📑 Daftar Isi

Ilustrasi data center untuk sistem AI rudal Minuteman III Angkatan Udara AS

US Air Force Cari AI untuk Satukan Data Rudal Minuteman III

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • US Air Force mencari agen AI untuk memusatkan data rudal nuklir Minuteman III yang tersebar di sekitar 60 sistem terpisah
  • Program Minuteman III menjalankan misi "no fail" dengan 400 rudal siap diluncurkan setiap saat
  • Upaya sebelumnya untuk membangun sistem digital terpusat telah gagal karena alasan yang tidak disebutkan
  • Fase awal hanya mencakup data tidak rahasia, berpotensi diperluas ke materi rahasia
  • Minuteman III beroperasi sejak 1970, rencana pensiun 2036 bergeser karena penundaan program Sentinel
  • Perpanjangan operasi hingga 2050 dianggap layak dengan risiko pemeliharaan signifikan
  • AI tidak akan berperan dalam peluncuran rudal, keputusan tetap di tangan manusia
  • Pentagon beri kontrak $31 juta ke perusahaan Air untuk dukungan pemeliharaan armada ICBM

Telset.id – Angkatan Udara Amerika Serikat (US Air Force) tengah mencari agen kecerdasan buatan (AI) yang mampu memusatkan data terfragmentasi di balik armada rudal nuklirnya yang menua. Pemberitahuan industri aktif menunjukkan bahwa program Minuteman III bergantung pada sekitar 60 sistem terpisah yang tidak saling terhubung.

Sistem-sistem tersebut berkisar dari hard drive lokal hingga jaringan bersama, dan tidak ada satu pun alat yang saat ini mengatur semuanya. Upaya ini merupakan bagian dari misi nasional yang disebut “no fail” atau tanpa kegagalan, mengingat konsekuensi yang bisa ditimbulkan sangat besar.

US Air Force harus terus menjaga 400 rudal tetap siap diluncurkan dalam waktu singkat, sebuah tanggung jawab yang tidak memberikan ruang untuk kesalahan. Dengan rentang usia yang mencapai puluhan tahun, pengelolaan data yang tersebar menjadi tantangan tersendiri bagi kelangsungan program ini.

Nuclear fusion at the National Ignition Facility (2016)

Upaya Memusatkan Data Puluhan Tahun

Menurut pemberitahuan tersebut, agen AI yang diminta harus membangun antarmuka terpadu tunggal yang menarik informasi dari gambar desain, catatan pemeliharaan, dan sumber tersebar lainnya. Sebelumnya, upaya untuk membangun ekosistem digital terpusat untuk siklus hidup rudal telah gagal karena berbagai alasan yang tidak disebutkan secara spesifik.

Para pejabat mengharapkan sistem baru ini dapat mengumpulkan informasi hampir secara real-time dan mengurangi kompilasi manual dalam jumlah yang masih akan dinegosiasikan dengan kontraktor pemenang. Pemberitahuan itu menambahkan bahwa fase awal hanya akan mencakup data yang ditandai sebagai informasi tidak rahasia yang dikendalikan, meskipun cakupan itu nantinya dapat diperluas untuk mencakup materi tingkat rahasia.

Rudal Minuteman III pertama kali memasuki layanan pada tahun 1970, dan rencana pensiun awalnya pada tahun 2036 akan menjadikannya tepat 66 tahun. Namun, jadwal 2036 itu sejak saat itu telah bergeser karena penundaan pada program pengganti Sentinel telah mendorong jadwal lebih jauh.

Sebuah tinjauan Government Accountability Office menemukan bahwa memperpanjang operasi Minuteman III hingga 2050 tetap layak dilakukan, meskipun membawa risiko pemeliharaan yang signifikan. Di bawah pandangan yang direvisi itu, rudal tertua armada bisa mendekati 80 tahun masa pakai.

AI Tidak untuk Meluncurkan Rudal

Pemberitahuan tersebut tidak menjelaskan peran AI dalam meluncurkan atau mengoperasikan armada rudal nuklir. Para pejabat menegaskan bahwa keputusan peluncuran bukan untuk alat AI dan tetap berada di tangan manusia.

Pencarian alat data ini menyusul penundaan bertahun-tahun yang dihadapi program Sentinel, yang dimaksudkan untuk menggantikan armada Minuteman III sepenuhnya. Karena Sentinel masih bertahun-tahun lagi dari penempatan, rudal yang menua harus terus berfungsi jauh lebih lama dari yang diperkirakan para perencana militer.

Upaya ini juga datang saat Departemen Pertahanan mendorong adopsi AI di semua jajarannya dan mencari ratusan insinyur perangkat lunak tambahan. Program Angkatan Udara lainnya telah menguji kemampuan otonom serupa baru-baru ini, termasuk F-16 yang dimodifikasi yang menggunakan AI untuk menganalisis data sensor selama latihan pencegat langsung.

Sebelum pemberitahuan terbaru, Pentagon secara terpisah memberikan kontrak senilai $31 juta kepada Air, sebuah perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai Govini, untuk mendukung pemeliharaan armada ICBM. Perusahaan itu mengatakan pekerjaannya akan membantu membangun gambaran yang lebih jelas tentang basis industri program rudal dan risiko rantai pasokan.

Belum jelas bagaimana platform itu nantinya dapat terhubung dengan agen AI apa pun yang akhirnya dipilih Angkatan Udara untuk proyek data terpusatnya. Mengingat cakupan permintaan tersebut, Angkatan Udara tampaknya lebih fokus pada modernisasi manajemen data daripada memperkenalkan otonomi ke dalam keputusan senjata.

Apakah kontraktor dapat memberikan sistem yang dapat digunakan untuk infrastruktur lama yang luas tersebut masih menjadi pertanyaan terbuka. Upaya ini menunjukkan tren adopsi AI di sektor pertahanan yang semakin meluas, sejalan dengan perkembangan di berbagai bidang teknologi lainnya.

Unmanned fighter jet carrying an AIM-120 AMRAAM missile (1)

Penerapan AI dalam pengelolaan data militer ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi serupa di berbagai sektor. Keberhasilan proyek ini akan sangat menentukan kemampuan US Air Force dalam memelihara aset strategisnya di masa mendatang, sekaligus menjadi tolok ukur bagi program modernisasi pertahanan lainnya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.