📑 Daftar Isi

Ilustrasi robot humanoid dengan teknologi AI dari startup Generalist yang meraih pendanaan besar

Generalist Raup Pendanaan Hampir Rp3 Triliun, Valuasi Tembus USD 3 Miliar

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Generalist, startup robotika, kini bernilai USD 3 miliar setelah mengantongi tambahan modal hampir USD 200 juta yang dipimpin 8VC
  • Total pendanaan Seri B mencapai USD 600 juta, merupakan perpanjangan dari putaran USD 400 juta yang diumumkan Juni lalu dengan valuasi USD 2 miliar
  • Didirikan 2024 oleh mantan peneliti Google DeepMind Pete Florence dan Andy Zeng serta mantan insinyur Boston Dynamics Andrew Barry
  • Dukungan awal dari 8VC, Radical Ventures, Nvidia, Union Square Ventures, Bezos Expeditions, dan Fei-Fei Li
  • Model AI Gen 1.5 diklaim mampu melatih robot dari demonstrasi video 3-12 detik
  • Pesaing: Physical Intelligence (USD 11 miliar), Skild AI (USD 14 miliar), Genesis AI (USD 3 miliar)
  • Investor yakini robotika akan mencapai "momen ChatGPT", namun VC memperingatkan model generalis masih butuh bertahun-tahun

Telset.id – Startup robotika Generalist kini dibanderol dengan valuasi USD 3 miliar atau sekitar Rp48 triliun setelah mengantongi tambahan modal hampir USD 200 juta. Putaran pendanaan tambahan ini dipimpin oleh 8VC dan tercatat dalam sebuah dokumen regulasi, menjadikan total pendanaan Seri B perusahaan mencapai USD 600 juta.

Tambahan modal ini merupakan perpanjangan dari Seri B senilai USD 400 juta yang diumumkan pada Juni lalu dengan valuasi USD 2 miliar. Putaran awal tersebut dipimpin oleh Radical Ventures. Kini, dengan suntikan dana segar, Generalist berhasil meningkatkan valuasinya secara signifikan dalam waktu singkat. Informasi ini diungkapkan oleh dua orang yang memiliki pengetahuan langsung tentang pendanaan tersebut.

Generalist didirikan pada tahun 2024 oleh mantan peneliti Google DeepMind, Pete Florence dan Andy Zeng, bersama mantan insinyur Boston Dynamics, Andrew Barry. Sejak awal, startup ini mendapat dukungan dari 8VC dan Radical Ventures, serta Nvidia, Union Square Ventures, Bezos Expeditions, dan peneliti AI Fei-Fei Li. Hingga saat ini, Generalist dan 8VC belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kabar pendanaan tersebut.

Model AI untuk Berbagai Robot

Hingga saat ini, startup yang berdiri kurang dari dua tahun itu beroperasi secara senyap tanpa banyak publisitas. Fokus utama Generalist adalah mengembangkan model fondasi AI yang dapat bekerja dengan berbagai jenis robot. Klaim utama perusahaan adalah model terbarunya, Gen 1.5, memungkinkan robot menguasai tugas baru hanya dari demonstrasi video berdurasi 3 hingga 12 detik.

Kemampuan ini menjadi pembeda utama Generalist di tengah kompetisi industri robotika yang semakin ketat. Startup ini dikabarkan telah bekerja sama dengan sejumlah pelanggan dan menggunakan umpan balik mereka untuk menyesuaikan model AI agar sesuai dengan kebutuhan spesifik di berbagai kasus penggunaan, menurut salah satu sumber.

Persaingan di sektor ini memang tidak main-main. Generalist bukan satu-satunya pemain yang berupaya menciptakan “otak” untuk berbagai jenis robot. Para pesaingnya termasuk Physical Intelligence yang dilaporkan bernilai USD 11 miliar, Skild AI yang didukung SoftBank dengan valuasi USD 14 miliar, serta Genesis AI yang dikabarkan sedang dalam pembicaraan untuk menggalang dana dengan valuasi USD 3 miliar pada bulan lalu.

Momentum “ChatGPT” untuk Robotika

Gelombang pendanaan besar-besaran di sektor robotika mencerminkan keyakinan sejumlah investor bahwa industri ini mungkin akan segera mencapai “momen ChatGPT” sendiri. Artinya, robot akan mampu melakukan tugas-tugas umum tanpa perlu dilatih secara khusus untuk setiap pekerjaan. Ini adalah visi yang sama dengan yang diusung Generalist melalui model AI-nya.

Namun, ada catatan penting dari para venture capitalist. Berbeda dengan model bahasa besar (LLM) yang bisa dilatih menggunakan data dari seluruh internet, robot tidak bisa dilatih dengan cara yang sama. Keterbatasan data ini membuat beberapa VC memperingatkan bahwa model robotika yang benar-benar generalis mungkin masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terwujud.

Kendati demikian, lonjakan valuasi Generalist menunjukkan optimisme pasar terhadap masa depan robotika. Kehadiran investor-investor besar seperti Nvidia dan Bezos Expeditions di awal pendanaan menandakan keyakinan kuat pada potensi teknologi yang dikembangkan startup ini. Dengan modal segar yang masuk, Generalist kini memiliki sumber daya lebih untuk mengembangkan model Gen 1.5 dan memperluas basis pelanggannya.

Perkembangan Generalist ini juga menarik untuk dicermati di tengah dinamika industri robotika global. Beberapa waktu lalu, Uber memutuskan menjual seluruh sahamnya di Serve Robotics, sebuah perusahaan robot kurir, yang menandai perubahan strategi di sektor ini. Sementara itu, pemain lain seperti Qualcomm juga tengah berupaya menunjukkan kemampuan robot mereka di panggung publik.

Fokus Generalist pada model AI yang fleksibel dan adaptif menjadi strategi yang berbeda dari pendekatan kebanyakan perusahaan robotika yang membangun robot khusus untuk tugas tertentu. Dengan pendekatan ini, Generalist berharap dapat menjadi pemain kunci dalam ekosistem robotika masa depan di mana satu model AI dapat mengendalikan berbagai jenis robot untuk berbagai keperluan.

Ke depannya, keberhasilan Generalist akan sangat bergantung pada kemampuan mereka membuktikan bahwa model Gen 1.5 benar-benar dapat bekerja secara efektif di lingkungan nyata. Umpan balik dari pelanggan awal akan menjadi tolok ukur penting untuk pengembangan model selanjutnya. Jika berhasil, Generalist berpotensi mengubah cara industri memandang pengembangan robotika.

Investasi besar dari para pemain ternama seperti Nvidia dan Bezos Expeditions juga memberikan sinyal kuat bahwa teknologi yang dikembangkan Generalist dianggap memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan. Dengan valuasi yang kini mencapai USD 3 miliar, Generalist menempatkan diri mereka di antara perusahaan robotika paling bernilai di dunia.

Meski demikian, tantangan teknis masih membayangi. Para ahli memperingatkan bahwa menciptakan model AI yang benar-benar generalis untuk robot adalah pekerjaan yang jauh lebih kompleks dibandingkan melatih model bahasa. Data fisik dari dunia nyata tidak semudah data teks yang melimpah di internet. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Generalist dan para pesaingnya.

Untuk saat ini, Generalist terus bergerak maju dengan modal segar yang mereka peroleh. Perusahaan berencana menggunakan dana tersebut untuk mengembangkan teknologi, memperluas tim, dan menjangkau lebih banyak pelanggan. Dengan dukungan investor kelas dunia, Generalist berada di posisi yang kuat untuk terus bersaing di industri robotika yang semakin kompetitif.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.