JAKARTA – Kemarin, Selasa (11/8/2015), secara tidak langsung India kembali menjadi sorotan dunia, setelah salah satu putra terbaiknya, Sundar Pichai, didapuk memimpin perusahaan raksasa teknologi paling kesohor sejagat raya, Google.
Nama Pichai menambah panjang deretan daftar putra Negeri Bollywood yang berhasil menaklukan Silicon Valley, sebuah kawasan yang banyak dihuni para kaum technopreuneurship papan atas, yang tak hanya berotak encer, tapi juga mendapatkan bayaran gaji selangit.
Sebelumnya sudah ada beberapa nama keturunan India lain yang mencapai prestasi tinggi dengan menduduki posisi top eksekutif di perusahaan-perusahan teknologi kelas wahid penghuni kawasan Silicon Valley yang termasyur di jagat teknologi dunia.
Nah, siapa saja orang asli India yang berhasil menaklukan “lembah kesempatan” yang terletak di daerah selatan San Fransisco, Bay Area, dan California itu? Kami rangkumkan ulasannya untuk Anda:
Sosok Sundar Pichai merupakan rising star di Google yang pantas menjadi orang nomor satu di perusahaan raksasa mesin pencarian. Pria yang lahir di Tamil Nadu, India ini meraih gelar Bachelor of Technology di Indian Institute of Technology Kharagpur. Kemudian mendapatkan gelar master dari Stanford University, dan gelar MBA dari Wharton School di University of Pennsylvania.
Pichai bergabung di Google tahun 2004, sebagai wakil presiden manajemen produk, di mana dia memimpin tim bekerja pada browser dan sistem operasi Google Chrome. Karir Pichai melesat cepat. Ia mulai banyak terlibat dalam pengembangan berbagai produk pencarian Google, termasuk Firefox, Google Toolbar, Desktop Search, Google Gears, dan beberapa produk gadget yang dibuat Google.
Selanjutnya Pichai ditugaskan memimpin divisi Android, setelah co-founder dan CEO Android Andy Rubin mengundurkan diri pada bulan Maret 2013. Kegeniusan dan keuletannya dalam memimpin tim mengantarkan Pichai menjadi rising star di Google.
Dan pada bulan Oktober 2014, Google mengumumkan Larry Page akan mundur sebagai CEO karena akan fokus mengembangkan perusahaan baru untuk sebuah proyek yang lebih besar di Google. Pengunduran diri Page ini diyakini sebagai bagian rencana Google memberikan peran yang lebih besar kepada Pichai.
Pichai mengambil alih tugas-tugas Page yang membawahi produk inti Google, termasuk Googel Search, Maps, Research, Google+, Android, Chrome, infrastruktur, perdagangan dan iklan. Karir Pichai akhirnya mencapai puncaknya pada hari ini, setelah Google secara resmi mengumumkan telah menunjuk Pichai sebagai CEO Google yang baru.
Track record mengesankan Pichai di Google menyebabkan dia didekati Twitter untuk memimpin social media terbesar di dunia itu. Namun tawaran itu akhirnya ditolaknya. Selain Twitter, nama Pichai itu juga menjadi kandidat kuat untuk posisi CEO Microsoft menggantikan Steve Ballmer yang mengumumkan pengunduran dirinya pada bulan Agustus tahun 2013.
Next
Satya Nadella resmi ditunjuk sebagai Chief Executive Officer (CEO) Microsoft yang baru menggantikan Steve Ballmer pada Februari 2014. Nadella lahir di Hyderabad, India, dan kemudian hijrah ke Bellevue, Washington.
Nadella meraih gelar sarjana di bidang teknik listrik dari Mangalore University. Nadella merai gelar master dalam ilmu komputer dari University of Wisconsin, Milwaukee dan gelar master dalam administrasi bisnis dari University of Chicago.
Sosoknya yang cerdas dianggap memegang peran penting kepemimpinan dalam bisnis Microsoft. Bergabung dengan Microsoft sejak tahun 1992, ia dengan cepat menjadi dikenal sebagai pemimpin yang memiliki pengetahuan yang luas tentang teknologi dan bisnis, dan dia banyak terlibat dalam mengubah beberapa penawaran produk terbesar Microsoft.
Sebelum ditunjuk sebagai CEO, pria bernama lengkap Satyanarayana Nadella ini menjabat sebagai wakil presiden eksekutif dan Enterprise Cloud group Microsoft. Dalam perannya ini, dia memimpin transformasi ke bisnis infrastruktur dan layanan cloud.
Karir Nadella di Microsoft terbilang cemerlang. Dia sebelumnya pernah memegang kendali R&D untuk Divisi Layanan Online dan wakil presiden dari Divisi Bisnis Microsoft. Sebelum bergabung dengan Microsoft, Nadella menapaki karirnya sebagai staf teknologi di Sun Microsystems.
