Telset.id ā Google Threat Intelligence Group (GTIG) resmi mengumumkan perubahan besar dalam sistem pelacakan kelompok peretas. Raksasa teknologi itu akan mengganti identitas lama yang diwarisi dari dua tim berbeda dengan nama samaran (cryptonym) dua kata yang lebih intuitif.
Langkah ini mulai diterapkan pada beberapa lusin kelompok yang paling sering dilacak oleh Google. Sistem baru ini dirancang untuk membantu tim keamanan lebih cepat memahami asal-usul dan motivasi di balik serangan siber.
Sebelumnya, Google menggunakan pengidentifikasi berurutan seperti APT1. Pendekatan itu dinilai tidak informatif karena angka tidak memberikan petunjuk apa pun tentang siapa pelaku di balik serangan. Google kini beralih ke skema yang lebih mudah dipahami.
Dalam sistem baru ini, setiap kelompok peretas mendapatkan sepasang kata. Kata pertama bersifat unik dan mudah diingat. Apabila komunitas keamanan sudah memiliki julukan yang mapan untuk suatu kelompok, Google akan mempertahankannya. Jika belum ada, kata pertama akan dihasilkan secara acak untuk menghilangkan bias, lalu diperiksa oleh analis sebelum digunakan.
Kata kedua berfungsi sebagai pengkategorian. Kata ini mengelompokkan klaster berdasarkan motivasi, atribusi, atau jenis aktivitas. Google telah menerbitkan tabel contoh yang memetakan CASTLE untuk kelompok yang terkait dengan Republik Rakyat Tiongkok, ION untuk Iran, NEPTUNE untuk Korea Utara, RELIC untuk Rusia, dan COMET untuk penjahat bermotif finansial yang tidak terlihat terkait dengan negara tertentu.

Salah satu contoh yang sudah muncul ke publik adalah Sandworm, kelompok peretas militer Rusia yang dikenal luas di industri keamanan. Dengan skema baru Google, kelompok ini kini disebut Sandworm Relic. Ini menjadi satu-satunya nama baru yang telah muncul ke publik dari Google sejauh ini.
Baca Juga:
Alasan di Balik Perubahan Sistem Penamaan
Langkah ini merupakan bagian dari integrasi pasca akuisisi Mandiant senilai $5,4 miliar pada tahun 2022. Google kemudian menggabungkan Mandiant dengan Threat Analysis Group (TAG) internalnya untuk membentuk GTIG. Penggabungan ini membawa dua sistem pelacakan yang telah berkembang secara independen selama bertahun-tahun.
Akibatnya, aktivitas yang sama bisa muncul di bawah dua label Google yang berbeda, tergantung tim mana yang menulis laporan. Situasi ini membingungkan bagi para pembela keamanan siber yang mencoba melacak ancaman secara konsisten.
Pendekatan Google ini sangat mirip dengan praktik lama CrowdStrike yang memasangkan istilah unik dengan hewan yang dikaitkan dengan negara atau motif. CrowdStrike menggunakan PANDA untuk Tiongkok, BEAR untuk Rusia, SPIDER untuk penjahat, dan JACKAL untuk hacktivis. Google hanya mengganti hewan-hewan tersebut dengan kata-kata seperti CASTLE dan NEPTUNE.
Google bukanlah perusahaan pertama yang mencoba pendekatan ini. Microsoft telah menggunakan sistem penamaan berdasarkan cuaca. Sementara itu, negara-negara seperti Tiongkok secara terbuka membantah atribusi yang ada di balik label-label tersebut.
Dampak bagi Industri Keamanan Siber
Langkah Google untuk merampingkan nama-nama ancaman bisa membuat segalanya lebih sederhana jika sistem ini diadopsi oleh seluruh industri. Namun, ada risiko bahwa langkah ini justru menambah kebingungan di tengah industri yang belum sepenuhnya sepakat pada standar tertentu.
Google dan Mandiant telah menandatangani upaya pemetaan alias bersama Microsoft dan CrowdStrike pada Juni 2025. Audit VPN Mobile sebelumnya menunjukkan bahwa konsistensi dalam pelabelan ancaman sangat penting bagi efektivitas pertahanan. The Register melaporkan bahwa sumber saat itu mengindikasikan kedua perusahaan tertarik untuk mengadopsi skema yang dipimpin Microsoft. Namun, pengumuman pekan lalu tidak menyebutkan hal tersebut.
Terlepas dari niat baik Google, para pembela keamanan tetap harus mempelajari satu sistem lagi. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi tim keamanan yang sudah harus memahami berbagai skema penamaan dari berbagai vendor.
Perubahan sistem penamaan ini menegaskan bahwa industri keamanan siber masih terus mencari cara terbaik untuk mengkategorikan dan melacak ancaman. Meskipun belum ada standar yang disepakati secara universal, setiap langkah menuju konsistensi dianggap sebagai perkembangan positif.
Dengan sistem baru ini, Google berharap dapat memberikan informasi yang lebih berguna kepada para profesional keamanan. Informasi tentang asal-usul dan motivasi kelompok peretas menjadi lebih mudah diakses tanpa harus menghafal kode angka yang tidak bermakna.





Komentar
Belum ada komentar.