Ilmuwan NASA Ingin Tanam Lobak di Bulan

NASA Tanam Lobak di Bulan

Telset.id, Jakarta – Ilmuwan NASA sedang mencari cara agar lobak bisa tumbuh di Bulan. Mereka memulai eksperimen di rumah untuk mendapatkan ide bagaimana manusia bisa makan saat kembali menjelajah Bulan.

Sekadar informasi, NASA ingin mewujudkan misi kembali ke Bulan pada 2024 mendatang. Para ilmuwan melakukan yang terbaik untuk belajar bagaimana menumbuhkan sayuran dan buah-buahan di dunia selain Bumi.

{Baca juga: NASA Rilis Timelapse 10 Tahun Matahari [VIDEO]}

Mereka beranggapan bahwa umat manusia akan perlu mendirikan “toko” di Bulan atau Mars. Dengan kata lain, manusia bakal membutuhkan sesuatu untuk dimakan. Satu di antaranya adalah sayur bernama lobak.

Mengingat sekarang masih pandemi virus corona, para ilmuwan terpaksa melakukan eksperimen di rumah. Mereka membuktikan bahwa bekerja dari rumah tidak menghambat upaya untuk menguji tanaman di tanah berbeda.

“Kami berusaha menunjukkan bahwa astronot dapat menggunakan hortikultura untuk menanam makanan di bulan,” kata ilmuwan NASA, Max Coleman, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Kamis (23/7/2020).

“Kami ingin melakukan langkah kecil ke arah itu untuk menunjukkan bahwa tanah di Bulan mengandung hal-hal yang bisa diekstraksi sebagai nutrisi tanaman, termasuk mendapatkan unsur kimia tepat,” imbuhnya.

{Baca juga: NASA Pakai Robot Uap Jelajahi Bulan Es Markas Alien}

Satu kunci untuk menyempurnakan seni menanam tanaman di tanah Bulan adalah menentukan secara tepat berapa banyak air yang dibutuhkan. Idealnya, para ilmuwan bisa menggunakan air sesedikit mungkin.

Sebelumnya, NASA dikabarkan akan menggunakan robot bertenaga uap untuk menjelajahi Bulan Es tempat alien bermukim. Nantinya, tenaga uap berfungsi untuk menggerakkan robot uap di bulan es tata surya.

Jet Propulsion Laboratory NASA mengatakan, para peneliti mengembangkan robot berukuran bola-bola yang dikenal sebagai SPARROW. Ia akan melintasi medan es di Bulan Jupiter, Saturnus, Europa, Enceladus.

“Medan di Europa kemungkinan sangat kompleks. Bisa saja keropos, bisa pula penuh celah, atau mungkin ada bilahes tinggi,” kata Gareth Meirion-Griffith, ahli robotik JPL dan peneliti utama konsep tersebut.

Menurut laporan New York Post, SPARROW memiliki agnostisisme medan total serta kebebasan penuh untuk melakukan perjalanan melintasi medan tidak ramah. [NM/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here