Nadella menjadi CEO ketiga sepanjang sejarah Microsoft, setelah Bill Gates dan Steve Ballmer. Ia ditunjuk jadi CEO Microsoft sejak Februari 2014 setelah Ballmer mengundurkan diri.
Next
Setelah melepas unit bisnis ponselnya kepada Microsoft pada tahun 2014, grup Nokia yang berbasis di Espoo, Finlandia hanya menyisakan tiga unit bisnis yang tersisa dan Suri dipercaya sebagai CEO baru untuk menahkodai Grup Nokia tersebut.
Suri memimpin tiga bisnis dalam grup Nokia, yakni; infrastruktur jaringan dan layanan telekomunikasi (Nokia Solutions and Networks), layanan peta digital dan navigasi (Here), pengembangan teknologi dan lisensi paten (Advanced Technologies).
Chairman Nokia, Risto Siilasmaa mengatakan, Suri memiliki kemampuan dalam membuat strategi bisnis yang jelas, mendorong inovasi dan pertumbuhan bagi Nokia.
“Dalam membuka babak baru bagi Nokia, direksi Nokia dan saya yakin bahwa Rajeev adalah orang yang tepat untuk memimpin perusahaan di masa depan,” kata Siilasmaa saat itu.
Sebelum menjadi pemimpin puncak Nokia, Pria kelahiran New Delhi tahun 1967 ini menjabat sebagai CEO Nokia Solutions and Networks (NSN).
Suri bergabung dengan Nokia pada 1995 dan menjabat sebagai kepala bisnis peralatan seluler di NSN, yang kala itu bernama Nokia Siemens Network dan merupakan perusahaan patungan antara Nokia dan Siemens asal Jerman.
Di bawah kepemimpinan Suri, Grup Nokia berkomitmen untuk memperkuat investasi dalam bisnis peralatan jaringan dan teknologi telekomunikasi di segmen korporasi, yang juga meliputi lisensi paten.
Next
Amit Singhal meraih gelar Sarjana Teknik dari Indian Institute of Technology Roorkee. Setelah itu dia kemudian melanjutkan pendidikan S2 dan meraih gelar Ph.D dari Cornell University di New York.
Lahir di Uttar Pradesh, India, Amit saat ini menjabat sebagai Senior Vice President and Software Engineer di Google. Amit dipandang sebagai sosok yang berkontribusi besar dalam optimalisasi perangkat lunak pencarian Google.
Kegeniusan Amit digambarkan New York Times sebagai “suhunya” perancang algoritma mesin pencarian Google. Sedangkan majalah Fortune menilainya sebagai salah satu orang terpintar di dunia teknologi. Bergabung di Google tahun 2000, karirnya melesat cepat dengan memegang beberapa posisi kunci di Google. Amit saat ini menjabat sebagai Senior Vice President.
Next
Pria asli India lain yang memegang posisi mentereng di perusahaan teknologi ternama adalah Shantanu Narayen. Shantanu menempati posisi prestisius sebagai CEO Adobe System sejak tahun 2007.
Narayen lahir di Hyderabad, India, dan meraih gelar Master of Business Administration dari University of California Berkeley dan gelar Master of Science diraihnya dari Bowling Green State University di Ohio, Amerika Serikat.
Kepemimpinan Narayen di Adobe diakui cukup fenomenal. Dia berhasil membawa Adobe ke jangkauan pasar yang lebih besar, memperluas portofolio produk dalam skala global. Berkat tangan dinginnya, pada tahun 2009 perusahaan berhasil meraup USD 1,8 miliar dari Omniture, Inc.
Sebelum diangkat sebagai CEO pada bulan Desember 2007, Narayen adalah presiden Adobe dan COO, yang bertanggung jawab operasiional perusahaan secara global, penelitian dan pengembangan produk, pemasaran dan pengembangan perusahaan.
Pada tahun 2005, ia merupakan orang dibalik keberhasilan perusahaan memperoleh USD 3,4 miliar dari Macromedia, salah satu unit bisnis untuk perangkat mobile dan penerbitan multimedia.
Sebelumnya, ia memegang posisi penelitian dan pengembangan produk kunci dalam Adobe, termasuk wakil presiden eksekutif produk di seluruh dunia, wakil presiden senior dari pengembangan produk di seluruh dunia dan wakil presiden dan general manager dari kelompok teknologi rekayasa.
Sebelum bergabung dengan Adobe pada tahun 1998, Narayen adalah co-founder dari Pictra, Inc, pelopor awal berbagi foto digital melalui Internet. Sebelum itu, ia menjabat sebagai direktur desktop dan kolaborasi produk di Silicon Graphics, Inc dan memegang berbagai posisi manajemen senior di Apple.
