telset

Dari Kalkulus, Smartphone, sampai Bakery

Bisnis dan mengajar adalah passion bagi Susanto Susilo, pria kelahiran Surabaya, Jawa Timur, 14 Januari 1957. Ia menggumuli dua dunia tersebut sejak masih mahasiswa di Jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga Jawa Tengah. Bahkan, dunia usaha sejatinya dia akrabi sejak kanak-kanak.

Susanto Susilo ( Director of Device Division ZTE Indonesia )

Ayah saya pedagang, punya bisnis perhiasan. Makanya sejak SD saya sudah belajar kulakan, cerita Susanto Susilo atau yang akrab disapa Santo saat menerima Telset di ruang kerjanya di The East Building, Mega Kuningan, Jakarta.

Intuisi bisnis pria yang kini dipercaya memegang jabatan sebagai Director of Device Division ZTE Indonesia ini telah terasah sejak kecil. Selain piawai berbisnis, Santo juga memiliki ketertarikan yang kuat pada bidang pendidikan, sebagai seorang dosen.

Bakat mengajar diperoleh Santo dari Ibundanya yang juga seorang pengajar. Bakat mengajar saya nurun dari Ibu saya yang seorang guru, ujar mantan Dosen Jurusan Matematika dan Kalkulus di Universitas Satya Wacana, Salatiga ini.

Selulus dari almamaternya, ia mencoba mengaplikasikan pengetahuannya dengan bergabung di PT Schllumberger Overseas. Sepuluh tahun ia berkarir di perusahaan pertambangan tersebut, dengan jabatan terakhir sebagai General Manager Schllumberger Overseas Group Indonesia. Dan karena pertimbangan keluarganya yang ingin ia lebih sering dekat dengan keluarga, maka Santo memutuskan keluar dan meneruskan karirnya di PT Ericsson Indonesia.

Selama 17 tahun berkarya di perusahaan teknologi tersebut, ayah tiga orang anak ini telah kenyang pengalaman membidani beberapa divisi. Mulai memegang kendali di divisi Operation, Sales, dan juga IT (Teknologi). Hingga terakhir Santo berperan besar dalam mengembangkan divisi mobile phone saat menjabat sebagai Senior Director PT Ericsson Indonesia.

Saat perusahaan induknya di Swedia memutuskan merger dengan Sony, Inc, dan membentuk perusahaan baru dengan nama Sony Ericsson, Santo pun kemudian ditugaskan untuk men-setup perusahaan baru hasil perkawinan™ dua perusahaan raksasa teknologi tersebut di Indonesia.

Tanggungjawab Santo di perusahaan hasil merger itu sebagai Country Head Sony Ericsson Indonesia terbilang tak mudah. Pemegang gelar MBA Marketing dari IPMI Jakarta ini harus mampu meningkatkan penjualan berbagai produk Sony Ericsson ke segmen pasar bebas alias ritel di Indonesia.

Bagi pria sederhana yang memiliki prinsip hidup tidak ada kata tidak bisa ini, semua orang bisa mencapai kesuksesan yang diinginkannya, asalkan ada kemauan. Menurutnya, jika orang tidak tahu, maka harus belajar biar tahu. Karena jika kita malas untuk tahu, hidup itu tidak ada artinya. Kita harus belajar biar tahu, dan punya semangat untuk tahu. Yang paling celaka kalau sudah gak tahu, tapi malas untuk tahu, tuturnya coba menerangkan filosi hidupnya.

Jadi bagi dia, dibidang apapun perkerjaan seseorang, asalkan orang itu mau belajar dan mau mengerjakannya, pasti dia bisa sukses. Sebab pekerjaan itu tidak sama dengan hobi, karena di setiap pekerjaan yang kita jalankan, belum tentu merupakan bidang yang kita senangi sesuai hobi kita.

Saat ditanya, kenapa tertarik berkarir di industri telekomunikasi? Santo mengungkapkan, tertarik dengan industri telekomunikasi karena ia menganggap komunikasi sebagai salah satu kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia seperti halnya makanan, transportasi,dll. Orang sampai kapanpun akan terus membutuhkan perangkat telekomunikasi sebagai sarana komunikasi mereka, ujar pria yang hobi membaca ini.

