Ilustrasi perbandingan volume iklan streaming yang lebih keras dari konten video di layar televisi

California Larang Iklan Streaming Lebih Keras dari Konten Video

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • California memberlakukan larangan iklan streaming lebih keras dari konten video mulai 1 Juli 2025
  • Aturan ini terinspirasi dari keluhan orang tua yang terganggu saat menidurkan bayi
  • Industri streaming seperti Netflix, Hulu, dan Disney+ wajib menyesuaikan volume iklan
  • Aturan serupa akan berlaku di Illinois pada tahun depan
  • Kelompok industri seperti MPAA menentang RUU ini dengan alasan teknis perangkat

Telset.id – Pengalaman menonton streaming di California akan berubah drastis mulai pekan ini. Sebuah undang-undang baru yang melarang layanan streaming menampilkan iklan dengan volume lebih keras dari konten video resmi akan mulai berlaku pada Rabu, 1 Juli 2025.

Aturan ini menjadi kabar baik bagi pengguna yang sering terganggu oleh lonjakan volume saat iklan muncul. California menjadi negara bagian pertama di Amerika Serikat yang menerapkan regulasi volume iklan khusus untuk platform streaming, setelah aturan serupa sudah lama berlaku untuk siaran televisi kabel dan broadcast.

Peraturan baru ini secara spesifik melarang layanan streaming menampilkan iklan yang “lebih keras dari konten video” yang menyertainya. Dengan kata lain, volume iklan wajib disetarakan dengan volume konten utama yang sedang ditonton pengguna.

Dilansir dari Ars Technica, layanan streaming belum memberikan detail tambahan tentang bagaimana mereka berencana mematuhi undang-undang tersebut. Meskipun pembatasan volume ini hanya berlaku di California untuk saat ini, kemungkinan besar perubahan relevan akan diterapkan secara lebih luas. Apalagi, undang-undang serupa juga akan mulai berlaku di Illinois pada tahun depan.

Ketika undang-undang ini disahkan pada tahun 2025, pengusungnya, Senator Negara Bagian California Thomas Umberg, mengatakan bahwa aturan ini terinspirasi oleh “setiap orang tua yang kelelahan yang akhirnya berhasil menidurkan bayi, hanya untuk kemudian iklan streaming yang keras membatalkan semua kerja keras itu.” Pernyataan ini menyoroti dampak langsung dari iklan keras terhadap kenyamanan pengguna di rumah.

Di sisi lain, kelompok industri termasuk Motion Picture Association of America dan Streaming Innovation Alliance menentang RUU tersebut. Mereka mengklaim bahwa platform streaming sebenarnya sudah berupaya untuk mengatasi masalah volume iklan ini. Selain itu, mereka juga mencatat bahwa platform harus berurusan dengan berbagai perangkat output, termasuk TV, tablet, dan ponsel.

Perbedaan perangkat ini menjadi tantangan teknis tersendiri. Volume suara yang dirasa normal di satu perangkat bisa terdengar jauh lebih keras di perangkat lain. Namun, undang-undang baru ini tampaknya tidak memberikan kelonggaran khusus untuk variasi perangkat tersebut.

Langkah California ini merupakan perkembangan signifikan dalam regulasi industri streaming. Selama bertahun-tahun, keluhan tentang iklan yang tiba-tiba keras menjadi masalah umum di kalangan pengguna layanan streaming. Berbeda dengan TV kabel yang sudah diatur, platform streaming seperti Netflix, Hulu, Disney+, dan lainnya selama ini tidak terikat oleh aturan volume iklan khusus.

Dampak dari undang-undang ini diperkirakan akan meluas. Mengingat California adalah pasar yang sangat besar dan penting bagi industri hiburan, kepatuhan terhadap aturan ini kemungkinan akan mendorong perubahan secara nasional. Platform streaming kemungkinan akan menerapkan penyesuaian volume secara global untuk menyederhanakan operasi mereka, daripada harus menerapkan pengaturan berbeda untuk setiap negara bagian.

