telset

CITRUS: Regulasi Spektrum Harus Mengacu Kepentingan Nasional

Jakarta – Layanan data dipastikan akan menjadi primadona industri selular.  Data akan menjadi revenue  yang signifikan bagi operator. Menurut Asmiati  Rasyid  Direktur CITRUS, pendapatan dari sektor data sekitar 400 triliun.

Prediksi itu adalah prediksi moderat, jelas Asmiati Rasyid dalam acara Seminar Pertarungan Telko 2012, Tantangan dan Hambatannya di Jakarta Media Center, Rabu, (16/11) kemarin.

Namun, lanjut Asimati  untuk menghadirkan layanan data berkualitas terhadang oleh keterbatasan spektrum frekuensi. Hal ini karena okupansi sudah mendekati puncaknya.

Kisruh ini, menurutnya, diperparah dengan polemik perebutan frekuensi 3G antara Telkomsel dan Axis yang sudah masuk ke ranah KPPU. Keputusan KPPU akan berdampak terhadap eksistensi sebuah operator, baik Telkomsel atau operator lainnya, tegasnya.

Jika dimenangkan atau dinyatakan tidak ada monopoli, maka akan mendorong percepatan Telkomsel untuk memenangkan  persaingan di era data. Sebaliknya jika keputusan KPPU menyorot bahwa pembagian kanal harus bagi rata untuk asas persamaan hak, maka hal ini akan berakibat fatal bagi kelangsungan bisnis data Telkomsel. Dengan pelanggan lebih dari 105 juta, maka konektivitas dan bandwith akan sesak. Secara otomatis konsumen tidak nyaman.

Sebagai perusahaan yang sebagian besar sahamnya dimiliki negara, Telkomsel punya kesempatan untuk memenangkan pertarungan tidak pindah frekwensi sebaliknya mendapatkan tambahan blok (4,5,6), ungkap Asmiati

Polemik ini menjadi sorotan publik karena menyangkut berbagai kepentingan. Satu sisi Telkomsel dengan 105 juta pelanggan sudah sangat padat dalam mengatur arus lalu lintas data. Sisi lain, Axis  ngotot meminta blok 4 yang kini dipakai Telkomsel.

Menurut Asmiati ada dua kepentingan yang mencolok, antara kepentingan bisnis asing dalam hal ini Axis  dan Tri, serta kepentingan nasional dalam hal ini Telkomsel. Telkomsel memiliki komitmen dalam upaya membangun NKRI dengan teknologi selular, seharusnya mendapat proteksi dalam upaya mendapatkan penambahan frekwensi tanpa harus melalui proses lelang/tender.

Namun dengan berlindung dibalik Kepmen No. 268/2009 yang menyatakan pemerintah memberikan semua operator tambahan spektrum kedua yang dicadangkan, Axis menggiring opini bahwa Telkomsel menjadi sandungan dalam upaya penataan frekwensi ini, ucap Asmiati.

Lebih lanjut Asmiaty mengatakan berbekal Kepmen tersebut, diduga ada kepentingan asing yang sangat besar untuk mengikis eksistensi perusahaan nasional dengan berbagai cara. Salah satunya merebut blok 4. Dengan begitu akan berimbas pada eksistensi jaringan dan layanan Telkomsel. [azis/hbs] {jcomments on}

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0