Next
Vivek Ranadive lahir dan besar di Juhu daerah Bombay (sekarang Mumbai ), India. Salah satu mimpi bungsu dari tiga anak ini adalah ingin kuliah di Massachusets Institute of Technology (MIT), dan akhirnya mimpinya itu kesampaian. Ranadive meraih gelar sarjana dan master di universitas yang diimpikannya itu. Dia kemudian mendapat gelar MBA dari Harvard University.
Insting bisnisnya sudah mulai terasah saat masih kuliah di MIT, Ranadive memulai perusahaan pertamanya, sebuah perusahaan konsultan UNIX. Ia juga memegang posisi manajemen dan rekayasa dengan Ford Motor Company, dan Fortune Sistem selepas kuliah.
Pada tahun 1985 Ranadive mendirikan sebuah incubator teknologi bernama, Teknekron Corp, dengan modal awal USD 250.000. Dan pada 1986, Teknekron Software Sistem resmi lahir. Di sini, Ranadive membangun perangkat lunak berbasis pada premis dari “Software Bus”, yang kemudian dikenal sebagai “The Information Bus alias TIB.
Sebagai informasi, dalam dunia teknologi, “bus” adalah data standar yang berbagai elemen berkomunikasi (dalam sistem komputer, ini mengacu pada komunikasi antara CPU, memori, I/O perangkat, dll.
Dia membesarkan Tibco Software, sebuah perusahaan software komputer untuk enterprise. Perusahaan itu memiliki sekitar 4000 klien. Akhir tahun lalu, Vivek setuju menjual Tibco pada Vista Equity Partners senilai USD 4,3 miliar.
Pada tahun 1997, Ranadive mendirikan TIBCO Software Inc dengan pendanaan dari Cisco dan Reuters. Ia mulai menerapkan perangkat lunak real-time yang ia dikembangkan di Teknekron untuk industri lainnya. Di tahun pertama TIBCO, perusahaan ini langsung meraup pendapatan USD 50 juta.
Selanjutnya dengan bendera TIBCO, Ranadive bekerja sama dengan CBS Sportsline menyiarkan semua berita olahraga besar, termasuk NFL, NBA dan PGA. Pada tahun 1999, pendapatan TIBCO mencapai USD 100 juta, dan di tahun yang sama ia membawa TIBCO ke lantai bursa dengan mengajukan IPO pada NASDAQ .
Pada 29 September 2014, Ranadive setuju menerima tawaran untuk menjual TIBCO kepada Vista Equity Partners senilai USD 4,3 miliar. Setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham, tanggal 5 Desember 2014, proses akuisisi TIBCO oleh Vista Equity Partners selesai.
Selain jago dibidang teknologi dan bisnis, Ranadive juga dikenal sebagai penggila olahraga basket. Tak heran, dia cukup banyak berinvestasi di beberapa klub olahraga paling populer di AS itu. Pada tahun 2010, Ranadive menjadi salah satu pemegang saham klub basket Golden State Warriors, yang membuatnya menjadi orang pertama keturunan India yang memiliki sebuah klub liga basket NBA.
Next
Nama Nikesh Arora mungkin sangat asing bagi telinga kita, namun anak seorang perwira Angkatan Udara India ini memiliki segudang prestasi dan jabatan prestius di jagat teknologi. Nikesh saat ini menjabat sebagai President & Chief Operating Officer SoftBank Corp. Sebelumnya, dia adalah Senior Vice President and Chief Business Officer di Google.
Arora lulus dari Institute of Technology, Universitas Hindu Banaras (sekarang Institut Teknologi India Varanasi, India dengan gelar Sarjana Teknik Elektro pada tahun 1989. Ia meraih gelar dari Boston College dan MBA dari Northeastern University.
Saat “membajak” Arora dari Google, pihak Softbank harus merogoh kocek hingga USD 135 juta agar dapat mendapatkan jasanya memimpin operasional perusahaan raksasa telekomunikasi Jepang itu. Dengan gaji sebesar itu, menjadikan Arora sebagai eksekutif dengan bayaran tertinggi ketiga di dunia.
Arora bergabung dengan Google pada tahun 2004. Ia memegang beberapa peran kepemimpinan operasi senior di Google, menjabat sebagai Presiden, Penjualan Global, Operasi dan Pengembangan Bisnis dari tahun 2009-2010.
Terakhir Arora memegang jabatan prestius di Google sebagai Senior Vice President dan Chief Officer Bisnis Google sejak Januari 2011 hingga Juli 2014. Arora akhirnya resmi meninggalkan Google pada Juli 2014.
Selain di Google, Arora juga pernah pernah menjabat sebagai Chief Executive Officer dan Pendiri T-Motion PLC, yang kemudian bergabung dengan T-Mobile International pada tahun 2002 sebagai Chief Marketing Officer dan sebagai Anggota Dewan Manajemen di T-Mobile. Arora juga sempat bekerja di Bharti Airtel Eropa.











Komentar
Belum ada komentar.