Telset.id – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan sektor ekonomi digital Indonesia dapat diperkuat melalui inovasi teknologi kecerdasan buatan (AI) pada layanan jasa transportasi daring. Pernyataan ini disampaikan di Jakarta, Rabu (9/4/2025), menekankan potensi AI dalam mendukung mitra pengemudi, pelaku UMKM, dan konsumen.
Airlangga menilai pemanfaatan AI dapat mengoptimalkan daya beli para mitra, khususnya usaha kecil dan menengah. “Pemanfaatan data secara instan, mulai dari tren penjualan hingga ringkasan pelanggan, tentu akan membantu pelaku UMKM dalam menentukan jenis produk yang perlu dikembangkan maupun dipasok,” ujarnya. Inovasi ini juga dinilai mampu menciptakan peluang pekerjaan baru yang inklusif.
Pernyataan ini disampaikan di tengah catatan ketahanan ekonomi nasional. Pada triwulan IV-2025, perekonomian Indonesia tumbuh 5,39 persen secara tahunan, menempatkannya sebagai salah satu negara dengan kinerja pertumbuhan solid di antara negara-negara G20. Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan laju 4,99 persen dan berkontribusi 53,63 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kinerja tersebut mencerminkan kontribusi konsumsi domestik yang relatif tinggi, sejalan dengan besarnya basis pasar domestik Indonesia. Basis pasar ini turut mendorong tingginya aktivitas ekonomi, termasuk pada sektor ekonomi digital yang nilainya hampir mencapai USD 100 miliar. Pemerintah memandang digitalisasi dan AI sebagai mesin pertumbuhan baru bagi perekonomian.
Pada tahun 2025, Indonesia telah memiliki sekitar 3.200 perusahaan rintisan (startup) serta tujuh unicorn berskala global yang bergerak di bidang makanan dan minuman, fintech, e-commerce, dan transportasi. Ekonomi digital di Asia Tenggara juga mengalami peningkatan pendapatan dari berbagai aplikasi berbasis AI di Indonesia, yang semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar AI paling potensial di Asia.
Baca Juga:
Meski menawarkan peluang besar, perkembangan dan adopsi teknologi turut mendorong pergeseran kebutuhan tenaga kerja. Laporan World Economic Forum mencatat bahwa sekitar 22 persen jenis pekerjaan diproyeksikan akan mengalami perubahan dalam beberapa tahun ke depan. Untuk itu, Airlangga memandang ketersediaan talenta digital yang adaptif serta mampu berinovasi menjadi kunci dalam memastikan transformasi digital berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah terus memperkuat kesiapan nasional melalui berbagai inisiatif. Salah satunya adalah kolaborasi dengan Arm Holdings dalam pengembangan kapasitas teknologi, yang pada tahun ini menargetkan pelatihan bagi 15.000 talenta di bidang AI. Langkah ini sejalan dengan upaya membangun fondasi infrastruktur digital yang kuat.
Pada skala regional, Indonesia juga telah menginisiasi penyusunan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) sebagai fondasi penguatan ekonomi digital kawasan. “Saya berharap pada 2026, di bawah kepemimpinan Filipina, hal ini (ASEAN DEFA) dapat ditandatangani. Jika dapat ditandatangani, maka peluang ekonomi digital global akan meningkat dari 1 triliun dolar menjadi 2 triliun dolar pada 2030,” kata Airlangga.
Upaya penguatan UMKM melalui platform digital juga menjadi perhatian, sebagaimana terlihat dalam strategi platform e-commerce lokal. Sinergi antara kebijakan pemerintah, inovasi teknologi oleh pelaku usaha, dan peningkatan kapasitas SDM digital diharapkan dapat mengakselerasi pencapaian potensi ekonomi digital Indonesia yang sangat menjanjikan.




