Industri Telekomunikasi Indonesia Diambang Kejenuhan

Jakarta – Tidak adanya batas yang jelas antara pemain seluler dan Fixed Wireless Access (FWA) dituding sebagai biang mulai jenuhnya sektor industri telekomunikasi di Indonesia.

Demikian diungkapkan Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Indonesia Johnny Swandi Sjam kepada wartawan, di Jakarta, Selasa (15/3).

Akibat tidak adanya batasan tersebut, membuat salah satu operator FWA posisinya kian terjepit. Indikasinya dapat dilihat dari RPM (Revenue Per Minute) seluler yang terus mulai menyamai FWA. Ini berarti pasar yang tadinya milik FWA telah diambil operator seluler, jelas Johnny.

Para operator FWA sendiri, diakui Johnny, tidak bisa berbuat banyak. Karena juga terkait soal keterbatasan frekuensi yang menjadi kendala bagi operator dengan lisensi, Akibatnya mereka sekarang bermain di sektor yang belum mengalami kejenuhan, yakni layanan data, tuturnya.

Lebih jauh diterangkannya, walaupun saat ini trafik tiap operator mengalami kenaikan eksponensial dan kapasitas jaringan terisi penuh, namun teledensitas yang tinggi membuat sektor ini memasuki masa kejenuhan. Imbasnya, revenue mulai terus tertekan pertumbuhannya, keluh dia.

Johnny mengungkapkan, tahun 2010 lalu industri telekomunikasi di Indonesia diperkirakan memiliki penetrasi hingga 84,3% atau bisa menjual sebanyak 204,8 juta kartu SIM. Angka itu, menurutnya, mengalami kenaikan sekitar 8 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya, dengan tingkat penetrasi 76,3 persen dari total jumlah penduduk 240 juta jiwa, dengan penjualan sekitar 183,27 juta kartu SIM.

Kalau dilihat dari sisi trafik memang terjadi kenaikan, tapi karena penetrasi yang sangat tinggi dari para operator seluler, mengakibatkan industri mulai memasuki masa kejenuhan, tukasnya.

Johnny pun memberi solusi, saat ini diperlukan regulator yang kuat dalam memantau atau mengawasi persaingan usaha serta menata ulang industri ini agar tidak ada lagi satu pihak yang merasa dirugikan posisinya.

Dia juga menghimbau agar para operator mau bersaing secara sehat, khususnya dalam hal  berpromosi. Sebaiknya dalam berpromosi, semua operator bisa saling menguntungkan, bukannya malah saling serang, karena hanya akan smerugikan operator itu sendiri dan juga merugikan pelanggannya, saran Johnny. [hbs]{jcomments on}

Previous articleOlympus TG 810, Kamera sang Petualang
Next articleInternet Explorer 9, Diluncurkan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here