📑 Daftar Isi

Ilustrasi human error sebagai ancaman utama keamanan siber menurut survei Kaseya

Human Error Jadi Ancaman Utama Keamanan Siber, 68% Profesional Khawatir

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Kaseya terhadap 1.100+ MSP dan profesional IT ungkap human error jadi ancaman utama
  • 68% responden khawatir human error, 55% serangan email, 41% gullibility, 40% kurang pelatihan
  • 80% faktor insiden keamanan terkini berasal dari praktik pengguna buruk
  • Hanya 20% departemen IT punya anggaran tumbuh seiring risiko, 77% kekurangan sumber daya
  • Kaseya dorong pendekatan cyber resilience yang memperhitungkan kesalahan manusia

Telset.id – Human error masih menjadi tantangan terbesar dalam keamanan siber. Survei terbaru Kaseya terhadap lebih dari 1.100 MSP dan profesional IT di seluruh dunia mengungkap bahwa 68% responden menilai kesalahan manusia sebagai vektor serangan yang paling mengkhawatirkan dalam 12 bulan ke depan. Angka ini jauh melampaui kekhawatiran terhadap serangan berbasis email yang disebut 55% responden.

Temuan ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber semakin menyasar celah yang bersifat “lunak”, bukan sekadar menyerang perangkat keras jaringan atau server. Kesalahan manusia, termasuk social engineering dan distraksi, dianggap lebih berbahaya dibanding serangan otomatis terhadap infrastruktur teknologi. Organisasi pun dituntut untuk menyadari bahwa manusia membutuhkan perlindungan sebagaimana data yang mereka kelola.

Survei Kaseya juga mencatat bahwa 80% faktor penyebab dalam insiden keamanan terkini dapat dilacak kembali ke praktik pengguna yang buruk atau minimnya pelatihan. Setelah risiko human error, social engineering, dan distraksi, sebanyak 55% responden mengaku khawatir terhadap serangan melalui email. Sementara itu, sifat mudah tertipu atau gullibility juga dianggap sebagai risiko oleh 41% responden, dan kurangnya pelatihan keamanan siber bagi pengguna disebut oleh 40% responden.

Hands on a laptop with overlaid logos representing network security

Audit kepatuhan ternyata bukan jawaban yang selalu memadai. Dari mereka yang disurvei, 65% menyatakan akan lulus audit kepatuhan hari ini, namun 49% mencatat bahwa dokumentasi dan prosedur yang tidak lengkap dapat menimbulkan masalah. Kondisi ini memperlihatkan adanya jarak antara status kepatuhan formal dan kesiapan operasional yang sesungguhnya.

Hanya 20% Departemen IT Punya Anggaran Seiring Risiko

Yang tak kalah mengkhawatirkan, hanya 20% departemen IT yang memiliki anggaran dengan pertumbuhan sejalan dengan risiko yang mereka hadapi. Sebanyak 77% di antaranya menggambarkan diri mereka sebagai kekurangan sumber daya. Artinya, meski risiko meningkat, dukungan finansial dan personel tidak selalu mengikuti.

David Baggett, SVP dan GM of Security Suite di Kaseya, menyatakan bahwa manusia memang tidak sempurna dan semua orang mengetahuinya. “People aren’t perfect, and everyone knows it,” ujarnya. Namun, ia menekankan bahwa sebagian besar keamanan siber masih bergantung pada manusia untuk membuat keputusan yang tepat setiap saat.

Baggett menambahkan bahwa human error tampaknya akan terus ada. Menurutnya, solusinya bukan sekadar menghilangkan kesalahan, melainkan membangun organisasi yang mampu bertahan menghadapinya. “The path to true cyber resilience isn’t about eliminating mistakes. It’s about building an organisation that can withstand them. Expect mistakes, account for constraints and engineer around them,” jelasnya.

Sejalan dengan pandangan tersebut, Kaseya menekankan pentingnya membangun sistem dan praktik keamanan yang tahan terhadap kesalahan. Pendekatan ini menggeser fokus dari sekadar mencegah human error menjadi merancang ketahanan yang memperhitungkan keterbatasan dan kesalahan pengguna. Untuk memahami bagaimana insiden siber dapat berdampak besar, simak laporan mengenai Serangan Oracle PeopleSSL yang mengakibatkan kebocoran data besar-besaran.

Riset Kaseya ini menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap human error bukanlah tanpa dasar. Pelaku kejahatan memahami bahwa manusia dapat membuat kesalahan, dan organisasi perlu berada pada halaman yang sama untuk mengantisipasinya. Sebelumnya, TechRadar juga melaporkan bahwa semakin banyak pekerja yang merasa stres di tempat kerja akibat risiko keamanan, serta bahwa karyawan, bukan aktor ancaman, menjadi risiko terbesar pada 2026.

Malware attack virus alert , malicious software infection , cyber security awareness training to protect business

Dalam konteks pelatihan dan kesadaran pengguna, pendekatan yang menempatkan manusia sebagai bagian dari solusi menjadi relevan. Sejumlah inisiatif aplikasi yang berfokus pada interaksi antarindividu, seperti People Sense, memperlihatkan bagaimana teknologi dapat dirancang untuk memengaruhi perilaku pengguna. Namun, untuk keamanan siber, pelatihan dan prosedur yang jelas tetap menjadi kunci.

Survei Kaseya terhadap lebih dari 1.100 MSP dan profesional IT ini menegaskan bahwa tantangan terbesar keamanan siber saat ini bukanlah semata teknologi, melainkan perilaku manusia. Dengan 68% responden mengkhawatirkan human error, 55% khawatir serangan email, 41% menyoroti gullibility, dan 40% menyebut kurangnya pelatihan, fokus pada manusia menjadi prioritas yang tak terhindarkan. Di sisi lain, hanya 20% departemen IT yang anggarannya tumbuh seiring risiko, sementara 77% merasa kekurangan sumber daya.

Kesimpulan dari temuan ini adalah bahwa ketahanan siber yang sesungguhnya tidak dibangun dengan mengasumsikan manusia selalu sempurna. Sebaliknya, organisasi perlu memperhitungkan kesalahan, keterbatasan, dan merancang sistem yang mampu bertahan ketika kesalahan itu terjadi. Human error tetap menjadi tantangan, dan solusinya menuntut pendekatan yang menggabungkan teknologi, pelatihan, serta kesadaran bahwa manusia adalah bagian tak terpisahkan dari pertahanan keamanan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.