Setelah sukses membangun Sony Ericsson Indonesia, maka di tahun 2008, Santo memutuskan untuk pindah dan menerima tawaran sebagai Marketing Director di PT Mobile 8 Telecom, Tbk. Dan selama 1,5 tahun memimpin divisi marketing di operator CDMA tersebut, Santo membuat beberapa gebrakan, salah satunya meluncurkan layanan Mobi yang merupakan terobosan di dunia internet broadband Indonesia.

Jika selama ini layanan itu identik bagi eksekutif bisnis, maka dengan Mobi, ia membidik segmen anak muda. Layanan Mobi yang didukung teknologi CDMA EVDO Rev A yang setara teknologi 3,5 G, mendapat respon yang luar biasa di pasaran. Layanan ini pulalah yang belakangan sebagai cikal bakal menjadi senjata andalan layanan data yang dikembangkan operator Smartfren (operator hasil merger Smart Telecom dan Mobile 8).

Mundur dari PT Mobile 8 di tahun 2009, Santo mengembangkan bisnis bakery dan money changer dibawah payung usahanya sendiri, PT Cipta Citra. Santo memilih bisnis bakery karena menganggap bisnis makanan sebagai bisnis yang sangat menjanjikan. Sama seperti bisnis telekomunikasi, bisnis makanan juga gak ada matinya. Karena setiap orang akan selalu membutuhkan makanan sampai kapanpun, ucap suami Susilawati ini.

Santo mengisahkan, ia membesut Chef™s Kitchen, gerai roti dan kue bebas bahan pengawet, pemanis dan perasa buatan. Dua tahun berdiri, kini omsetnya mencapai 600 juta rupiah per bulan. Dan ternyata upaya Santo berbuah legit,  banyak yang menyukai roti kreasi mereka.

Sejak itulah ekspansi terus dilakukan, dengan membuka satu buah gerai di daerah Kemang Raya Jakarta. Selain itu, Chef™s Kitchen kini juga secara retail hadir di beberapa outlet besar di Jakarta, seperti di Kemchik Pasific Place, Sogo The Food Hall, Grand Lucky, Hero Plaza Senayan, dan Hero MTA.

Setelah hampir vakum selama 2 tahun di industri telekomunikasi dan sibuk mengembangkan usaha bakery-nya, rasa kangen Santo pada bidang pekerjaan yang telah membesarkannya itu terus membuncah. Maka pada tahun 2010, saat ia bertemu dengan Nolan (Nolan A.Fan, CEO ZTE Indonesia, Red), ia pun  ditawarkan posisi untuk memegang Divisi Device ZTE Indonesia, yang memang saat itu belum ada. Akhirnya ia pun didapuk memegang jabatan Director of Device Division ZTE Indonesia hingga kini. Uniknya, saat diajak bergabung dengan ZTE, situasinya mirip dengan saat pertama membangun Sony Ericsson Indonesia. ZTE juga berangkat dari perusahaan penyedia perangkat telekomunikasi dan solusi jaringan, sama seperti Ericsson. Mereka selama ini punya teknologi bagus, tapi belum mau masuk ke bisnis retail,.

Santo mengungkapkan, ZTE langsung tancap gas melakukan beberapa strategi untuk meraup pangsa pasar global di 2011. Dan hasilnya menurut laporan IDC, di kuartal ketiga 2011, pengapalan produk ZTE mencapai 19,1 juta handset, atau naik 57,9% dibandingkan periode yang sama di 2010.

Untuk Indonesia, ZTE akan lebih fokus mengembangkan produk smartphone berbasis Android dan Windows. ZTE akan mulai menguatkan posisinya di pasar ritel Indonesia, dengan menyediakan beberapa produknya di pasar secara bebas, tidak lagi di bundling dengan operator tertentu dan penguatan branding. Tantangan terbesar di Indonesia adalah masalah branding, jelas pria penggemar golf ini.

Dan dengan pengalamannya yang sudah malang-melintang hampir 20 tahun di industri telekomunikasi Indonesia, Santo pun memiliki target pribadi yang ingin dicapainya dalam waktu 2 tahun ke depan. Saya ingin melihat ZTE masuk dalam Top 5 Brand Handset dan Device Suplier di Indonesia dalam dua tahun ke depan, ucap Susanto Susilo dengan nada optimis. [Bayu Sadewo]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0