πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi laptop dengan logo Windows 10 di layar

China Ganti Windows 10 dengan OS Dalam Negeri Mulai 2027

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pemerintah China memerintahkan entitas negara untuk uninstall Windows 10
  • CMIT, perusahaan patungan Microsoft-CETC, akan pensiun Februari 2027
  • Windows 10 end of life Oktober 2024, ESU diperpanjang hingga Oktober 2027
  • Studi Juli 2026: 1 dari 6 PC masih pakai Windows 10, CVE 3x lebih banyak
  • Microsoft klaim tidak ada insiden keamanan, tetap beri pembaruan rutin
  • Langkah muncul sebelum pertemuan Trump-Xi Jinping

Telset.id – Pemerintah China secara resmi memulai rencana penghapusan Windows 10 dari sistem mereka dan beralih ke alternatif buatan dalam negeri. Langkah ini merupakan bagian dari strategi multi-tahun untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi Barat, sekaligus memperkuat keamanan siber nasional di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat.

Kementerian Keamanan Negara China dikabarkan telah memerintahkan sejumlah entitas terkait negara untuk mulai menghapus instalasi Windows 10. Versi Windows yang digunakan selama ini merupakan hasil pengembangan bersama antara Microsoft dan perusahaan milik negara China Electronics Technology Group Corp melalui perusahaan patungan bernama C&M Information Technologies Co (CMIT), yang dibentuk pada 2016.

Keputusan ini diambil tanpa konfirmasi resmi mengenai alasan spesifiknya. Namun, CMIT dilaporkan berencana untuk pensiun dari pengelolaan software tersebut pada Februari 2027, sejalan dengan kampanye pemerintah China untuk membatasi penggunaan teknologi asing.

Windows 11 on a laptop

Latar Belakang Pensiunnya Windows 10

Windows 10 sendiri telah mencapai akhir masa dukungan resminya pada Oktober 2024. Microsoft memutuskan untuk menghentikan pembaruan utama dan fokus pada edisi terbaru mereka. Meskipun demikian, masih banyak pengguna di seluruh dunia yang bertahan dengan sistem operasi lawas ini.

Bagi pengguna yang membutuhkan dukungan tambahan, Microsoft menyediakan program Extended Security Updates (ESU). Awalnya program ini dijadwalkan berakhir pada 2026, namun Microsoft secara mengejutkan memperpanjang masa dukungan hingga Oktober 2027. Perpanjangan ini memberikan ruang bernapas bagi perusahaan dan institusi yang belum siap melakukan migrasi.

Data terbaru menunjukkan adopsi sistem operasi baru masih lambat. Sebuah studi pada Juli 2026 menemukan bahwa satu dari enam PC masih menjalankan Windows 10, sementara Windows 11 telah digunakan oleh 78,8% pengguna. Sektor kesehatan dan farmasi (23%), konsumen dan ritel (23%), serta manufaktur (18%) menjadi industri yang paling banyak masih menggunakan sistem operasi lama tersebut.

Yang menarik, usaha kecil dan menengah (UKM) tercatat lebih banyak menggunakan Windows 10 (21,4%) dibandingkan perusahaan besar (16,6%). Hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri karena perangkat Windows 10 rata-rata memiliki sekitar tiga kali lebih banyak kerentanan keamanan aktif (1.903 CVE) dibandingkan perangkat Windows 11 (652 CVE).

Respons Microsoft dan Implikasi Keamanan

Menanggapi kabar ini, juru bicara Microsoft menyatakan bahwa perusahaan tidak mengetahui adanya insiden keamanan yang memengaruhi produk tersebut. β€œWindows 10 terus menerima pembaruan keamanan secara rutin,” kata juru bicara tersebut kepada Bloomberg. β€œKami tidak memiliki informasi tambahan untuk dibagikan.”

Keputusan China untuk beralih ke sistem operasi domestik ini juga muncul di tengah dinamika politik yang memanas. Bloomberg mencatat langkah ini terjadi hanya beberapa minggu sebelum pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri China Xi Jinping, di mana isu keamanan diprediksi menjadi agenda utama.

Windows 10 Logo on Laptop

Dampak bagi Pengguna dan Industri

Langkah China ini menunjukkan tren yang lebih luas di mana negara-negara mulai memprioritaskan kemandirian teknologi. Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi pelajaran penting tentang pentingnya memiliki ekosistem digital yang mandiri dan aman.

Perusahaan patungan CMIT yang dibentuk pada 2016 merupakan upaya awal Microsoft untuk memastikan Windows 10 memenuhi persyaratan keamanan pemerintah China. Kini, dengan rencana pensiun pada 2027, tampaknya era kolaborasi tersebut akan segera berakhir.

Bagi pengguna Windows 10 di seluruh dunia, masa transisi ini menjadi pengingat bahwa dukungan untuk sistem operasi lama tidak akan bertahan selamanya. Meskipun ESU telah diperpanjang hingga Oktober 2027, para ahli keamanan menyarankan agar pengguna segera melakukan migrasi ke sistem operasi yang lebih baru untuk mengurangi risiko eksploitasi kerentanan.

Studi yang sama juga menemukan bahwa sektor UKM menjadi kelompok yang paling rentan karena keterbatasan sumber daya untuk melakukan upgrade. Kondisi ini diperparah dengan tingginya jumlah CVE aktif pada perangkat Windows 10 yang mencapai angka 1.903, jauh lebih tinggi dibandingkan Windows 11 yang hanya 652.

Windows 10's grave

Prospek Ke Depan

Dengan rencana CMIT untuk mengakhiri layanan pada Februari 2027, pemerintah China tampaknya serius dalam mewujudkan kemandirian teknologi. Keputusan ini juga sejalan dengan berbagai inisiatif China lainnya dalam mengembangkan ekosistem teknologi domestik, termasuk di bidang kecerdasan buatan dan kendaraan otonom.

Bagi Microsoft, kehilangan pasar China untuk Windows 10 merupakan pukulan signifikan mengingat ukuran pasar negara tersebut. Namun, perusahaan asal Amerika Serikat itu tetap menyatakan komitmennya untuk memberikan pembaruan keamanan rutin selama masa transisi berlangsung.

Sementara itu, pengguna Windows 10 di seluruh dunia disarankan untuk memantau perkembangan program ESU dan mulai merencanakan migrasi. Dengan semakin dekatnya batas akhir dukungan pada Oktober 2027, keputusan untuk pindah ke sistem operasi yang lebih baru menjadi semakin mendesak, terutama bagi sektor-sektor yang masih bergantung pada sistem operasi lawas ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.