telset

Bukan yang Terbesar, Tapi Menjadi yang Terbaik

Daniel Horan  |  Chief Marketing Officer AXIS
Daniel Horan | Chief Marketing Officer AXIS

Di tengah kejenuhan industri telekomunikasi yang saat ini sedang dirasakan para operator telekomunikasi Indonesia, Axis Telecom Indonesia (Axis) muncul menjadi ‘kuda hitam’ dengan pertumbuhan yang cukup mencengangkan.

Anak usaha Saudi Telecom Company (STC) ini mencatat pertumbuhan revenue tahun 2011 lalu lebih dari 120% YoY. Dan pertumbuhan pada tahun ini sekitar 80%. Pencapaian AXIS tersebut tak lepas dari tangan dingin sosok seorang pria “bule” bernama Daniel Horan. Ya, pria kelahiran Sydney Australia, 24 Juni 1971 ini menjadi aktor penting keberhasilan AXIS saat ini.

Dengan pengalamannya selama 20 tahun di dunia marketing, Daniel yang bergabung dengan AXIS sejak Oktober 2011 sebagai Chief Marketing Officer (CMO) ini berhasil membawa AXIS memiliki jumlah pelanggan di kisaran dobel digit, yakni 17 juta dari sebelumnya 6 juta pelanggan pada 2010 lalu.

Industri seluler memang bukan dunia baru bagi pria lulusan Masters of Business Administration dari Henley on Thames, Inggris ini. Sebelum di AXIS Indonesia, Daniel  banyak mengembangkan karirnya di operator kelas dunia, Vodafone.

Pria ramah ini memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun di industri telekomunikasi seluler di Vodafone untuk posisi Senior Marketing maupun Senior Sales di lima negara. Terakhir Danile menjabat sebagai Chief Commercial Officer Vodafone Qatar, setelah sebelumnya di Hungaria, Inggris, Belanda, dan Australia. Dia juga pernah bekerja di bidang marketing di beberapa perusahaan termasuk Sony Corporation.

Ingin tahu lebih jauh tentang pria ‘bule’ yang sangat ramah ini, Telset pun mendapat kesempatan berbincang selama 1 jam lebih di kantornya di bilangan Mega Kuningan Jakarta. Berikut kutipan wawancaranya:

Anda 10 tahun berkecimpung di dunia marketing, khususnya di industri telekomunikasi. Apa yang menyebabkan Anda tertarik di bidang tersebut?

Marketing seperti menjadi pusat dari karir saya. Selama 20 tahun ini, saya telah menggali banyak pengalaman pada area tersebut. Marketing seperti memahami suatu bisnis, mulai dari keuangan, sales, sumber daya manusia, teknologi dan lain-lain. Hal tersebut dapat menjadi akses bagi saya agar nantinya dapat memimpin suatu perusahaan.

Salah satu hal paling krusial pada suatu bisnis adalah bahwa pemegang kepentingan terbesar semua bisnis bukanlah pemilik modal, namun pelanggan. Pada akhirnya pelangganlah yang akan membayar gaji Anda dan juga gaji saya. Marketing adalah cara bagaimana Anda dapat memahami pelanggan. Dan memberikan penawaran yang sesuai bagi pelanggan.

“Tentu saja Anda harus memiliki elemen-elemen berbeda untuk dieksekusi sesuai keinginan. Sales dan Teknologi yang unggul digunakan untuk membuat dan mengantarkan produk yang ingin Anda jual,” kata pria yang pernah mengenyam pendidikan Managing the media, Media Skill, di Australia tahun 1999 ini

Karir Anda lama di Vodafone, apakah ada prestasi yang sangat membanggakan ketika di Vodafone?

Wah banyak sekali, salah satunya adalah perluasan produk telepon di Timur Tengah. Saya mengerjakan genuine start up, dan kemungkinan itu adalah bisnis start up pertama di dunia. “Saya juga pernah menyiapkan IPO dari suatu perusahaan, mungkin hal tersebut adalah pendaftaran terbesar suatu perusahaan di bursa saham pada tahun itu,” ujar Daniel.

Tentu saja menjadi bagian dari tim tersebut adalah suatu pengalaman luar biasa. Hal itu termasuk membangun fungsi Sales, Customer Service, dan juga Marketing. “Suatu pencapaian yang luar biasa. Karena dalam waktu 1,5 tahun kami dapat meraih market share sebesar 50% dari perspektif pelanggan. Tentu saja itu pencapaian yang luar biasa dalam durasi waktu sedemikian singkat,” ucapnya dengan mata berbinar bangga.

