Telset.id – Seorang aktivis keselamatan jalan di Amerika Serikat memutuskan menghentikan seluruh advokasi terkait Automatic License Plate Readers (ALPR) setelah menemukan dua kamera yang didokumentasikannya mengalami kerusakan parah. Insiden ini memicu kekhawatiran tentang eskalasi sentimen negatif terhadap teknologi pengawasan jalan raya.
Aktivis yang dikenal dengan nama Eimers ini sebelumnya aktif mengkampanyekan isu keselamatan jalan, terutama terkait guardrails. Namun pada bulan April, ia mulai memposting konten tentang ALPR, perangkat yang dijual oleh perusahaan seperti Flock dan Axon. Kamera yang terpasang ini digunakan untuk menangkap data kendaraan dan membantu melacak orang yang diduga melakukan kejahatan.
Eimers memperluas advokasinya karena meyakini ALPR berpotensi menimbulkan risiko serius bagi penumpang saat terjadi kecelakaan. Ia mengklaim banyak ALPR dipasang terlalu dekat dengan guardrails, yang justru melemahkan fungsinya. Selain itu, pemasangan pada rambu jalan yang sudah ada dapat meniadakan kemampuan tiang “breakaway” untuk berfungsi aman saat terjadi benturan.
Video-video Eimers tentang ALPR menyentuh saraf publik. Perangkat ini semakin kontroversial, dan berbagai kota di AS sedang mempertimbangkan efektivitasnya dibandingkan risiko penyalahgunaan. Meskipun video Eimers berfokus pada aspek “crashworthy” kamera, banyak komentator justru menganggap kamera tersebut invasif dan mewakili perluasan pengawasan massal secara diam-diam di lingkungan mereka.
Eimers mencatat dengan cemas bahwa semakin banyak orang yang menyuruhnya untuk menghancurkan kamera-kamera tersebut. Sebagian bahkan marah karena ia tidak melakukannya. Beberapa komentator ingin mengetahui lokasi pasti kamera dalam unggahannya, sementara yang lain menyarankan metode vandalisme spesifik. “Large diameter pipe cutter,” bunyi sebuah komentar pada video yang diunggah Eimers pada 24 Juli, disertai gambar pemotong pipa berdiameter besar. “Nice and quiet, cuts it like butter!!!!”
Pada 22 Juli, Eimers memposting bahwa Flock, merek ALPR paling dikenal di AS, telah berkomitmen melakukan audit nasional terhadap instalasi kameranya. Eimers menyertakan video kamera Flock lokal yang juga ia posting sehari sebelumnya. Garrett Langley, CEO perusahaan tersebut, mengutip tweet Eimers dan menyebutnya sebagai “true American hero.”
Pada 25 Juli, Eimers mengaku sedang dalam perjalanan pulang bersama salah satu putrinya ketika ia melewati kamera dari unggahannya. Ia terkejut: kamera tersebut rusak parah. Ia memberi tahu WIRED bahwa kamera itu tampak seperti terkena tembakan. Beberapa mil di jalan berikutnya, ia melewati kamera Flock lain yang ia dokumentasikan dalam video TikTok pada bulan Mei. Kamera itu juga mengalami kerusakan serupa.
Eimers kemudian membuat keputusan: ia menghentikan semua advokasi terkait ALPR untuk waktu yang tidak ditentukan. Ia mengatakan bahwa melihat kamera-kamera tersebut membuatnya merasa “a little bit shell-shocked.” Menurutnya, insiden ini menunjukkan lonjakan sentimen negatif yang mengkhawatirkan terhadap Flock dan perusahaan ALPR lainnya.
“I just haven’t seen or experienced what I’ve experienced over the last few months with the escalation ever with any of my guardrail advocacy work,” kata Eimers. Ia menambahkan bahwa ia tidak ingin “feed the trolls.”
