Warren Buffett memberikan komentar tentang investasi AI perusahaan teknologi besar

Warren Buffett Sebut Belanja AI Raksasa Teknologi Mirip Era Rel Kereta Api

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Warren Buffett mengkritik belanja AI raksasa teknologi yang mencapai ratusan miliar dolar
  • Investasi AI empat hyperscaler (Meta, Microsoft, Amazon, Alphabet) bisa capai $750 miliar pada 2026 dan $4,5 triliun pada 2030
  • Buffett membandingkan pengeluaran AI dengan era pembangunan rel kereta api di tahun 1800-an
  • Berkshire Hathaway membeli 17,85 juta saham Alphabet dan menambah investasi $10 miliar pada Juni 2026
  • Buffett sebelumnya menghindari saham software karena dianggap tidak punya aset, namun kini mengaku salah
  • Perusahaan teknologi beralih dari produk digital ke infrastruktur fisik dan komputasi untuk AI
  • Buffett percaya Alphabet punya arus kas kuat untuk menopang pembangunan infrastruktur AI

Telset.id – Investasi besar-besaran perusahaan teknologi raksasa di infrastruktur kecerdasan buatan (AI) menuai kritik tajam dari legenda investor Warren Buffett. Ia menilai pengeluaran ratusan miliar dolar tersebut mengingatkannya pada era pembangunan rel kereta api di abad ke-19, sebuah periode yang dikenal dengan gelembung spekulasi besar.

Dalam wawancara dengan CNBC pada Juli 2026, Buffett yang baru saja pensiun mengomentari perdebatan seputar belanja modal (capex) untuk AI. Ia membandingkan skala pengeluaran perusahaan seperti Google dan kompetitornya dengan investasi di bisnis kereta api pada masa lalu.

“With Google and all its competitors now, they’re laying out hundreds of billions of dollars. That’s real money… That kind of money wasn’t even put in the railroad business. And that’s the game they’re playing now. They weren’t playing that game with computer software,” ujar Warren Buffett pada Juli 2026.

Warren Buffett

## Belanja Modal AI Capai Triliunan Dolar

Perusahaan teknologi besar berkomitmen mengucurkan dana fantastis untuk pembangunan infrastruktur AI. Data menunjukkan total belanja modal empat hyperscaler terbesar—Meta, Microsoft, Amazon, dan Alphabet—dapat mencapai hingga 750 miliar dolar AS sepanjang 2026 dan berpotensi menembus 4,5 triliun dolar AS pada 2030.

Angka tersebut memicu kekhawatiran banyak pihak bahwa gelembung AI sedang digelembungkan secara agresif. Pasalnya, teknologi ini dinilai belum menunjukkan imbal hasil yang signifikan bagi para investor.

Meski demikian, Buffett justru melihat sisi lain dari fenomena ini. Ia menarik paralel antara pengeluaran besar-besaran saat ini dengan investasi masif untuk membangun sistem rel kereta api pada tahun 1800-an.

## Dari Produk Digital ke Infrastruktur Fisik

Sikap Buffett terhadap saham teknologi memang menarik untuk disimak. Sebagai investor, ia terkenal menghindari raksasa software dengan alasan bisnis tersebut tidak memiliki aset berharga. Namun, ia kemudian mengakui bahwa pandangannya tersebut keliru.

Keputusan Berkshire Hathaway membeli 17,85 juta lembar saham Alphabet yang diumumkan pada November 2025 menjadi bukti perubahan sikap tersebut. Perusahaan yang dipimpin Buffett bahkan menambah investasi senilai 10 miliar dolar AS di Alphabet pada Juni 2026.

Alasan di balik keputusan ini cukup jelas. Saat ini tengah terjadi pergeseran di mana perusahaan teknologi beralih dari sekadar penyedia produk digital—aplikasi dan software—menuju infrastruktur fisik dan komputasi untuk mendukung AI.

Meskipun para hyperscaler telah lama berinvestasi besar di infrastruktur cloud untuk mendukung layanan software as a service (SaaS), tingkat pengeluaran yang dibutuhkan AI berada pada skala yang sangat berbeda. Buffett percaya Alphabet memiliki arus kas yang cukup untuk menopang pembangunan infrastruktur fisik yang sedang berlangsung, sehingga menjadikannya investasi yang masuk akal.

Composite image of data center and Apollo astronaut on the moon.

## Perbandingan dengan Proyek Bersejarah

Investasi AI saat ini bahkan disebut lebih besar daripada gabungan biaya proyek Apollo, Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), dan Proyek Manhattan. Hal ini menunjukkan betapa masifnya skala pengeluaran yang dilakukan perusahaan teknologi untuk memenangkan persaingan di era AI.

Para pengamat industri menilai perbandingan dengan era kereta api cukup relevan. Pada masa itu, investasi besar-besaran dalam infrastruktur fisik memang menciptakan gelembung, namun juga meletakkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Kritik terhadap belanja AI juga datang dari berbagai pihak yang meragukan kemampuan teknologi ini menghasilkan keuntungan nyata. Namun, bagi Buffett, keputusan untuk tetap berinvestasi di Alphabet menunjukkan keyakinannya bahwa perusahaan tersebut memiliki fundamental yang kuat untuk menghadapi era baru ini.

Sam Altman

## Implikasi bagi Industri Teknologi

Perdebatan mengenai belanja modal AI ini memiliki implikasi luas bagi industri teknologi. Di satu sisi, investasi besar diperlukan untuk membangun kapasitas komputasi yang dibutuhkan model AI yang semakin canggih. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa pengeluaran ini tidak akan sebanding dengan pendapatan yang dihasilkan.

Sam Altman, CEO OpenAI, sempat memberikan perspektif menarik dalam kutipan terpisah: “It also takes a lot of energy to train a human.” Pernyataan ini menyoroti bahwa seperti halnya manusia membutuhkan energi besar untuk berkembang, AI juga menuntut sumber daya yang tidak sedikit.

Para pemimpin bisnis pun dihadapkan pada dilema: mengejar setiap rilis model AI terbaru dianggap sebagai kesia-siaan dan jalan cepat menuju kelelahan AI di dalam organisasi. Sebaliknya, fokus pada kasus penggunaan otomasi dinilai lebih bijaksana dibandingkan mengejar setiap rilis baru.

Komentar Buffett ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa gelembung AI akan pecah. Namun, sang legenda investor justru melihat peluang di balik kekacauan tersebut, dengan memposisikan Berkshire Hathaway untuk mendapatkan keuntungan dari pembangunan infrastruktur AI jangka panjang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.