Google Jangan Ikut-ikutan ‘Bandel’ Seperti RIM

Jakarta – Matinya layanan email BlackBerry pada akhir pekan lalu dinilai telah merugikan pengguna BlackBerry di tanah air. Karena untuk mengatasinya, Research In Motion (RIM) butuh waktu cukup lama sekitar 4 jam. Seandainya RIM memiliki server di Indonesia, tentulah untuk mengatasinya bisa lebih cepat.

Begitulah akibatnya kalau server RIM tidak di Indonesia. Kalau ada masalah, kita tidak bisa langsung mengatasinya karena semua dikontrol dari server di Kanada, ketus Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto kepada Telsetnews di Jakarta, Selasa (3/4).

Disebutkannya, para pengguna BlackBerry di Indonesia juga merasakan penurunan kualitas layanan milik vendor asal Kanada tersebut. Banyak pengguna BlackBerry yang mengeluh layanan BlackBerry tambah lemot. Dan yang paling parah seperti kemarin, layanan email-nya mati, terang Gatot.

Ia mengungkapkan, masalah gangguan yang seringkali terjadi di layanan  BlackBerry, tidak melulu karena kesalahan jaringan operator. Karena sebenarnya tanggungjawab juga ada di pihak RIM. Namun seperti yang sering terjadi selama ini, jika ada masalah, para operator tidak bisa berbuat apa-apa, karena server-nya berada di luar Indonesia.

Biasanya kalau ada masalah pada layanan BlackBerry, yang ketiban sial dimaki-maki para pelanggan adalah operator. Padahal yang bermasalah sebenarnya ada di jaringan atau server RIM di Kanada, imbuhnya.

Hal ini bisa terjadi karena selama ini posisi para operator di Indonesia hanya dipakai sebagai pipa penyalur trafik jaringan saja. Sementara untuk semua kendali layanannya dilakukan melalui server RIM yang ada di Kanada. Padahal jika RIM memiliki server di Indonesia, maka proses untuk membetulkannya bisa menjadi lebi cepat.

Oleh sebab itu, tutur Gatot, pemerintah dari dulu sudah mendesak RIM membangun data center-nya di Indonesia. Kalau server-nya di sini, kita bisa lebih cepat mendeteksi kerusakannya, dan proses recovery-nya juga bisa dilakukan lebih cepat, ucapnya.

Kominfo berharap, nanti dengan disahkannya RPP Penyelengaraan Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka sudah tidak ada lagi yang membandel soal syarat membuka data center di Indonea. Ya kami minta Google juga jangan ikut-ikutan bandel seperti RIM, tandasnya. [hbs]

 

 

Previous articleKominfo: Soal Data Center, Pilih Dipatuhi atau Dilanggar
Next articleCall Center 111 dan 128 KartuHALO Berubah Jadi 133

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here