šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi transformasi AI di tempat kerja dengan pekerja dan teknologi digital

Transformasi AI Terhambat Manusia, Bukan Teknologi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • 29% bisnis Inggris gunakan AI per Juni 2026 menurut data ONS
  • Hambatan terbesar transformasi AI adalah kesiapan manusia, bukan teknologi
  • Hampir 1 dari 5 pekerja Inggris pakai AI generatif harian, tapi hanya 1 dari 10 organisasi berhasil skalakan AI
  • Tiga pergeseran kunci: mindset, upskilling sebagai prioritas bisnis, dan redesain organisasi
  • AI membutuhkan konteks yang tersimpan dalam dokumen dan alur kerja bisnis
  • Organisasi sukses adalah yang menyiapkan karyawan dan membuka pengetahuan internal

Telset.id – Hambatan terbesar transformasi AI di perusahaan bukan terletak pada teknologi, melainkan pada kesiapan sumber daya manusia. Data terbaru Office for National Statistics (ONS) menunjukkan 29% bisnis di Inggris telah menggunakan setidaknya satu jenis teknologi AI per Juni 2026, namun kesenjangan antara adopsi individu dan kesiapan organisasi masih menjadi masalah utama.

Corey Ercanbrack, Chief Technology Officer di Vasion, mengungkapkan bahwa banyak organisasi justru salah fokus dengan memulai diskusi AI dari sisi teknologi, seperti model yang digunakan, platform yang dibeli, atau kecepatan deployment. Padahal, keberhasilan transformasi AI sangat bergantung pada kemampuan organisasi menyiapkan manusianya.

Organisasi sebenarnya telah berhasil melewati berbagai pergeseran teknologi besar sebelumnya, mulai dari migrasi cloud, pengembangan agile, hingga keamanan Zero Trust. Namun, AI menghadirkan tantangan berbeda karena tidak sekadar memperkenalkan alat baru, melainkan mengubah cara kerja itu sendiri.

Tiga pekerja kantoran duduk bersama di depan laptop di kantor

Tiga Pergeseran Kunci dalam Adopsi AI

Pergeseran pertama yang perlu dilakukan organisasi adalah mengubah pola pikir. Riset menunjukkan hampir satu dari lima pekerja Inggris menggunakan AI generatif setiap hari, tetapi hanya satu dari sepuluh organisasi yang berhasil menskalakan AI atau mengintegrasikannya ke operasi inti. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara antusiasme individu dan kesiapan organisasi.

Karyawan yang mendapatkan manfaat terbesar dari AI tidak memperlakukannya seperti perangkat lunak bisnis biasa. Mereka memperlakukan AI seperti rekan kerja yang perlu diberi konteks, ekspektasi, serta kemampuan untuk meninjau keluaran, menantang asumsi, dan menyempurnakan hasil. Singkatnya, mereka mengelola AI daripada sekadar menggunakannya.

Pergeseran kedua adalah menjadikan peningkatan keterampilan sebagai prioritas bisnis. Organisasi tidak bisa mengandalkan perekrutan eksternal untuk mencapai kesiapan AI karena jumlah ahli yang tersedia terbatas. Perusahaan yang bergerak paling cepat justru berinvestasi pada karyawan yang sudah ada, membantu mereka mengembangkan kepercayaan diri, penilaian, dan keterampilan praktis untuk bekerja berdampingan dengan AI.

Memberikan akses alat AI hanyalah titik awal. Organisasi juga membutuhkan pelatihan terstruktur, tata kelola yang jelas, dan kesempatan eksperimen praktis. Peluang sesungguhnya bukan terletak pada mengajari orang menggunakan AI, melainkan membantu mereka memahami cara bekerja berdampingan dengannya, menerapkan pemikiran kritis dan keahlian manusia untuk menghasilkan keluaran yang lebih baik.

Robot berdiri di depan layar digital raksasa dengan kode di dalamnya

Mendesain Ulang Organisasi untuk Era AI

Pergeseran ketiga bersifat organisasional. Selama beberapa dekade, bisnis disusun berdasarkan fungsi, departemen, dan serah terima yang jelas. Model ini dirancang untuk menciptakan akuntabilitas dan spesialisasi, tetapi juga dapat menimbulkan gesekan. Ketika AI mulai bekerja lintas tim dan sistem, batas-batas tradisional mulai kabur.

Proses yang sebelumnya mengandalkan serah terima antar departemen kini semakin terkoordinasi melalui pekerja digital yang terhubung. Aktivitas yang dulu membutuhkan banyak individu, aplikasi, dan rantai persetujuan kini dapat dikoordinasikan dengan lebih efisien. Bisnis akan semakin berorganisasi berdasarkan hasil, bukan fungsi.

Seiring AI mengambil alih lebih banyak pekerjaan koordinasi, model operasi baru berpotensi muncul, termasuk bisnis yang mampu menghasilkan nilai besar dengan jumlah karyawan jauh lebih sedikit daripada yang mungkin dilakukan sebelumnya.

Keberhasilan AI sangat bergantung pada konteks yang dapat diaksesnya. Semakin relevan konteks yang dimiliki AI, semakin berharga keluarannya. Inilah alasan transformasi digital tetap penting di era AI, bukan karena setiap organisasi perlu mengubah cara kerja secara drastis, tetapi karena informasi perlu mengalir lebih bebas di seluruh bisnis.

Transformasi tidak selalu harus berupa perombakan besar-besaran. Beberapa perbaikan paling berdampak justru berasal dari membuat alur kerja yang ada menjadi lebih cerdas. Contohnya, pencetakan yang selama ini dianggap penghambat transformasi digital dapat menjadi pendorong ketika terhubung dengan alur kerja modern, platform cloud, dan sistem bisnis. Tindakan mencetak dapat membantu memicu proses, merutekan informasi, dan menghubungkan sistem yang mendukung karyawan dan AI.

Transformasi AI pada akhirnya adalah transformasi manusia. Organisasi yang melihat nilai terbesar dari AI tidak selalu memiliki model paling canggih. Mereka justru membuat informasi lebih mudah diakses, memungkinkan orang bekerja dengan cara berbeda, dan menciptakan lingkungan di mana manusia dan AI dapat berkontribusi bersama.

Konteks yang dibutuhkan AI masih tersimpan dalam dokumen, alur kerja, dan proses sehari-hari. Organisasi yang berhasil adalah mereka yang mampu membuka pengetahuan yang sudah ada di dalam bisnis dan mempersiapkan karyawannya untuk bekerja bersama teknologi baru ini. Kemampuan untuk memberi arahan, mengarahkan, dan menantang AI akan menjadi keterampilan inti di tempat kerja, terlepas dari peran atau departemen.

Representasi digital globe biru dengan angka biner di sekelilingnya

Perusahaan yang memperlakukan pembelajaran sebagai disiplin berkelanjutan, bukan program pelatihan sekali jalan, akan berada dalam posisi terbaik untuk beradaptasi dengan perkembangan kemampuan AI. Ke depannya, setiap karyawan perlu menjadi manajer AI yang mampu memberikan konteks, menetapkan ekspektasi, dan menilai keluaran secara kritis.

Keberhasilan transformasi AI tidak ditentukan oleh teknologi semata, melainkan oleh seberapa efektif organisasi menyiapkan manusianya dan membuka pengetahuan yang sudah ada di seluruh bisnis. Mereka yang mampu melakukan ini akan melihat nilai terbesar dari investasi AI mereka.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.