Eimers melaporkan kerusakan tersebut ke polisi setempat. Kepolisian Maryville dan Kantor Sheriff Blount County mengumumkan pada 31 Juli bahwa mereka telah menangkap Adam Heimerman, yang tampaknya mencalonkan diri sebagai anggota Kongres di Tennessee. Heimerman didakwa dengan vandalisme feloni karena menembak empat kamera ALPR di area tersebut antara 14 Juli hingga 22 Juli.
Mayor deputy chief Ryan Rogers dari Kepolisian Maryville mengonfirmasi kepada WIRED bahwa Heimerman ditangkap terkait dugaan perusakan kamera yang sama dengan yang diangkat Eimers. Heimerman tidak menanggapi permintaan komentar, dan perwakilan hukumnya belum dapat diidentifikasi.
Eimers menyayangkan banyak komentar pada postingan Facebook tentang berita tersebut yang tampaknya mendukung Heimerman. Salah satu komentar berbunyi, “Buy that man a beer.”
Juru bicara Flock, Paris Lewbel, menolak merinci berapa banyak kamera perusahaan yang rusak dalam beberapa bulan terakhir. Namun ia memberi tahu WIRED bahwa perusahaan menerima relatif sedikit laporan tentang insiden tersebut. “Damaging public safety equipment is illegal and puts communities at risk, which is why we strongly condemn this type of behavior,” tambah Lewbel.
Lewbel mengonfirmasi bahwa perusahaan sedang melakukan audit nasional, tetapi tidak menjawab pertanyaan spesifik tentang metodologi, jadwal, atau cakupan audit. Flock memiliki lebih dari 120.000 ALPR di 49 negara bagian.
Kekhawatiran terbesar Eimers, seperti yang ia sampaikan kepada WIRED, adalah seseorang akan terluka. Ia menunjuk pada skenario hipotetis di mana seseorang menembak ALPR, dikejar polisi, dan kemudian seseorang menembakkan senjata.
Eimers mengatakan ia ingin advokasinya fokus pada keselamatan jalan dan crashworthiness, dan membiarkan kelompok hak sipil memimpin diskusi privasi seputar ALPR. Ia mengatakan ada kebaikan nyata yang bisa dihasilkan dari “staying in my lane,” merujuk pada audit Flock.
Meskipun ia tidak akan memposting konten baru tentang ALPR, ia berencana membiarkan semua konten yang sudah ada tetap tayang. “If these continue to be out on the roadside, America will be safer because of what I posted,” kata Eimers.
“I poke the bear too often,” tambah Eimers. “And this time the bear poked back.”
Insiden ini menyoroti ketegangan yang semakin meningkat antara advokasi keselamatan publik dan reaksi masyarakat terhadap teknologi pengawasan. Kasus ini juga menunjukkan bagaimana niat baik dalam mengkritik infrastruktur dapat memicu respons yang tidak diinginkan dari publik.
Perkembangan ini relevan dengan diskusi yang lebih luas tentang keseimbangan antara keamanan dan privasi di ruang publik. Teknologi serupa juga menjadi perdebatan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, di mana pemerintah sedang mempertimbangkan penerapan sistem serupa.
Para pengamat menilai bahwa insiden perusakan kamera ALPR ini dapat mempengaruhi kebijakan publik ke depan. Beberapa kota mungkin akan lebih berhati-hati dalam memasang perangkat pengawasan setelah melihat potensi konflik yang ditimbulkannya.
Sementara itu, Eimers tetap berkomitmen pada advokasi keselamatan jalan secara umum. Ia berharap keputusannya untuk mundur dari isu ALPR dapat meredakan ketegangan dan mencegah eskalasi lebih lanjut dari tindakan vandalisme.
Kasus Adam Heimerman kini menjadi sorotan publik. Jika terbukti bersalah, ia menghadapi hukuman berat atas dakwaan vandalisme feloni. Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa tindakan merusak fasilitas publik, apa pun alasannya, memiliki konsekuensi hukum yang serius.





Komentar
Belum ada komentar.