📑 Daftar Isi

Kolase foto CEO AI Elon Musk, Sam Altman, dan Dario Amodei yang menjadi subjek survei kepercayaan

Survei: 81% Anak Muda AS Tak Percaya CEO AI, Alex Karp Terendah

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Survei CNBC Generation Labs melibatkan 1.000+ orang dewasa AS usia 18-34 tahun
  • 81% responden tidak percaya pada CEO Palantir Alex Karp, skor terendah
  • CEO Microsoft Satya Nadella mendapat skor kepercayaan terbaik hanya 35%
  • 79% tidak percaya Peter Thiel, 71% pada Mark Zuckerberg, 70% pada Elon Musk
  • 45% responden menilai AI berdampak negatif pada karier mereka
  • 60% menginginkan perlambatan pembangunan pusat data
  • 40% responden mendukung regulasi pemerintah terhadap AI

Telset.id – Kepercayaan anak muda Amerika Serikat terhadap para pemimpin perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan (AI) mengalami penurunan drastis. Sebuah survei terbaru mengungkap bahwa mayoritas generasi muda tidak mempercayai para CEO AI, dengan CEO Palantir, Alex Karp, mencatat skor ketidakpercayaan tertinggi mencapai 81 persen.

Survei yang dilakukan oleh CNBC Generation Labs ini melibatkan lebih dari 1.000 orang dewasa AS berusia 18 hingga 34 tahun. Responden diminta untuk memberikan pandangan mereka mengenai politik, AI, dan ekonomi negara. Hasilnya menunjukkan adanya pergeseran besar dalam cara pandang generasi muda terhadap industri teknologi yang sebelumnya sangat mereka kagumi.

Dalam polling tersebut, para peserta ditanya mengenai tingkat kepercayaan mereka terhadap sembilan eksekutif yang membawahi perusahaan AI. Hasilnya, mayoritas besar responden mengaku “tidak percaya” pada kesembilan tokoh tersebut. Fenomena ini menandai perubahan status quo dari satu dekade lalu, ketika para profesional muda berbondong-bondong bekerja di raksasa teknologi seperti Google dan Apple.

Skor Kepercayaan Para CEO AI

Dari kesembilan eksekutif yang disurvei, hanya sedikit yang berhasil mendapatkan tingkat kepercayaan di atas 30 persen. Microsoft CEO Satya Nadella mencatat skor terbaik dengan 35 persen responden yang mempercayainya, meskipun angka tersebut masih tergolong rendah. Sementara itu, Alex Karp dari Palantir menjadi yang terburuk dengan 81 persen responden menyatakan tidak percaya padanya.

Tokoh-tokoh teknologi lainnya juga mendapatkan tingkat ketidakpercayaan yang tinggi. Sebanyak 79 persen responden tidak mempercayai Peter Thiel, sementara Mark Zuckerberg, Elon Musk, dan Sam Altman masing-masing mendapatkan angka ketidakpercayaan sebesar 71 persen, 70 persen, dan 69 persen. Angka-angka ini mencerminkan kekecewaan mendalam generasi muda terhadap para pemimpin industri teknologi.

Penurunan popularitas ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk kekhawatiran tentang privasi data, penurunan kualitas platform digital yang dulu bermanfaat, serta isu erosi demokrasi. Industri teknologi yang dulu dianggap sebagai pionir kemajuan kini dipandang dengan skeptisisme oleh generasi yang tumbuh di tengah berbagai skandal dan kontroversi.

Menariknya, teknologi AI itu sendiri justru mendapat penilaian yang lebih baik dibandingkan para eksekutif yang menaunginya. Meskipun AI semakin tidak disukai oleh orang Amerika dari berbagai kelompok usia, data menunjukkan bahwa AI dan pusat data yang mendukungnya masih dipandang lebih positif daripada para CEO teknologi.

Kekhawatiran Generasi Muda terhadap AI

Survei tersebut juga mengungkap kekhawatiran spesifik generasi muda terhadap dampak AI pada kehidupan mereka. Sebanyak 45 persen responden menyatakan bahwa AI akan berdampak negatif pada karier mereka. Angka ini menunjukkan kecemasan yang meluas tentang otomatisasi dan perubahan lanskap pekerjaan yang dipicu oleh perkembangan teknologi AI.

Selain itu, 40 persen responden berpendapat bahwa pemerintah AS harus mengatur penggunaan AI. Sementara itu, 60 persen responden mengatakan bahwa pembangunan pusat data yang masif oleh industri teknologi sebaiknya diperlambat. Data ini mengindikasikan bahwa meskipun generasi muda tidak sepenuhnya menolak teknologi, mereka menginginkan adanya pengawasan dan regulasi yang lebih ketat.

Hasil survei ini menjadi sinyal kuat bagi industri teknologi bahwa pendekatan mereka selama ini perlu dievaluasi. Kepercayaan publik, khususnya dari generasi muda yang akan menjadi tenaga kerja dan konsumen masa depan, adalah aset yang tidak bisa diabaikan. Industri AI dan perkembangan teknologinya harus berjalan seiring dengan upaya membangun kepercayaan publik.

Meskipun survei ini dilakukan di AS, hasilnya dapat menjadi pelajaran berharga bagi industri teknologi secara global. Kepercayaan adalah fondasi utama dalam adopsi teknologi, dan tanpa kepercayaan, inovasi sekalipun akan sulit diterima oleh masyarakat. Para pemimpin industri perlu menyadari bahwa transparansi dan tanggung jawab etis menjadi semakin penting di mata generasi muda.

Dengan angka ketidakpercayaan yang begitu tinggi, masa depan hubungan antara industri teknologi dan generasi muda akan sangat bergantung pada bagaimana para CEO dan perusahaan merespons kekhawatiran ini. Apakah mereka akan mengubah pendekatan atau justru semakin kehilangan kepercayaan publik, hanya waktu yang akan menjawab.

A collage of AI CEOs Elon Musk, Sam Altman, and Dario Amodei.

Perubahan sikap generasi muda ini juga berdampak pada cara perusahaan teknologi merekrut talenta. Jika tren ini berlanjut, perusahaan teknologi besar mungkin akan kesulitan menarik pekerja muda berbakat yang kini lebih skeptis terhadap misi dan nilai-nilai perusahaan tersebut. Hal ini bisa menjadi tantangan besar bagi industri yang sangat bergantung pada inovasi dari sumber daya manusia berkualitas.

Data dari survei ini juga menyoroti perlunya dialog yang lebih terbuka antara industri teknologi, pemerintah, dan masyarakat. Regulasi yang jelas dan akuntabilitas yang lebih baik mungkin menjadi kunci untuk memulihkan kepercayaan yang hilang. Tanpa langkah konkret, kesenjangan antara industri teknologi dan generasi muda diprediksi akan semakin melebar.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.