Telset.id – Vibe coding, metode pembuatan aplikasi dan situs web hanya dengan perintah bahasa alami, disebut-sebut sebagai terobosan besar. Namun, pertanyaan krusial muncul: apakah teknologi ini benar-benar akan menggantikan website builder konvensional yang sudah mapan?
Nikita Obukhov, Founder dan CEO Tilda, platform pembuatan situs web, memberikan pandangannya secara eksklusif. Menurutnya, meskipun perkembangan neural network sangat pesat dan menghadirkan “zona ketidaknyamanan” bagi para pelaku industri, bukan berarti website builder akan punah.
Obukhov menjelaskan bahwa vibe coding memungkinkan pengguna untuk “bekerja di infrastruktur sendiri.” Pengguna bisa memilih layanan hosting untuk menyebarkan kode yang dihasilkan atau menggunakan server virtual. Sebaliknya, website builder menawarkan ekosistem tertutup di mana semua interaksi dan infrastruktur dikelola oleh platform.
“Vibe coding memberi Anda kendali paling besar. Anda tidak lagi dibatasi oleh platform website builder, tetapi ini menambah kompleksitas,” ujar Obukhov. Ia mencontohkan, pengguna vibe coding harus memikirkan sendiri hal-hal seperti pemuatan gambar melalui CDN, perlindungan dari serangan DDoS, dan manajemen izin akses.
Di sisi lain, website builder seperti Tilda menangani semua urusan teknis tersebut di balik layar. Gambar dimuat secara lazy, dikompresi, dan dikonversi ke format modern. Platform juga menyediakan perlindungan terhadap praktik desain yang buruk melalui library blok siap pakai.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Vibe Coding?
Obukhov secara tegas menyatakan bahwa menggunakan vibe coding untuk membuat landing page dari awal adalah tindakan yang “sia-sia.” Menurutnya, tidak ada manfaat nyata bagi pengunjung situs jika halaman tersebut dibuat dengan vibe coding dibandingkan website builder.
“Vibe coding berlebihan untuk sebagian besar situs. Ini brilian untuk membangun micro-SaaS. Tapi untuk membuat landing page atau materi penjualan sederhana? Sama sekali tidak,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa website builder justru lebih cepat dan lebih murah untuk tugas-tugas sederhana. Seorang pengusaha biasa yang menjalankan organisasi kecil tidak perlu memusingkan urusan hosting server atau cara menerbitkan sertifikat SSL.
Bagi pengguna yang ingin mendalami lebih lanjut tentang potensi teknologi ini, Anda bisa membaca artikel tentang Fitur Terbaru Figma yang mengakuisisi Bud untuk memperkuat AI dan kemampuan vibe coding.
Masalah Keamanan yang Mengintai
Salah satu kekhawatiran terbesar terkait vibe coding adalah masalah keamanan. Obukhov memperingatkan bahwa neural network ibarat “roda roulette” yang bisa menghasilkan jackpot atau justru menghancurkan proyek.
“Jika Anda menjual produk, misalnya membuat toko online dengan vibe coding… semoga beruntung. Saya tidak akan mengambil risiko itu,” katanya. Ia menjelaskan bahwa ada banyak hal kompleks seperti perhitungan harga, pengecekan stok, dan manajemen data pengguna yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Risiko semakin besar ketika aplikasi vibe coding mulai memproses data pribadi pengguna. “Anda menciptakan risiko bagi pengguna yang mempercayai Anda dengan data mereka,” ujar Obukhov. Ia mencontohkan, jika seseorang membuat mini-CRM sendiri melalui vibe coding, paparan data justru semakin besar.

Untuk informasi lebih lanjut tentang risiko ini, Anda bisa membaca artikel tentang Ancaman Keamanan vibe coding yang membahas kebocoran data di aplikasi AI.
Bahkan, sebuah riset terbaru mengungkapkan bahwa Riset Terbaru menemukan 5.000 aplikasi vibe coding banyak yang membocorkan data pengguna.
Baca Juga:
Masa Depan: Sinergi, Bukan Dominasi
Obukhov meyakini bahwa pada akhirnya, kedua pendekatan ini akan hidup berdampingan. Website builder akan terus mengintegrasikan kemampuan vibe coding ke dalam platform mereka, seperti yang dilakukan Tilda dengan fitur Vibe Block.
“Kami melihat masa depan dalam sinergi: Anda mendapatkan hasil pertama dengan vibe code, kemudian menyempurnakan detailnya melalui antarmuka,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kelemahan utama prompting: waktu tunggu yang lama saat neural network menghasilkan dan menghasilkan ulang kode. “Mengubah sesuatu yang sederhana seperti mewarnai ulang tombol membutuhkan waktu lima detik di antarmuka, tapi satu menit melalui prompt,” katanya.
Bagi pengguna yang tertarik dengan tren ini, Anda bisa membaca tentang bagaimana Modal AI bisa membantu mendapatkan pekerjaan melalui fitur vibe coding yang dirilis LinkedIn di profil pengguna.
Kesimpulannya, vibe coding bukanlah solusi universal. Teknologi ini unggul untuk proyek-proyek kompleks seperti micro-SaaS yang membutuhkan kontrol penuh. Namun, untuk kebutuhan sederhana seperti landing page atau toko online, website builder tetap menjadi pilihan yang lebih aman, cepat, dan efisien.
Bagi pengusaha kecil dan menengah yang tidak memiliki latar belakang teknis, website builder menawarkan kemudahan dan keamanan yang tidak bisa ditandingi oleh vibe coding. Sementara itu, bagi pengembang yang ingin bereksperimen dengan teknologi terbaru dan memiliki pemahaman teknis yang memadai, vibe coding membuka peluang baru yang menarik.
Yang terpenting, pengguna harus selalu mempertimbangkan risiko keamanan, terutama jika aplikasi yang dibuat akan memproses data pengguna atau melakukan transaksi keuangan. Seperti yang diingatkan Obukhov, “Anda harus menilai risiko dengan bijaksana, dan lebih baik menghindarinya.”





Komentar
Belum ada komentar.