Buy.
- Biaya: Meski perbedaan harga Micro USB dan USB-C tidak signifikan, beberapa produsen tetap memilih yang lebih murah.
Harapan dari Regulasi EU
Sejak Desember 2024, Uni Eropa mewajibkan USB-C untuk berbagai perangkat elektronik. Aturan ini mencakup:
- Smartphone
- Tablet
- Headphone
- Konsol game portabel
- Speaker portabel
Sayangnya, aturan ini belum sempurna. Printer seperti HP Sprocket tidak termasuk dalam mandat ini. Demikian juga dengan drone, mikrofon eksternal, smartwatch, dan kacamata pintar.
Solusi Sementara yang Menyebalkan
Victoria akhirnya membeli kabel Micro USB ke USB-C seharga $7 untuk mikrofon Shure MV7 miliknya. “Lebih murah daripada membeli mikrofon baru seharga $280,” katanya. Kisah ini menggambarkan dilema konsumen: membuang perangkat yang masih berfungsi hanya karena port kuno, atau terus bergantung pada kabel adaptor.
Meski frustrasi, Ravencraft meyakinkan bahwa dominasi USB-C hanyalah masalah waktu. Dengan semakin banyak negara mengikuti jejak EU, Micro USB akhirnya akan punah. Tapi untuk saat ini? Simpan saja beberapa kabel Micro USB darurat Anda.