Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali mengguncang dunia teknologi. Kali ini, Automattic—perusahaan induk WordPress.com, Tumblr, dan WooCommerce—memangkas 16% dari total karyawannya. Langkah ini diumumkan langsung oleh CEO Matt Mullenweg melalui postingan blog resmi dan pesan internal di Slack pada Rabu (25/9). Jika merujuk pada data terakhir yang mencatat 1.744 karyawan, setidaknya 281 orang kehilangan pekerjaan. Namun, Automattic enggan mengonfirmasi angka pasti.
Restrukturisasi atau Efek Rantai Konflik?
Mullenweg menyebut restrukturisasi ini sebagai langkah “menjadi lebih gesit dan responsif” di tengah persaingan ketat dan evolusi teknologi yang kian cepat. Namun, benarkah hanya faktor eksternal yang memicu keputusan ini? Tahun lalu, Automattic terlibat konflik hukum sengit dengan WP Engine, penyedia hosting yang dituding tidak berkontribusi cukup untuk proyek open-source WordPress.org. Konflik ini bahkan memicu eksodus beberapa karyawan Automattic pada 2023.
“Kami harus memastikan model finansial yang berkelanjutan untuk kesuksesan jangka panjang,” tulis Mullenweg. Tapi, apakah PHK adalah satu-satunya solusi? Beberapa sumber TechCrunch menyebut, karyawan yang terkena dampak langsung kehilangan akses Slack usai menerima email pemberitahuan—termasuk staf senior yang telah mengabdi lebih dari 10 tahun.
Dampak Global dan Paket Pesangon Minim
PHK ini menjangkau karyawan di 90 negara, dengan paket pesangon standar hanya 9 minggu—jauh lebih rendah dibandingkan perusahaan teknologi lain seperti Google atau Meta yang biasa memberi 16-20 minggu. Automattic menawarkan bantuan penempatan kerja, tapi apakah itu cukup untuk meredam guncangan?
Divisi yang paling terpukul adalah WooCommerce (sekitar 100 karyawan), disusul Tumblr, Day One, dan tim AI. Di AS, pemotongan terjadi di berbagai lini: pemasaran, penjualan, operasional, hingga manajemen produk. Yang menarik, PHK ini bertepatan dengan pembatalan “Grand Meetup 2025”, acara tahunan yang biasanya jadi ajang kolaborasi seluruh tim.
Masa Depan Automattic: Demokratisasi Internet atau Efisiensi Berdarah?
Mullenweg tetap optimistis: “Kami punya produk yang mampu menyentuh dunia. Saya yakin kami akan keluar dari situasi ini dengan posisi lebih kuat.” Tapi, bisakah misi “mendemokratisasi internet” tercapai jika fondasi internal terus goyah?
Di tengah tren PHK massal di industri tech—dari Tesla hingga Amazon—Automattic mungkin hanya sekadar mengikuti arus. Tapi, ketika perusahaan yang membangun ekosistem open-source seperti WordPress memilih jalan efisiensi ekstrem, apakah ini pertanda bahwa idealisme harus tumbang di hadapan realitas bisnis?