BTEL Kuasai 35% Saham Sampoerna Telekomunikasi

 

Jakarta – PT Bakrie Telecom (BTEL) dan PT Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI) hari ini mengumumkan penandatanganan Penjualan Bersyarat Perjanjian Jual Beli antara BTEL dan Sampoerna Strategic dan Polaris, yang bertindak sebagai pemegang saham STI.

Dari perjanjian tersebut, BTEL memperoleh 35% saham STI dengan perjanjian bahwa dalam tiga tahun ke depan akan menjadi pemegang saham mayoritas. Sebagai imbalannya Sampoerna Strategic akan menjadi pemegang saham BTEL.

“Setelah proses negosiasi, BTEL dan pemegang saham STI setuju untuk mengintegrasikan operasi bisnis di bawah satu manajemen BTEL, ujar Presiden Direktur BTEL Anindya Bakrie dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (14/3).

Anindya mengungkapkan, kerjasama strategis ini bertujuan untuk mempercepat penetrasi penawaran konvergensi mobile untuk setiap pelanggan BTEL di Indonesia.

Ia juga menyebutkan, transaksi ini merupakan langkah awal dari transformasi besar operasional dan keuangan yang direncanakan BTEL untuk diselesaikan tahun ini.

Menurutnya, kerjasama strategis akan menciptakan nilai tambah yang signifikan bagi entitas baru yang akan fokus di empat bidang bisnis utama untuk mencapai keunggulan operasional, keuangan, pelayanan dan kepuasan pelanggan.

“Kami ingin berbagi dalam model bisnis BTEL yang lebih cepat, lebih baik, dan paling terjangkau, yang terbukti sangat efektif dalam merevolusi konektivitas suara dengan mengurangi hambatan harga dan tarif, paparnya.

Sementara itu Presiden Direktur Sampoerna Strategic, Michael Sampoerna, berharap dengan sinergi ini kami bisa meningkatkan bisnis lebih cepat dan lebih besar dalam rangka melayani dan bersaing.

Secara teknis keuntungan yang diperoleh BTEL adalah Frekuensi 6,25 MHz milik STI dalam 450MHz band akan dapat menambah kapasitas yang cukup untuk BTEL.

Saat ini BTEL sendiri telah memiliki frekuensi 800 MHz band. Kerjasama ini  tentunya akan memberikan tambahan kapasitas untuk meningkatkan penetrasi konektivitas suara berbiaya rendah di Jakarta, Banten dan Jawa Barat.

BTEL saat ini mendominasi pangsa pasar 40% untuk CDMA. Dan dengan berintegrasi dengan STI, penetrasi di daerah pedesaan Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara Kepulauan dan Bali akan lebih mudah bagi salah satu anak usaha PT Bakrie & Brothers Tbk itu.

Di sisi keuangan, Anindya menambahkan, transaksi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang Bakrie Telecom yang bertema “Ekspansi dengan struktur modal sehat”. Perusahaan dalam proses deleveraging pembukuan dengan menaikkan nilai modal hingga USD140 juta tahun ini.

Modal tersebut berasal dari penerbitan non-preemptive rights sebesar US$90 juta dan US$50 juta dari fasilitas pinjaman bank. Bakrie Telecom berencana menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa sebelum mengeluarkan non-preemptive rights hingga 10 persen dari modal disetor.

Dana yang diperoleh dari transaksi tersebut akan digunakan untuk pembayaran awal utang jatuh tempo Rp650 miliar pada September 2012. Selain itu, untuk membiayai penukaran saham dengan Sampoerna, berinvestasi lebih lanjut dalam konektivitas data, serta modal kerja bagi peningkatan kualitas layanan.[hbs]

 

Previous articleYahoo! Siapkan Berkas Gugatan Facebook ke Pengadilan
Next articlePemerintah akan Turunkan Harga Lelang Kanal 3G

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here