šŸ“‘ Daftar Isi

Pekerja kantoran merasa cemas dan khawatir tentang penggunaan AI di tempat kerja

Survei: 69% Pekerja Khawatir AI Ekspos Kelemahan Kemampuan Mereka

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Survei Hint App terhadap 10.842 pekerja dewasa mengungkap 69% responden khawatir AI menonjolkan kekurangan kemampuan mereka
  • Hanya 41% responden yang lebih cemas tentang kemungkinan digantikan oleh AI
  • 64% pekerja menghabiskan waktu tambahan untuk meninjau materi yang dihasilkan AI karena khawatir penilaian atasan
  • 53% responden khawatir tentang reaksi manajer jika mengetahui AI bekerja lebih cepat dari manusia
  • 58% pekerja sengaja menghindari aktivitas AI di depan umum untuk menyembunyikan kelambatan mereka
  • Survei menekankan perlunya dialog tentang ekspektasi korporasi dan tanggung jawab pengusaha terhadap tim yang menggunakan AI

Telset.id – Kehadiran artificial intelligence (AI) di tempat kerja ternyata memicu kecemasan baru bagi para pekerja. Hasil survei terbaru dari Hint App mengungkapkan bahwa 69% responden khawatir teknologi AI akan menonjolkan kekurangan kemampuan mereka di hadapan atasan.

Temuan ini justru lebih besar dibandingkan kekhawatiran akan kehilangan pekerjaan. Hanya 41% responden yang merasa lebih cemas tentang potensi dirinya digantikan oleh AI. Artinya, ancaman terbesar yang dirasakan pekerja bukanlah pemutusan hubungan kerja, melainkan tereksposnya celah kompetensi yang selama ini mungkin tersembunyi.

An office worker in front of a computer holding his hand in one hand and looking unhappy

Survei yang melibatkan 10.842 pekerja dewasa ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya mengotomatiskan tugas-tugas kompleks dan membosankan, tetapi juga menghadirkan dimensi baru yang membuat lingkungan kerja semakin sulit. Hampir dua pertiga responden (64%) mengaku menghabiskan waktu tambahan untuk meninjau ulang materi yang dihasilkan AI, karena khawatir bagaimana hasil kerja tersebut akan diterima atau dinilai.

Kekhawatiran ini muncul karena pekerja harus memastikan akurasi kerja AI sekaligus menunjukkan bahwa mereka memahami apa yang mereka lakukan. Beban ganda ini menjadi tantangan baru yang tidak pernah ada sebelumnya.

Baca Juga:

Lebih dari separuh responden (53%) juga mengakui memiliki kekhawatiran pribadi tentang bagaimana reaksi manajer mereka jika menyadari bahwa AI bekerja lebih cepat daripada manusia. Ini menunjukkan adanya tekanan psikologis yang signifikan di kalangan pekerja.

Survei ini juga menemukan bahwa 58% pekerja sengaja menghindari aktivitas AI di depan umum. Taktik mengalihkan perhatian ini digunakan untuk menghindari sorotan betapa lambatnya mereka dibandingkan dengan alat otomatis.

AI dan Ketakutan Akan Masa Depan Pekerjaan

Penggunaan AI di tempat kerja memiliki konotasi yang berbeda-beda di setiap bisnis dan industri. Hal ini memunculkan kekhawatiran bahwa penggunaan AI dapat secara publik mengekspos ketidaksesuaian seorang karyawan dengan perannya, baik yang dirasakan maupun yang sebenarnya.

Responden juga mengungkapkan kekhawatiran tentang apa arti penggunaan AI bagi prospek pekerjaan jangka panjang mereka. Survei ini telah menyoroti potensi masalah yang terjadi di seluruh industri.

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: apakah penggunaan AI ditujukan untuk meningkatkan produktivitas dan bantuan administrasi, membantu pelatihan, atau justru untuk menyoroti pekerjaan siapa yang bisa digantikan?

A person typing on a laptop and using a tablet. Only their upper torso, arms and hands are visible. Text superimposed on the image shows AI

Karyawan selama ini mengandalkan pelatihan di tempat kerja, kolaborasi dengan rekan kerja, catatan, ingatan, dan berbagai alat digital untuk sukses dalam pekerjaan mereka. Kehadiran AI dengan kemampuannya menyederhanakan dan mengotomatiskan proses berulang memang membuat orang lebih efisien, tetapi hasil survei ini menunjukkan bahwa orang justru aktif khawatir pekerjaan mereka tidak akan bertahan lama.

Kekhawatiran ini sejalan dengan tren industri yang terus berkembang. Beberapa perusahaan teknologi besar juga telah melakukan perampingan organisasi yang berdampak pada ribuan karyawan.

Perlunya Dialog tentang Ekspektasi Korporasi

Membaca di balik baris-baris temuan survei, kekhawatiran pekerja bisa jadi memang beralasan. Taktik pengalihan yang digunakan sebagian pekerja menunjukkan adanya ketidakamanan yang nyata di lingkungan kerja.

Yang ditunjukkan oleh penelitian ini adalah sudah waktunya untuk melakukan percakapan tentang ekspektasi korporasi atas penggunaan AI, dan apa tanggung jawab pengusaha terhadap tim yang dipaksa menggunakannya.

Perusahaan perlu menentukan dengan jelas mengapa mereka ingin menggunakan AI, apa yang mereka harapkan untuk didapatkan, dan berapa biaya manusiawi dari penggunaannya. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi krusial di tengah meningkatnya adopsi teknologi di berbagai sektor.

Survei Hint App ini menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak hanya soal teknologi, tetapi juga tentang manusia yang menjalankannya. Tanpa komunikasi yang jelas dan dukungan yang memadai, kehadiran AI justru bisa menjadi sumber stres baru bagi pekerja.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.