Telset.id – Sebuah survei nasional terbaru dari Versasight mengungkapkan bahwa mayoritas warga Amerika Serikat mendukung langkah drastis untuk mengatur industri kecerdasan buatan. Sebanyak 69 persen karyawan di AS setuju untuk memaksa perusahaan AI mentransfer 50 persen saham mereka ke dana kekayaan publik.
Temuan ini menunjukkan adanya tekanan publik yang kuat terhadap perusahaan-perusahaan AI besar. Survei yang melibatkan 1.700 orang dewasa ini menangkap sentimen bahwa keuntungan dari industri AI harus didistribusikan kembali ke masyarakat luas.
Gagasan ini sebelumnya telah diperjuangkan oleh senator Bernie Sanders (D-VT). Sanders mengusulkan American AI Sovereign Wealth Fund Act pada Juni lalu. Dalam sebuah esai di New York Times, Sanders berargumen bahwa pembentukan dana ini akan “memberi publik peran langsung dalam menentukan masa depan teknologi ini.”
“Ini akan menjamin bahwa manfaat ekonomi yang dihasilkan oleh AI digunakan untuk meningkatkan kehidupan kita semua — bukan sekadar membuat orang terkaya di dunia menjadi lebih kaya lagi,” tambah Sanders dalam sebuah pernyataan bulan lalu.
Dana AI Bernilai Triliunan Dolar
Rancangan undang-undang tersebut akan menyasar perusahaan AI terbesar di AS seperti Anthropic dan OpenAI. Perusahaan-perusahaan ini diwajibkan untuk membayar pajak satu kali sebesar 50 persen dari nilai saham mereka. Berdasarkan valuasi saat ini, Sanders memperkirakan dana yang terkumpul bisa mencapai sekitar USD 7 triliun.
Dana sebesar itu, menurut pemikiran yang berkembang, dapat digunakan untuk mengimbangi sebagian dari gangguan luas yang mungkin ditimbulkan oleh AI terhadap masyarakat. Ini termasuk potensi hilangnya lapangan kerja dan dampak ekonomi lainnya.
Baca Juga:
CEO Versasight, Benjamin Leff, menjelaskan kepada CNBC News bahwa “di mata publik, dana kedaulatan AI dilihat sebagai alat untuk mendistribusikan keuntungan dari industri AI kembali ke masyarakat yang lebih luas.”
Menariknya, dukungan terhadap kebijakan ini tetap tinggi bahkan ketika dikaitkan secara eksplisit dengan nama Bernie Sanders. Survei menemukan bahwa 64 persen responden masih mendukung ide tersebut meskipun dikaitkan dengan sosok senator independen yang kontroversial itu.
Ada Kekhawatiran di Balik Dukungan
Meskipun didukung mayoritas, gagasan ini tidak luput dari kritik. Beberapa pengkritik industri AI berpendapat bahwa memberikan pemerintah saham besar di perusahaan AI justru akan mendorong pemerintah untuk melonggarkan regulasi. Hal ini dikhawatirkan akan memberikan perusahaan AI pengaruh yang lebih besar terhadap pemerintah daripada yang sudah ada saat ini.
Terlepas dari perdebatan tersebut, dukungan publik yang kuat ini mencerminkan keputusasaan akan adanya tindakan nyata untuk mengatur industri AI. “Ada keinginan yang tak terbantahkan di antara warga Amerika dari kedua partai untuk pengawasan federal, transparansi absolut, dan akuntabilitas guna memastikan keamanan AI,” kata Leff dalam sebuah pernyataan.
Keinginan ini juga memungkinkan semua warga Amerika untuk berpartisipasi dalam manfaat ekonomi dari AI. Survei ini menjadi sinyal kuat bagi para pembuat kebijakan bahwa publik menginginkan perubahan fundamental dalam cara industri AI beroperasi dan membagi keuntungannya.
Fenomena ini juga mengingatkan pada bagaimana 5G di Indonesia diprediksi akan mengalami pertumbuhan pesat, menunjukkan bahwa teknologi baru selalu membutuhkan kerangka regulasi yang adaptif.
Gagasan dana kekayaan publik dari saham perusahaan AI ini masih dalam tahap awal. Namun, dukungan publik yang kuat menunjukkan bahwa tekanan terhadap perusahaan AI untuk lebih bertanggung jawab secara sosial akan terus meningkat.
Ini adalah perkembangan yang perlu dicermati, terutama mengingat pembatasan akses yang mulai diterapkan oleh raksasa teknologi lainnya. Industri AI kini berada di bawah sorotan yang lebih tajam dari publik dan regulator.





Komentar
Belum ada komentar.