Telset.id – Intel kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di divisi Data Center Group (DCG) meskipun divisi tersebut mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang signifikan. Langkah ini menjadi kejutan karena bisnis pusat data Intel justru mengalami lonjakan permintaan di tengah maraknya adopsi kecerdasan buatan (AI).
PHK terbaru ini menambah panjang daftar pemangkasan karyawan yang sudah terjadi pada 2024 dan 2025. Hingga saat ini, Intel belum mengungkapkan jumlah pasti pekerja yang terdampak, kapan PHK akan efektif, atau detail lainnya. Namun, laporan dari Oregon Live menyebutkan bahwa restrukturisasi ini bertujuan mengurangi kompleksitas organisasi dan membuat divisi data center dapat beroperasi lebih cepat.
Keputusan ini mengejutkan banyak pihak, terutama karena Divisi Data Center Intel saat ini menjadi salah satu unit bisnis dengan performa terkuat. Permintaan perangkat keras pusat data tengah melonjak tinggi, sementara rantai pasokan berada di bawah tekanan besar. Dalam kondisi seperti ini, PHK di sektor yang justru tumbuh pesat menjadi ironi tersendiri.
Intel menyampaikan pernyataan resmi kepada Oregon Live terkait langkah ini. “Sebagai bagian dari strategi yang lebih luas untuk menjadi perusahaan yang lebih fokus dan efisien, (grup data center) sedang menyelaraskan organisasinya untuk memastikan memiliki peran dan keterampilan yang tepat guna memposisikan bisnis untuk kesuksesan jangka panjang,” demikian pernyataan perusahaan.
CEO baru Intel, Lip-Bu Tan, sebelumnya telah memperingatkan akan adanya restrukturisasi tenaga kerja besar-besaran sebagai bagian dari upaya efisiensi organisasi. Hal ini terjadi di tengah latar belakang yang sehat bagi Intel, di mana pendapatan kuartal pertama divisi data center naik 22% year-over-year.
Baca Juga:
Harga saham Intel juga menunjukkan pemulihan dramatis dalam beberapa bulan terakhir berkat dukungan dari pemerintah AS. Dari posisi terendah di bawah $20 sepanjang tahun 2025, harga saham perusahaan kini tumbuh sekitar 5 kali lipat menjadi $105,45 pada saat laporan ini ditulis.
Pertumbuhan ini diprediksi akan berlanjut. Intel dijadwalkan mengumumkan hasil kuartal kedua pada 23 Juli 2026, dengan target pendapatan $13,8 miliar hingga $14,8 miliar, naik dari $13,6 miliar pada kuartal pertama. Pencapaian ini menunjukkan fundamental bisnis Intel yang masih solid meskipun ada gejolak internal.
PHK di divisi data center Intel menjadi perhatian karena sektor ini justru menjadi primadona di era AI. Banyak perusahaan teknologi besar berlomba-lomba membangun infrastruktur pusat data untuk mendukung beban kerja AI. Permintaan prosesor dan chip khusus untuk AI melonjak, dan Intel seharusnya menjadi salah satu pemain utama yang diuntungkan.
Langkah efisiensi yang dilakukan Lip-Bu Tan tampaknya lebih berfokus pada penyederhanaan struktur organisasi daripada pengurangan divisi secara drastis. Hal ini terlihat dari pernyataan Intel yang menekankan pentingnya memiliki peran dan keterampilan yang tepat untuk kesuksesan jangka panjang.
Para analis menilai bahwa PHK ini mungkin merupakan bagian dari transformasi Intel untuk menjadi lebih gesit dalam menghadapi persaingan ketat di pasar prosesor data center. Persaingan dengan AMD dan pemain baru seperti Nvidia yang mulai merambah pasar CPU pusat data semakin memanas.
Nvidia sendiri baru-baru ini mengumumkan Vera CPU monolitik yang siap bersaing langsung dengan Intel dan AMD di segmen pusat data. Langkah ini menunjukkan bahwa persaingan di pasar prosesor data center akan semakin ketat ke depannya.
Sementara itu, Intel juga terus berinovasi dengan menjalin kemitraan strategis. Salah satunya adalah kolaborasi chip keamanan dengan Fortinet yang diberi nama SP6. Kemitraan ini menunjukkan upaya Intel untuk memperkuat portofolio produknya di segmen keamanan siber yang juga mengalami pertumbuhan pesat.
