telset

‘Gaptek’ Jadi Hambatan E-Commerce di Indonesia

Jakarta – Teknologi informasi dan komunikasi kian berkembang dengan cepat sehingga memaksa manusia untuk mengubah cara hidupnya. Salah satu aspek yang dipengaruhi akibat perkembangan teknologi informasi (IT) adalah ranah ekonomi.

Dengan adanya perkembangan IT, pembeli dan penjual tidak perlu bertatap muka, atau yang lebih dikenal dengan e-commerce. Layanan e-commerce dapat diterapkan apabila Enterprise Resource Planning (ERP) perusahaan sudah mantap.

“ERP itu lebih baik di dalam perusahaan. Nanti kalau ERP sudah berjalan, tumbuh yang namanya Customers Relationship Management (CRM). Bila CRM juga sudah dijalankan, jadilah e-commerce,” ujar Prof. Richardus Eko Indrajit, Ketua Umum Aptikom sekaligus praktisi teknologi Informasi dan seorang akademisi saat ditemui telsetNews di Jakarta, Rabu (5/9).

Ia menjelaskan, bila perusahaan sudah siap, pelanggan tidak akan segan untuk memanfaatkan e-commerce. Dengan mempertemukan penjual dengan pembeli lewat dunia maya, proses jual-beli menjadi lebih singkat.

Menurutnya, harga yang diberikan juga jauh lebih murah karena tidak perlu menyewa gudang atau toko fisik. Kemudahaan ini dapat dinikmati oleh pembeli, baik dari segi harga ataupun proses pembelian. Tetapi ada pihak yang merasa dirugikan akibat putusnya rantai distrisbusi.

“Penerapan e-commerce tidak akan membunuh toko tradisional. Dengan adanya e-commerce, mereka harus melakukan transformasi industri, seperti yang saat ini terjadi di Amerika Serikat (AS),” paparnya

Menurut pengamatannya, jumlah pengangguran di AS tidak sejalan dengan pertumbuhan IT-nya. Dengan penerapan IT, banyak orang yang memerlukan komputer sehingga meningkatkan produksi komputer.

Di Indonesia sendiri, toko online sudah banyak bermunculan, namun penetrasinya belum merata. Hambatan yang ditemui pada penerapan toko online di Indonesia adalah karena generasi lama (tua) masih banyak yang “gaptek” (gagap teknologi).

“Bagi anak muda yang lahir di era informasi, jualan toko online lebih gampang karena mereka paham lebih awal. Tapi uangnya dipegang oleh generasi yang tua,” sebut Eko.

Mengenai prediksi penerapan e-commerce, pakar IT ini pun melihat tren yang terjadi di Indonesia. Sejalan dengan tumbuhnya IT, bisnis e-commerce akan berkembang dengan sendirinya. Kuncinya terletak pada perangkat ponsel yang digunakan.

“Kalau lewat PC atau notebook, penggunanya masih jarang. Karena postur kita ini postur handphone. Jadi akan tumbuh secara alami,” ungkapnya. “Yang dibutuhkan untuk menerapkan e-commerce di Indonesia adalah dengan menciptakan lingkungan yang mendukung,” tambah dia.

Masyarakat harus dipaksa untuk memanfaatkan IT, dan juga memberikan solusi agar pembeli tidak diberikan pilihan cara pembayaran.  “Bayangkan kalau semua bioskop sudah tidak ada loketnya lagi, pasti orang akan beli lewat handphone. Enviroment-nya harus dipaksa pakai e-commerce lewat desain,” jelas pakar IT ini.[lkh/hbs]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0