Menurut Anda bagaimana dengan industri telekomunikasi di Indonesia?

Industri Telekomunikasi di Indonesia cukup luar biasa, jika Anda memikirkan beragamnya kelompok lingkungan yang ada. Indonesia memiliki penduduk yang begitu besar, ada sekitar 200 juta orang di seluruh pelosok negeri. Kelompok penghasilan masyarakatnya pun berbeda-beda, dari yang sangat miskin hingga yang luar biasa kaya. “Jika dilihat dari perspektif marketing umum maka ini adalah tempat yang menarik,” jelas lulusan Managing for Value IMD Switzerland ini.

Selain itu, persaingan yang ketat dengan 11 perusahaan telekomunikasi berbeda yang saling bersaing, sehingga ini benar-benar suatu market yang berat. Market seperti Indonesia, pada dasarnya adalah market di mana semua teknologi dan perbedayaan kebudayaan bukanlah komponen yang bagus untuk membuat suatu struktur. Tetapi justru bisa menjadi suatu lompatan ke abad 21 dengan teknologi terbaik, dan memberikan berbagai pengalaman kultural yang terjadi pada suatu generasi selama 10 tahun.

“Bagi saya Indonesia adalah negara yang begitu banyak menciptakan dunia inovasi. Jika melihat Indonesia dari perpektif kesempatan, maka begitu fantastis dan menarik. Karena market ini memiliki masa depan telekomunikasi yang panjang,” papar penyuka olahraga renang dan golf ini.

Strategi apa yang Anda gunakan dalam mengimplementasikan keberhasilan dalam waktu kurang dari setahun?

Hal yang menjadi kunci pembelajaran saya adalah pindah dan hidup dalam lingkungan yang berbeda, sehingga Anda dapat mempelajari budaya yang lain. Dengan demikian Anda akan memahami sikap konsumen yang lain ataupun karyawan pada suatu bisnis.

Saya berusaha mendekatkan diri sangat dekat pada pelanggan. Paling tidak saya menghabiskan waktu sehari dalam seminggu di market. Di Jakarta atau kota lainnya di dalam negeri, lalu minggu berikutnya saya sudah di Medan. Saya mencari apa yang sedang terjadi, dan melibatkan diri pada bisnis ini dalam waktu yang begitu singkat.

Jika kita melihat apa yang terjadi dengan pesaing, maka kita akan menanggapinya dalam waktu 24 jam, bukan 1 minggu, bukan 1 bulan. Kita memilih untuk menanggapi, bukan bereaksi, hal ini sangat penting. Kita melihat bagaimana sikap para kompetitor terhadap apa yang mereka lakukan. “Kita dapat memilih untuk mengikuti, mengganti atau memilih jalur yang berbeda. Bagi saya hal tersebut juga sangat penting,” terangnya.

Kalau dilihat AXIS sekarang lebih memperkuat layanan data. Apakah memang positioning AXIS akan lebih banyak bermain di layanan data?

Ya, pastinya. Kami pasti akan menuju layanan berbasis data, tentu saja hal tersebut membutuhkan waktu. Kita akan menempatkan posisi ingin menjadi perusahaan yang berbasis pada internet. Karena internet masih merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat. Dan kami masih harus bersaing pada basis tersebut. Masa depan adalah internet. Maka dari itu kami mengambil keputusan aktif untuk menyusun ulang perusahaan untuk menjadi salah satu perusahaan online terbaik di negara ini.

Hal yang dapat Anda lihat hari ini tentunya adalah ‘AXIS Internet Big Sale’. Ini adalah contoh besar bagaimana kami pindah ke ruang tersebut dan menjadi dikenali sebagai salah satu provider internet besar di negara ini. “Tentunya saya tidak akan berhenti sampai dapat menjadi yang terbaik. Kami sangat memiliki passion ke arah sana,” tegas Danile dengan yakin.

Apa saja rencana AXIS ke depannya?

Kami akan terus memperbanyak BTS. Ini adalah tujuan yang pertama, sehingga AXIS bisa ada di lokasi yang lebih banyak. Hal kedua adalah mengupgrade jaringan kami agar mampu mendukung broadband berkecepatan tinggi. Kecepatan 7.2 Mbps adalah yang kami tambahkan dalam sebulan, tapi kami ingin tingkatkan menjadi kecepatan 42 Mbps. Jadi kami akan meningkatkan infrastruktur. Demi memperluas jangkauan dan tentu saja meningkatkan kecepatan.