Di sisi lain, tren PHK di industri teknologi bukanlah fenomena baru. Beberapa perusahaan besar seperti Cisco dan Oracle juga telah melakukan pemangkasan karyawan besar-besaran. Cisco memangkas 4.000 pekerja meskipun pesanan AI meningkat, sementara Oracle mengakui telah memotong 21.000 pekerja dan mengaitkannya dengan penerapan teknologi AI.
Langkah efisiensi yang dilakukan Intel juga sejalan dengan tren yang terjadi di banyak perusahaan teknologi lainnya. Meta yang dipimpin Mark Zuckerberg juga menyalahkan biaya AI sebagai penyebab PHK, dengan kemungkinan pemangkasan lebih lanjut. Freshworks dan Coinbase juga mengumumkan PHK besar-besaran dengan AI sebagai faktor utama.
Bagi Intel, PHK ini menjadi tantangan tersendiri. Perusahaan harus menjaga moral karyawan yang tersisa sambil tetap mempertahankan daya saing di pasar yang kompetitif. Di sisi lain, investor tampaknya masih percaya dengan arah baru yang diambil Lip-Bu Tan, terbukti dari kenaikan harga saham yang signifikan.
Intel juga tengah bersiap menghadapi persaingan dari arsitektur prosesor terbaru. AMD misalnya, telah mengumumkan Zen 6 Medusa Point yang diklaim ungguli chip mobile Intel dan AMD. Sementara itu, Intel sendiri tengah mengembangkan Nova Lake Core Ultra 400 yang siap rilis dengan konfigurasi hingga 52-core.
Ketegangan geopolitik juga ikut mempengaruhi lanskap industri semikonduktor. AS baru-baru ini mengancam akan memberikan sanksi kepada perusahaan AI China jika terbukti mencuri kekayaan intelektual. Hal ini menambah ketidakpastian di pasar global yang sudah kompleks.
Meskipun menghadapi berbagai tantangan, fundamental bisnis Intel tetap kuat. Pendapatan divisi data center yang tumbuh 22% year-over-year menunjukkan bahwa produk-produk Intel masih diminati pasar. Harga saham yang pulih 5 kali lipat dari titik terendahnya juga menjadi indikator kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan.
Target pendapatan Intel untuk kuartal kedua 2026 yang mencapai $13,8 miliar hingga $14,8 miliar juga menunjukkan optimisme manajemen terhadap kinerja bisnis ke depan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pendapatan kuartal pertama yang mencapai $13,6 miliar.
PHK di divisi data center Intel menjadi pengingat bahwa bahkan perusahaan dengan kinerja kuat pun harus terus melakukan efisiensi untuk tetap kompetitif. Di era AI yang menuntut kecepatan dan inovasi, kemampuan beradaptasi menjadi kunci kelangsungan bisnis.
Langkah Intel ini juga menunjukkan bahwa transformasi besar seringkali membutuhkan keputusan sulit. Lip-Bu Tan sebagai CEO baru tampaknya tidak ragu untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi efisiensi jangka panjang, meskipun harus menghadapi risiko ketidakpuasan karyawan dan kritik publik.
Ke depannya, Intel perlu menyeimbangkan antara efisiensi operasional dengan kemampuan berinovasi. PHK yang terlalu agresif justru bisa menghambat kemampuan perusahaan untuk mengembangkan produk-produk baru yang dibutuhkan pasar. Namun, jika dilakukan dengan tepat, restrukturisasi ini bisa membuat Intel menjadi lebih gesit dan kompetitif.
Bagi para pekerja di divisi data center Intel, situasi ini tentu menjadi masa-masa yang tidak menentu. Namun, permintaan tenaga kerja di sektor AI dan pusat data yang masih tinggi bisa menjadi peluang bagi mereka yang terdampak PHK untuk beralih ke perusahaan lain.
Intel sendiri berkomitmen untuk melakukan transisi yang sebaik mungkin bagi karyawan yang terdampak. Perusahaan belum merinci paket pesangon atau program transisi karir yang akan diberikan, namun biasanya perusahaan teknologi besar menyediakan dukungan yang memadai bagi karyawan yang terkena PHK.
Keputusan Intel untuk melakukan PHK di divisi data center meskipun kinerjanya moncer menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi. Bahwa kesuksesan bisnis tidak selalu menjamin keamanan kerja, dan perusahaan harus terus beradaptasi dengan perubahan pasar yang cepat.
Dengan target pendapatan yang optimis dan harga saham yang pulih, Intel tampaknya berada di jalur yang tepat untuk bangkit kembali. PHK ini mungkin menjadi bagian dari proses transformasi yang pahit namun perlu dilakukan demi masa depan perusahaan yang lebih cerah.





Komentar
Belum ada komentar.