Telset.id – Inggris mengambil jalur berbeda dari China dan Rusia dalam membangun pesaing SpaceX. Melalui Advanced Research and Invention Agency (ARIA), Inggris mendanai 18 proyek yang bertujuan membangun pesawat untuk menghadirkan komunikasi nirkabel ke wilayah di Inggris dan seluruh dunia yang belum terlayani jaringan terestrial. Program ini menjadi alternatif internet satelit yang bertumpu pada platform udara, bukan konstelasi satelit orbit.
Program tersebut diberi nama Enduring Atmospheric Platforms. Targetnya, satu unit dengan muatan komunikasi 300 watt dapat bertahan di udara dan menjaga posisinya selama sepekan. Unit ini disebut high-altitude pseudo-satellites (HAPS). ARIA mengalokasikan dana 94 juta dolar AS untuk proyek-proyek tersebut selama tiga setengah tahun.
Langkah ini menempatkan Inggris pada posisi yang berbeda dari China dan Rusia yang berlomba membangun pesaing SpaceX. Jika kedua negara itu menempuh jalur satelit, Inggris memilih pendekatan berbasis pesawat untuk menjangkau area yang tidak terlayani jaringan terestrial.
Baca Juga:
Tiga Area Teknis HAPS
Saat ini ada tiga area teknis yang menjadi fokus ARIA. TA1 bertujuan mengembangkan teknologi dasar. TA2 meneliti integrasi dan pengujian sistem yang dikembangkan. Sementara TA3 akan berkonsentrasi pada penerapan sesungguhnya.
Dua startup telah mengusulkan sistem drone berganda yang akan mencakup seluruh wilayah Inggris. Carousel, oleh Menapia, ingin membangun konstelasi yang dapat melayang di ketinggian hingga 12 mil. Sementara Enduring Drone Networks, oleh VFP Aerospace, mengusulkan relai unit yang secara otomatis terbang kembali ke stasiun darat untuk pengisian daya dan perawatan, dengan biaya sekitar 67.000 dolar AS per drone.
Dua proposal lain mengusulkan daya nirkabel. Scalable Laser Ltd mengerjakan teknologi berbasis laser yang memasangkan dioda laser berdaya tinggi di darat dengan penerima fotovoltaik canggih di udara. Di sisi lain, Space Solar Engineering Ltd ingin menggunakan frekuensi radio, seperti gelombang mikro, untuk mengirimkan daya ke unit udara.
Ada pula pendekatan yang lebih baru dari University of Bath. Kampus itu berencana memanfaatkan gelombang gravitasi atmosfer, yakni memakai pergerakan udara ke atas yang disebabkan front cuaca dan fitur geografis serta tarikan gravitasi yang membawanya kembali turun, untuk memperluas jangkauan dan daya tahan pesawat HAPS.
Pernyataan ARIA dan Konteks Global
Direktur program ARIA, Rico Chandra, menyatakan bahwa riset ini memperluas kepemimpinan Inggris di platform ketinggian tinggi. “Getting there means backing bold ideas, from fixed-wing solar aircraft to designs nobody predicted, including aircraft that fly on spinning wings instead of propellers,” ujarnya.
Pendekatan berbasis pesawat ini menjadi alternatif bagi wilayah yang belum terlayani jaringan terestrial. Pengembangan HAPS menambah opsi teknologi komunikasi di luar konstelasi satelit yang kini banyak dikerjakan negara lain.
Konteks industri menunjukkan sejumlah pengembangan terkait. Pengisian daya OTA nirkabel dengan laser disebut dapat menjaga drone tetap di udara tanpa batas. Di Jepang, tanda hidran kebakaran dengan antena Starlink diuji untuk Wi-Fi darurat di wilayah rawan bencana. Eropa juga memperluas pesaing Starlink miliknya menjadi 348 satelit saat IRIS² bergerak melewati tahap perencanaan dan negosiasi menuju implementasi.
Perkembangan lain datang dari Rusia, di mana pesaing Starlink-nya terpuruk setelah seluruh batch satelit gagal mencapai ketinggian operasional. Sementara itu, Elon Musk merilis kit residensial Starlink V5 yang lebih kecil dan ringan.
Di sisi lain, Angkatan Laut Inggris disebut memiliki sea drone yang mengandung komponen yang diam-diam mengirim data ke China. Isu keamanan perangkat juga mencuat dari riset lain, termasuk pembobolan Find My Apple menggunakan Linux yang membuat data lokasi bocor.
Pendanaan ARIA untuk 18 proyek Enduring Atmospheric Platforms menegaskan arah Inggris yang memilih platform atmosferik sebagai basis komunikasi nirkabel. Dengan alokasi 94 juta dolar AS selama tiga setengah tahun dan target unit bermuatan 300 watt yang bertahan sepekan di udara, program ini menjadi alternatif konkret bagi internet satelit di wilayah yang belum terlayani jaringan terestrial.
Ketiga fokus teknis, mulai dari pengembangan teknologi dasar hingga penerapan, menunjukkan bahwa pendekatan ini masih dalam tahap riset dan pengujian. Berbagai usulan dari Carousel, Enduring Drone Networks, Scalable Laser Ltd, Space Solar Engineering Ltd, hingga University of Bath memperlihatkan ragam pendekatan untuk menjaga unit HAPS tetap beroperasi dalam jangka panjang.
Bagi pasar Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa opsi konektivitas berbasis udara terus diuji di berbagai negara. Namun, seluruh informasi yang tersedia masih terbatas pada tahap pendanaan dan proposal proyek, tanpa keterangan lebih lanjut mengenai jadwal komersialisasi maupun ketersediaan di luar Inggris.






Komentar
Belum ada komentar.