Pakai Facial Recognition, Polisi Malah Salah Tangkap

facial recognition salah tangkap

Telset.id, Jakarta  – Gara-gara sistem pengenalan wajah atau facial recognition, polisi lagi-lagi melakukan salah tangkap. Polisi keliru mencokok pelaku pencurian, yang sejatinya adalah warga biasa.

Saat ini, negara-negara seperti China dan Amerika Serikat (AS) memang telah menerapkan teknologi facial recognition atau pengenalan wajah untuk membantu penegakan hukum. Tak sedikit sistem tersebut bekerja secara efektif.

{Baca juga: Amazon Larang Polisi Pakai Pengenalan Wajah}

Namun begitu, hal serupa tak berlaku di Detroit, AS. Seperti dilansir Ubergizmo, polisi di wilayah setempat salah tangkap seorang pria yang diduga sebagai tersangka dalam kasus pencurian mobil.

Dikutip Telset.id, Minggu (12/7/2020), awalnya polisi mendeteksi berdasarkan hasil rekaman kamera pengintai ketika tersangka sedang membobol sebuah mobil dan mencuri telepon yang ada di dalamnya.

Ketika teknologi pengenalan wajah digunakan untuk menganalisis video tersebut, polisi akhirnya mendapati Michael Oliver sebagai tersangka. Hasil rekaman video juga sempat diperlihatkan kepada korban.

Tanpa butuh waktu lama, Oliver pun ditangkap. Namun, ia bersikeras tidak melakukan pencurian. Ia bahkan berulangkali mengatakan kepada polisi bukanlah orang yang sama dengan yang ada di rekaman.

Setelah melalui proses pembuktian, Oliver memang bukan pencuri itu. Oliver memiliki tato di lengan, sedangkan sang pencuri yang ada dalam video tidak. Kasus ini pun dihentikan oleh hakim dari kejaksaan.

Beberapa waktu lalu, Robert Williams, pria kulit hitam berusia 42 tahun, juga jadi korban salah tangkap di Detroit, gara-gara kesalahan perangkat lunak sistem pengenalan wajah yang digunakan polisi.

{Baca juga: Facial Recognition Pulangkan Anak yang Diculik 32 Tahun Lalu}

Williams ditahan di depan istri dan dua putrinya berusia dua tahun dan lima tahun pada Januari 2020 lalu. American Civil Liberties Union bersikap dan menyebut bahwa polisi telah melakukan kesalahan.

Teknologi facial recognition memang masih menjadi perdebatan. Beberapa waktu lalu Microsoft meminta  pemerintah Amerika Serikat (AS) untuk mengkaji ulang pemberlakuan aturan teknologi Facial Recognition.

Ini perlu dilakukan menyusul banyaknya pemakaian teknologi tersebut di Industri. Dilaporkan CNBC, teknologi Facial Recognition cukup efektif dipakai untuk membantu meningkatkan keamanan perusahaan.

Akan tetapi, ada hal yang berpotensi melanggar dalam penggunaan Facial Recognition. Pelanggaran tersebut berkaitan dengan privasi publik. Teknologi itu bahkan bisa disalahgunakan.

{Baca juga: Microsoft Minta AS Kaji Ulang Regulasi Facial Recognition}

Smith, eksekutif di Microsoft, mengatakan bahwa pemerintah sebaiknya mengkaji ulang regulasi mengenai Facial Recognition. Pemerintah bisa meminta masukan dari perusahaan teknologi di AS.

Bulan lalu, otoritas Orlando, Florida, menghentikan ujicoba program sistem perangkat lunak pemindai wajah besutan Amazon. Perangkat lunak itu memicu keluhan dari para aktivis pembela hak privasi. [SN/HBS]

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here