Selain itu, dengan adanya rencana pemberlakuan undang-undang serupa di Illinois tahun depan, tekanan terhadap platform streaming untuk menstandarisasi volume iklan akan semakin besar. Industri streaming kini dihadapkan pada pilihan: menyesuaikan diri secara proaktif atau menghadapi regulasi yang berbeda-beda di setiap negara bagian.

Bagi pengguna di California, perubahan ini akan terasa langsung. Tidak akan ada lagi momen di mana volume tiba-tiba melonjak saat jeda iklan dimulai. Pengalaman menonton diharapkan menjadi lebih konsisten dan nyaman.

Meskipun detail teknis tentang bagaimana platform akan mematuhi aturan ini belum diumumkan, kemungkinan besar mereka akan menggunakan teknologi normalisasi audio yang sudah ada. Teknologi ini memastikan bahwa level volume rata-rata iklan tidak melebihi level volume konten utama.

Penerapan undang-undang ini juga bisa menjadi preseden bagi negara bagian lain atau bahkan regulator federal di Amerika Serikat untuk mengikuti jejak California. Jika berhasil, bukan tidak mungkin aturan serupa akan diadopsi secara lebih luas di masa depan.

Sementara itu, konsumen di luar California mungkin juga akan merasakan manfaatnya. Seperti yang disebutkan sebelumnya, platform streaming cenderung menerapkan perubahan secara seragam di seluruh wilayah operasinya untuk efisiensi. Jadi, penyesuaian volume yang dilakukan untuk mematuhi hukum California kemungkinan akan diterapkan di semua pasar.

Ini bukan pertama kalinya California mengambil langkah maju dalam regulasi teknologi. Negara bagian ini sering menjadi pionir dalam berbagai kebijakan yang kemudian diadopsi oleh negara bagian lain. Mulai dari standar emisi kendaraan hingga perlindungan data pribadi, California sering memimpin jalan.

Tesla Hapus Istilah Autopilot di California juga menjadi contoh lain bagaimana regulasi negara bagian ini memaksa perusahaan untuk menyesuaikan praktik bisnis mereka. Kini, giliran industri streaming yang harus beradaptasi.

Demo Bela Miliarder yang sempat terjadi di California juga menunjukkan betapa dinamisnya lanskap sosial dan politik di negara bagian ini. Regulasi iklan streaming adalah salah satu dari sekian banyak isu yang berkembang.

Dengan berlakunya undang-undang ini, konsumen di California kini memiliki perlindungan hukum terhadap praktik iklan yang mengganggu. Langkah ini menempatkan kenyamanan penonton sebagai prioritas di atas kepentingan komersial pengiklan.

Ke depannya, akan menarik untuk melihat bagaimana platform streaming menyesuaikan teknologi mereka. Apakah mereka akan menerapkan solusi sederhana seperti membatasi volume maksimum iklan, atau menggunakan pendekatan yang lebih canggih seperti analisis audio real-time untuk menyesuaikan level volume.

Yang jelas, undang-undang ini menandai era baru dalam hubungan antara platform streaming, pengiklan, dan konsumen. Konsumen kini memiliki alat hukum untuk menuntut pengalaman menonton yang lebih baik, sementara platform dan pengiklan harus berinovasi untuk mematuhi aturan baru ini.

Bagi industri streaming secara keseluruhan, regulasi ini bisa menjadi awal dari pengawasan yang lebih ketat terhadap praktik periklanan mereka. Jika konsumen di negara bagian lain mulai menuntut hal yang sama, bukan tidak mungkin kita akan melihat gelombang regulasi serupa di masa depan.

Sementara itu, pengguna layanan streaming di California bisa bernapas lega. Mulai pekan ini, mereka tidak perlu lagi waspada terhadap lonjakan volume saat iklan muncul. Pengalaman menonton yang lebih tenang dan konsisten akhirnya menjadi kenyataan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.