📑 Daftar Isi

CEO OpenAI Sam Altman berbicara kepada media dalam konferensi pers

Survei Pew: 52 Persen Warga AS Makin Khawatir dengan Dampak AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Pew Research Center menunjukkan 52 persen warga AS lebih khawatir daripada antusias terhadap AI, naik dari 37 persen pada 2021
  • Survei dilakukan Juni dengan 3.488 responden dewasa AS
  • 71 persen responden percaya AI akan mengurangi jumlah pekerjaan di AS dalam dua dekade
  • Hanya 5 persen responden yang yakin AI menciptakan lebih banyak lapangan kerja
  • Untuk pertama kalinya, lebih dari separuh responden di bawah 30 tahun lebih takut daripada antusias terhadap AI
  • Survei CNBC Generation Labs menemukan usia 18-34 tahun tidak percaya pada sembilan CEO AI terkemuka
  • Industri AI dinilai gagal membangun citra positif karena pesan menakutkan dan pernyataan tidak peka

Telset.id – Skeptisisme warga Amerika Serikat terhadap kecerdasan buatan (AI) mencapai titik tertinggi. Berdasarkan survei terbaru dari Pew Research Center, sebanyak 52 persen warga AS kini merasa “lebih khawatir daripada antusias” terhadap meningkatnya penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari. Angka ini melonjak signifikan dari 37 persen pada tahun 2021.

Survei yang dilakukan pada bulan Juni ini melibatkan 3.488 responden dewasa di AS. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak publik mengenal teknologi AI, semakin rendah tingkat kepercayaan mereka terhadap teknologi tersebut. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa industri AI gagal membangun citra positif di mata masyarakat.

Lebih dari tiga setengah tahun sejak OpenAI meluncurkan ChatGPT, kekecewaan publik terhadap teknologi ini belum pernah setajam sekarang. Data Pew Research Center mengungkapkan bahwa kekhawatiran utama masyarakat berpusat pada dampak AI terhadap lapangan kerja. Sebanyak 71 persen responden meyakini bahwa AI akan mengurangi jumlah pekerjaan di AS dalam dua dekade mendatang. Hanya lima persen responden yang percaya AI justru akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja.

CEO OpenAI Sam Altman berbicara kepada media.

Yang lebih memprihatinkan, sentimen negatif terhadap AI juga mulai merambah generasi muda. Untuk pertama kalinya, lebih dari separuh responden berusia di bawah 30 tahun mengaku lebih takut daripada antusias terhadap teknologi ini. Padahal, generasi muda selama ini dianggap sebagai kelompok yang paling cepat mengadopsi teknologi baru.

Baca Juga:

Generasi Muda Makin Tidak Percaya pada CEO AI

Tren negatif terhadap industri AI tidak hanya terlihat dari survei Pew Research Center. Pekan lalu, survei yang dilakukan oleh CNBC Generation Labs menemukan bahwa orang dewasa berusia 18 hingga 34 tahun menyatakan “tidak percaya” pada sembilan CEO AI terkemuka. Temuan ini memperkuat gambaran bahwa citra publik industri AI sedang berada di titik terendah.

Kombinasi antara peringkat persetujuan yang buruk dan hasil jajak pendapat Pew terbaru menunjukkan betapa rusaknya reputasi industri AI di mata publik. Padahal, secara teori, industri AI seharusnya memiliki cerita yang menarik untuk disampaikan kepada masyarakat. Narasi tentang mengotomatisasi pekerjaan membosankan dan membebaskan manusia untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai seharusnya mudah diterima publik.

Namun, praktik di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Industri AI justru kerap menyampaikan pesan yang menakut-nakuti dan melontarkan pernyataan yang tidak peka terhadap kondisi masyarakat. Akibatnya, sebagian besar populasi merasa teralienasi.

Efek Negatif AI Makin Terlihat Jelas

Semakin banyak warga AS mengetahui dampak teknologi AI terhadap lingkungan, pasar tenaga kerja, kreativitas, dan koneksi antarmanusia, semakin besar keinginan mereka untuk menjauhkan AI dari kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi ironi tersendiri bagi industri yang semula dipandang sebagai pembawa harapan baru.

Kekhawatiran tentang hilangnya lapangan kerja menjadi isu paling dominan. Para pemimpin industri sendiri telah lama menyuarakan kekhawatiran serupa. Data menunjukkan bahwa mayoritas responden, yakni 71 persen, percaya AI akan menyebabkan berkurangnya jumlah pekerjaan di Amerika Serikat dalam dua dekade mendatang.

Perbandingannya sangat timpang. Hanya lima persen responden yang optimistis AI akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Ini menunjukkan bahwa pesan positif tentang potensi AI untuk menciptakan peluang baru belum berhasil tersampaikan dengan baik kepada publik.

Kekecewaan publik ini juga tercermin dari menurunnya rasa kagum terhadap teknologi yang sempat dianggap revolusioner. Setelah gelombang awal kegembiraan mereda, perusahaan AI kini menghadapi tantangan besar untuk memenangkan kembali kepercayaan publik. Industri ini perlu bekerja keras memperbaiki citra dan membangun komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat.

Survei Pew Research Center ini menjadi peringatan serius bagi industri AI. Jika tren ini berlanjut, adopsi teknologi AI di berbagai sektor bisa terhambat. Perusahaan teknologi perlu menyadari bahwa kepercayaan publik adalah modal utama yang tidak bisa diabaikan.

Ke depan, industri AI dituntut untuk lebih transparan tentang dampak teknologi mereka, baik positif maupun negatif. Mereka juga perlu melibatkan publik dalam diskusi tentang bagaimana AI seharusnya dikembangkan dan digunakan. Tanpa langkah nyata untuk mengatasi kekhawatiran publik, bukan tidak mungkin sentimen negatif terhadap AI akan semakin menguat.

Data dari Pew Research Center ini juga menjadi bahan evaluasi bagi industri teknologi global, termasuk di Indonesia. Meskipun survei dilakukan di AS, sentimen publik terhadap AI bisa menjadi indikasi tren yang lebih luas. Industri AI perlu belajar dari pengalaman ini untuk membangun kepercayaan publik sejak awal.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.