📑 Daftar Isi

Ilustrasi file bajakan film The Odyssey yang mengandung malware Lumma Stealer

Ancaman Lumma Stealer di Balik Download Bajakan Film The Odyssey

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Bitdefender menemukan malware Lumma Stealer yang menyamar sebagai file bajakan film The Odyssey
  • File berbahaya menggunakan nama seperti "the odyssey 2026 1080p webrip-lama.exe" dengan ikon VLC Media Player
  • Lumma Stealer merupakan infostealer MaaS yang mencuri kata sandi, cookie autentikasi, data pembayaran, dan kredensial remote desktop
  • Cookie sesi yang dicuri memungkinkan penyerang melewati prompt multi-faktor
  • Windows tidak menampilkan ekstensi file secara default sehingga file .exe tidak terlihat mencurigakan
  • Kampanye serupa pernah terjadi pada 2025 dengan film Mission: Impossible – The Final Reckoning
  • Pencegahan utama adalah menghindari unduhan film bajakan dan mengaktifkan ekstensi file di Windows Explorer

Telset.id – Pengguna yang mencari film The Odyssey versi bajakan berisiko menjadi korban malware Lumma Stealer. Bitdefender menemukan file berbahaya yang menyamar sebagai file film The Odyssey dan beredar di situs torrent.

Peneliti keamanan Bitdefender menyebut malware tersebut menyamar sebagai file dengan nama yang menyerupai scene releases, misalnya “the odyssey 2026 1080p webrip-lama.exe”. File ini membawa ikon VLC Media Player sehingga tampak seperti file video biasa. Padahal, file tersebut merupakan executable yang akan menginfeksi perangkat pengguna.

Ancaman ini menjadi perhatian karena The Odyssey diprediksi menjadi salah satu film dengan perilisan teatrikal terbesar tahun ini. Tingginya minat publik untuk menonton film tersebut dimanfaatkan pelaku kejahatan siber untuk menyebarkan malware.

Modus Penipuan File Bajakan Berkedok Film

Lumma Stealer merupakan infostealer yang beroperasi sebagai Malware-as-a-Service (MaaS). Malware ini diketahui dikembangkan di Rusia dan dijual kepada afiliasi dengan biaya antara USD 250 hingga USD 1.000 per bulan. Setelah dieksekusi, malware ini mampu mencuri berbagai data sensitif dari perangkat korban.

Data yang menjadi sasaran Lumma Stealer meliputi kata sandi browser, cookie autentikasi, informasi pembayaran tersimpan, data dompet cryptocurrency, data autofill, hingga kredensial remote desktop. Hal ini menjadikan malware tersebut sebagai salah satu ancaman serius bagi keamanan data pengguna.

Matt Damon's Odysseus looking over his left shoulder with some ships in the background in The Odyssey

Bitdefender mencatat bahwa sampel malware dalam kampanye ini tidak membawa dropper dan tidak memiliki mekanisme persistensi. Pendekatan ini berbeda dengan sampel Lumma sebelumnya yang membawa perlengkapan lebih kompleks, termasuk eksekusi tertunda saat mendeteksi perangkat lunak keamanan dan pengiriman payload terenkripsi melalui skrip AutoIt.

Pelaku kejahatan tampaknya cukup puas dengan apa pun yang dapat mereka kumpulkan saat eksekusi dan tidak berusaha mempertahankan akses ke perangkat korban setelahnya. Meskipun begitu, pencurian kredensial tetap berbahaya karena tidak memerlukan malware untuk tetap berada di perangkat.

Cookie sesi yang dicuri menjadi ancaman paling berbahaya dalam kampanye ini. Dengan memiliki cookie sesi, penyerang dapat melanjutkan sesi autentikasi korban tanpa memicu prompt multi-faktor. Artinya, perlindungan keamanan berlapis sekalipun dapat ditembus jika penyerang berhasil mencuri cookie sesi.

Kampanye serupa sebenarnya pernah didokumentasikan Bitdefender pada 2025. Saat itu, malware keluarga yang sama didistribusikan melalui situs torrent dengan menyamar sebagai file film Mission: Impossible – The Final Reckoning. Pola yang digunakan identik, hanya judul film yang berbeda.

Salah satu temuan paling penting dalam laporan Bitdefender adalah soal ekstensi file yang tidak terlihat di Windows. Windows tidak menampilkan ekstensi file secara default. Kecuali pengguna telah mengaktifkan opsi tersebut di pengaturan Explorer, akhiran “.exe” pada nama file menjadi tidak terlihat.

Penyerang menggabungkan kondisi ini dengan ikon kustom, biasanya diambil dari VLC Media Player atau file video generik. Hasilnya, yang tampak di layar adalah ikon VLC dan nama file yang terbaca seperti rip film. Tidak ada yang terlihat untuk membedakannya dari file yang sebenarnya dicari pengguna.

Back view of hooded internet criminal hacking laptop in the dark, stealing credit card details

Titik penting dari Bitdefender tentang rekayasa sosial juga patut diperhatikan: hampir tidak diperlukan rekayasa sosial dalam kampanye ini. Seseorang yang mencari salinan bocor film yang masih tayang di bioskop telah menerima kenyataan bahwa mereka akan berurusan dengan nama file aneh, sumber tidak resmi, dan arsip terkompresi.

Eksekusi yang mengaku sebagai pemutar video atau penginstal bukanlah pemandangan yang tidak biasa di dunia pembajakan. Praktik semacam ini memang marak terjadi, sehingga pengguna yang terbiasa dengan aktivitas tersebut cenderung tidak curiga.

Pencegahan dalam kasus ini sebenarnya sederhana: hindari mengunduh film bajakan dari saluran yang secara umum tidak menerapkan banyak langkah keamanan untuk mencegah infostealer. Bagi pengguna yang mencari solusi lebih luas, mengaktifkan ekstensi file di Windows Explorer adalah langkah yang tepat.

Mengaktifkan ekstensi file hanya membutuhkan beberapa detik dan menghilangkan titik buta spesifik yang diandalkan kampanye ini. Langkah kecil ini dapat membantu pengguna membedakan file video asli dari file executable berbahaya.

Ancaman penipuan digital terus berkembang dengan berbagai modus baru. Sebelumnya, penipuan online juga pernah marak dengan berbagai kedok, termasuk penipuan FaceTime yang sempat diingatkan Apple kepada penggunanya.

Modus penyamaran malware sebagai file film bajakan menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber terus beradaptasi dengan tren dan minat publik. Kesadaran pengguna terhadap risiko keamanan siber menjadi pertahanan pertama yang paling efektif.

Kampanye malware bertema film ini juga menegaskan bahwa pembajakan digital tidak hanya merugikan industri kreatif, tetapi juga membawa risiko keamanan langsung bagi pengguna. File bajakan sering kali menjadi kendaraan penyebaran malware yang dapat mencuri data pribadi dan finansial.

Ke depannya, pengguna diharapkan lebih waspada terhadap file yang diunduh dari sumber tidak resmi. Memeriksa ekstensi file, menggunakan perangkat lunak keamanan yang terpercaya, dan menghindari unduhan dari situs yang tidak jelas merupakan langkah-langkah dasar yang dapat melindungi perangkat dan data pribadi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.