šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi awan digital biru dengan berbagai simbol di atas latar belakang biru gelap

Cloud Complexity Mengancam Efisiensi Bisnis, Ini Datanya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • 73% organisasi mengalami peningkatan kompleksitas operasional cloud berdasarkan laporan Flexera State of the Cloud 2026
  • 31% pengeluaran cloud terbuang sia-sia menurut data Finout
  • 78% organisasi beralih ke multi-cloud untuk mengurangi ketergantungan pada satu vendor
  • 43% perusahaan kelas menengah gagal dalam audit pertama karena kompleksitas kepatuhan
  • 98% proyek percontohan AI gagal mencapai produksi karena infrastruktur cloud yang tidak memadai
  • 97% organisasi kelas menengah perlu memindahkan beban kerja dari hyperscaler

Telset.id – Alih-alih menyederhanakan operasional, adopsi public cloud justru meningkatkan kompleksitas bagi sebagian besar organisasi. Laporan Flexera State of the Cloud 2026 mengungkapkan bahwa 73% organisasi mengaku cloud meningkatkan kompleksitas operasional mereka. Temuan ini menjadi sinyal peringatan bagi bisnis yang mengandalkan infrastruktur cloud.

Fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan antara janji public cloud dengan realitas yang dihadapi perusahaan. Bob Lyons, CEO Nexcess, menyoroti bahwa perusahaan yang memindahkan operasinya ke public cloud dan kemudian mengerahkan kapasitas teknik yang signifikan untuk mengelola lingkungan tersebut tidak menyederhanakan apa pun. Mereka hanya menukar satu biaya operasional dengan biaya lainnya.

Pada 2012, pindah ke public cloud adalah saran yang tepat. Skalabilitas elastis sesuai permintaan, tanpa belanja modal, dan hanya membayar sesuai pemakaian menjadi daya tarik utama. Namun, kondisi tersebut telah berubah secara fundamental.

A blue digital cloud containing lots of symbols on a dark blue background

Pemborosan Anggaran Cloud yang Mengkhawatirkan

Selain kompleksitas operasional, masalah pemborosan anggaran cloud juga menjadi perhatian serius. Menurut Finout, sebanyak 31% dari pengeluaran cloud saat ini terbuang sia-sia. Angka ini menunjukkan inefisiensi yang masif dalam pengelolaan infrastruktur cloud di berbagai perusahaan.

Ketika keuntungan penyedia cloud terikat pada konsumsi, kompleksitas bukanlah masalah yang ingin diselesaikan oleh model bisnis mereka. Setiap layanan yang ditambahkan menghasilkan pendapatan bagi mereka. Setiap integrasi yang dipelihara membuat pelanggan tetap berada dalam ekosistem mereka. Model ini justru menghargai pemborosan, bukan efisiensi.

Biaya egress yang membuat migrasi data ke tempat lain menjadi mahal secara ekonomi adalah ekspresi paling jelas dari masalah ini. Hal ini memastikan bahwa bisnis yang menyadari masalah kompleksitas pun tetap kesulitan untuk keluar dari ekosistem tersebut. Kesederhanaan, bagi vendor cloud besar, adalah risiko komersial.

Kondisi ini mendorong 78% organisasi untuk beralih ke multi-cloud secara spesifik untuk mengurangi ketergantungan pada satu vendor. Angka tersebut merupakan sinyal pasar bahwa model yang ada sudah tidak lagi bekerja untuk mereka.

Beban Tim Engineering dan Hambatan AI

Pemborosan finansial hanyalah sebagian dari masalah. Biaya lain yang tidak kalah penting adalah dampaknya terhadap sumber daya manusia. Ketika tim engineering menghabiskan waktu untuk mengintegrasikan komponen dasar dan menjaga tumpukan teknologi yang kompleks tetap berfungsi, mereka tidak sedang membangun produk atau memajukan bisnis.

Cloud seharusnya menciptakan kapasitas, tetapi bagi banyak bisnis, cloud justru menghabiskannya. Menambahkan kebutuhan kepatuhan (compliance) di atasnya semakin memperparah keadaan. Sekitar 43% perusahaan kelas menengah gagal dalam audit pertama mereka. Alasannya jarang karena regulasi yang tidak jelas. Menjaga postur siap-audit di dalam lingkungan cloud tujuan umum adalah upaya manual yang berkelanjutan.

Beban kepatuhan ini mendarat pada tim internal yang sudah kewalahan mengelola segala hal lain yang dibutuhkan lingkungan cloud. Cloud yang benar-benar membantu bisnis fokus pada hasil membutuhkan lingkungan di mana beban operasional berada pada penyedia layanan.

Urgensi ini semakin meningkat dengan hadirnya kecerdasan buatan (AI). Sekitar 98% proyek percontohan AI saat ini gagal mencapai tahap produksi. Alasannya cukup jelas: proyek percontohan berjalan di lingkungan yang terisolasi. Saat tiba waktunya untuk pindah ke produksi, persyaratan penyimpanan, jaringan, postur kepatuhan, dan komputasi yang dibutuhkan oleh beban kerja nyata belum tersedia.

The letters AI in a box in the middle of a vast digital room divided by beams of line

Jika sebuah bisnis dapat beroperasi pada platform cloud yang dikelola dan dirancang khusus, posisinya akan jauh lebih baik untuk membawa AI dari tahap percontohan ke produksi. Arsitektur yang mendasarinya sudah ada di sana, sehingga mereka tidak perlu memecahkan masalah infrastruktur sebelum menangkap manfaat bisnis.

Bisnis yang unggul telah membingkai ulang cara mereka berpikir tentang kompleksitas cloud. Kompleksitas bukanlah tanda kecanggihan; itu adalah biaya operasional. Setiap jam yang dihabiskan tim internal untuk mengelolanya adalah jam yang tidak dihabiskan untuk pekerjaan yang sebenarnya.

Jika tim engineering Anda menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjaga lingkungan cloud tetap berfungsi, maka cloud tidak bekerja untuk Anda. Ini bukanlah masalah yang melekat pada cloud. Ini adalah pertanyaan apakah model penyedia layanan Anda dirancang untuk kesuksesan Anda atau untuk konsumsi mereka.

Fakta bahwa 97% organisasi kelas menengah menyatakan perlu memindahkan beban kerja dari hyperscaler adalah jawaban atas pertanyaan tersebut. Mereka telah menyadari bahwa komputer lokal akan gantikan cloud sebagai solusi yang lebih efisien untuk kebutuhan spesifik mereka.

Dalam ekosistem yang semakin kompleks, platform seperti Rippling Data Cloud mulai menawarkan alternatif dengan pendekatan yang lebih terkelola. Sementara itu, penyedia layanan seperti Adobe Creative Cloud terus mengintegrasikan AI untuk menyederhanakan alur kerja pengguna.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.