telset

Bakrie Telecom Daur Ulang 40 Ton Baterei BTS

Jakarta – Operator Bakrie Telecom (Btel)  mendaur ulang (recycle) 40 ton baterei BTS (Base Tranceiver Station). Baterei tersebut tadinya dipergunakan untuk menghidupi jaringan layanan Btel di berbagai kota di seluruh Indonesia.

Proses daur ulang dilakukan dengan menggandeng PT Muhtomas sebagai mitra usaha yang telah memiliki sertifikat dan pengalaman dalam mendaur ulang berbagai limbah berbahaya, termasuk baterei BTS.

Dalam gerakan Hijau Untuk Negeri, kami punya target untuk menggunakan kembali (reuse) atau mendaur ulang (recyle) 75% dari limbah elektronik yang dihasilkan oleh IT dan Network selama tahun 2011, jelas Direktur Corporate Services Btel, Rakhmat Junaidi dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (28/11).

Menurutnya, dengan melakukan proses daur ulang terhadap 40 ton baterei bekas ini, Btel secara konsisten terus melakukan upaya penerapan prinsip-prinsip ramah lingkungan dan menjadikannya sebagai operator telekomunikasi hijau (Green Operator).

Rakhmat menjelaskan, Btel saat ini memiliki BTS sekitar 3.900 unit yang tersebar di 82 kota di seluruh Indonesia, tentunya dibutuhkan dukungan peralatan IT dan Network handal dan terus ditingkatkan kemampuannya.

Setiap peralatan IT dan Network, paparnya lagi, memiliki masa operasi, dimana setiap masa operasi ini terlewati maka harus dilakukan upaya terkontrol karena peralatan ini mengandung material kimia, metal dan lainnya yang bisa mencemarkan lingkungan dan kesehatan.

Karena itu aktivitas green operator dalam payung gerakan Hijau Untuk Negeri harus memastikan semua limbah operasi dan elektronik tersebut harus terkelola dan terkontrol dengan baik, ujarnya.

Untuk itu Bakrie Telecom harus menggandeng PT Muhtonas sebagai mitra usaha yang memang punya keahlian dan pengalaman dalam mengelola limbah beracun. Selain Muhtonas, Btel juga bekerja sama dengan Prasadha Pramana Limbah Industri (PPLI) dalam penanganan proper disposal electronic waste (ewaste).

Menurutnya kontrol efektif pada proses penyimpanan dan distribusi di warehouse mampu menjaga stock level yang ideal. Akibatnya biaya penyimpanan dan biaya distribusi bisa dikurangi dan terjadi penghematan biaya yang cukup signifikan.

Upaya ini tidak hanya menghemat sumber daya, tapi juga menghemat biaya. Kami bisa hemat hingga 33% dari ongkos produksi. Jadi kepedulian pada lingkungan bisa selaras pula dengan nilai strategis bisnis, pungkas Rakhmat.[hbs] {jcomments on}

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

RELATED ARTICLES

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -

Your compare list

Compare
REMOVE ALL
COMPARE
0