Kami juga melakukan revamping pada sistem billing, core network dan teknologi lain. Contohnya adalah, selama 6 bulan terakhir ini kami meningkatkan jangkauan dengan membangun sekitar 300 BTS indoor di dalam gedung pusat-pusat perbelanjaan Jakarta, yaitu di Grand Indonesia, Mal of Indonesia, Senayan City.

Dan hingga akhir tahun ini, kami targetkan akan menambahkan 3000 BTS 3G. Sehingga waktunya sekitar 10 minggu lagi atau 70 hari. Jadi kami melakukannya secara cepat. Sehingga kecepatan membangun kami adalah 42 BTS High Speed Broadband per hari. Sehingga di seluruh negeri ini akan melihat dan merasakan perbedaannya. Mungkin inilah kunci dari apa yang kami lakukan.

Apa yang ditargetkan oleh para pemegang saham kepada Anda?

Tentu saja target berubah setiap tahun. Kita selalu merevisi prestasi sebelumnya, begitu pula bisnis yang terus berubah setiap tahun. Kami belum mengungkapkan secara pasti ke publik, berapa jumlah pelanggan yang akan kami raih, atau jumlah target revenue, karena bisnis kami berkonsolidasi dengan Saudi Telecom.

Tetapi apa yang dapat Anda lihat sekarang adalah pertumbuhan yang sangat-sangat tinggi dari AXIS, hingga mencapai dua digit setiap tahun. Tahun lalu mencapai 3 digit yaitu 120%, dan tahun ini 80%. Kami akan terus melanjutkan trend tersebut.

Orientasi kami bukan menjadi perusahaan yang terbesar, tetapi orientasi kami adalah menjadi perusahaan online terbaik. Sehingga bagi pelanggan yang ingin menggunakan internet, maka kami akan menjadi pilihan pertama. Dan saya pikir kami sudah cukup baik dalam mencapai tujuan tersebut. Dan kami terus berjuang untuk melakukan itu. Kami bersaing di area Sumatra, Jawa, Lombok dan Bali, dan harus menjadi yang terbaik di bidang online.

Pertanyaan terakhir, apa target pribadi Anda yang ingin dicapai?

Tujuan akhir saya adalah menjalankan suatu perusahaan telekomunikasi, pada suatu titik tertentu di masa depan. Saya ingin menjadi CEO suatu perusahaan telekomunikasi. Sebenarnya tujuan itu telah saya miliki semenjak saya masih sangat muda, walaupun tak banyak orang yang tahu.

“Bahkan ketika saya masih berusia 10 tahun, saya sudah bercita-cita ingin menjadi seorang CEO yang memimpin suatu bisnis,” ujar Daniel tertawa lepas menyebutkan cita-cita masa kecilnya.

Saya memiliki karir yang panjang. Saya tidak mencapainya dalam hitungan hari atau minggu. Saya memiliki suatu tujuan, dan telah saya katakan tadi, bahwa saya ingin dapat menjadi CEO dari suatu bisnis seperti AXIS. Jadi mungkin itulah yang menjadi target pribadi saya,” ucap pria yang memiliki kata bijak ‘Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali’ itu.

Tapi ada dua hal penting yang ingin saya capai di AXIS. Pertama, saya tidak ingin pergi begitu saja dari sini sebelum saya meraih tujuan finansial dan tujuan bisnis dengan CEO dan pemegang saham. Saya memiliki passion dalam mencapai itu, dan saya akan memastikan untuk meraihnya dalam bentuk customer revenue.

Hal Kedua, jika saya melihat dari perspektif legacy (warisan, red), ketika saya meninggalkan tempat ini saya ingin berpikir bahwa saya memiliki begitu banyak pemimpin yang memiliki mental lebih kuat, baik dan cerdas dibandingkan saat saya pertama masuk ke AXIS. Jadi saya memberi suatu legacy berupa pengembangan sumber daya manusia juga dalam bisnis ini.

Sehingga target pertama adalah gabungan antara target finansial dan target pelanggan. Dan target kedua adalah meninggalkan suatu bisnis yang berkesinambungan dengan calon-calon pemimpin terbaik dari manusia Indonesia. “Jika saya dapat melakukan hal tersebut dalam 12 bulan ke depan, maka saya akan menjadi orang yang sangat-sangat bahagia,” pungkas Daniel Horan menutup perbincangan. [Bayu Sadewo]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0