Ilustrasi logo Keenable dengan visualisasi indeks pencarian 100 miliar dokumen untuk AI

Startup Keenable Dapat Pendanaan $26 Juta untuk Search Index AI

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Keenable, startup infrastruktur web search untuk AI, keluar dari stealth dengan pendanaan seed $26 juta
  • Putaran dipimpin Accel, dengan partisipasi Conviction Partners dan business angels
  • Didirikan Andrey Styskin (eks Yandex dan Amazon) bersama ilmuwan AI Matthias Petri
  • Perusahaan membangun indeks pencarian lebih dari 100 miliar dokumen
  • API sudah digunakan di laboratorium AI dan penyedia inference untuk training dan runtime
  • Kemitraan dengan voice AI Gradium untuk live information retrieval
  • Produk WebQueryLanguage akan menggabungkan informasi dari berbagai sumber web
  • Styskin melihat Google "bisa dikalahkan" pada kueri agentic karena dilema inovator
  • Tim 15 staf teknik di AS dan Eropa, berencana gandakan karyawan akhir tahun
  • Kompetitor: Brave dan Exa; Google juga merombak pencarian untuk era AI

Telset.id – Keenable, sebuah startup yang membangun infrastruktur web search khusus untuk AI, resmi keluar dari mode stealth dengan pendanaan tahap awal (seed funding) senilai $26 juta. Putaran pendanaan ini dipimpin oleh Accel dengan partisipasi dari Conviction Partners dan sejumlah business angels. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya memperbarui infrastruktur internet yang selama ini dioptimalkan untuk manusia, bukan untuk kecerdasan buatan.

Startup yang didirikan oleh Andrey Styskin, mantan pemimpin divisi search, AI, dan cloud di Yandex, bersama ilmuwan AI asal Jerman, Matthias Petri, ini hadir di tengah pergeseran perilaku pengguna internet. Saat ini, semakin banyak orang menggunakan chatbot AI untuk mencari informasi di web dan menyelesaikan tugas-tugas digital. Kondisi ini memunculkan kebutuhan akan infrastruktur yang mampu melayani proses pencarian yang dilakukan oleh bot, yang dapat membaca dan memproses informasi dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan manusia.

Dari sudut pandang Styskin, chatbot AI cenderung memberikan hasil yang jauh lebih baik ketika mereka dapat mendasarkan responsnya pada dokumen sumber. “Ini sebenarnya menciptakan flywheel baru yang berbeda dari apa yang Google pelajari dari perilaku manusia,” ujarnya kepada TechCrunch.

Membangun Indeks Lebih dari 100 Miliar Dokumen

Keenable mengklaim telah membangun indeks pencarian web yang mencakup lebih dari 100 miliar dokumen. API dari startup ini diklaim sudah digunakan dalam produksi di beberapa laboratorium AI dan penyedia inference, baik pada saat proses training maupun runtime. Meskipun demikian, pihak startup enggan mengungkapkan siapa saja pelanggan mereka saat ini.

Namun, Keenable baru saja menjalin kemitraan dengan perusahaan voice AI bernama Gradium untuk mendukung pengambilan informasi secara langsung (live information retrieval). Langkah ini menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan Keenable sudah mulai diterapkan pada produk-produk AI yang berinteraksi langsung dengan pengguna.

Mengacu pada pengalamannya selama 20 tahun membangun mesin pencari di Yandex dan Amazon, Styskin menjelaskan perbedaan produk Keenable dengan solusi enterprise search yang ada. Menurutnya, solusi enterprise search seringkali tidak efektif dan sangat mahal jika diterapkan pada skala web.

“Jika Anda tidak menyesuaikan struktur indeks Anda untuk tugas tertentu, biaya untuk melayani dan memindai seluruh internet sangat besar karena volumenya. Itulah mengapa Anda perlu berinovasi pada cara mempersempit ruang pencarian berdasarkan kueri Anda dengan sangat cepat. Inilah yang kami bawa,” jelas Styskin.

Peluang di Tengah Pembatasan Akses API Raksasa Teknologi

Zhenya Loginov, partner Accel yang memimpin investasi ini, mengungkapkan bahwa para pemain AI memiliki sangat sedikit pilihan ketika berbicara tentang infrastruktur pencarian skala web. Hal ini terutama disebabkan oleh langkah Google dan Microsoft yang mulai menutup API pencarian mereka yang sudah ada untuk menghindari kanibalisasi layanan.

Sebagai gantinya, raksasa teknologi tersebut lebih memilih pendekatan terintegrasi (bundled approach) dan selektif dalam memilih mitra. Keputusan ini, menurut Styskin, justru mengonfirmasi peluang yang ia lihat saat bekerja di Amazon bersama Petri membangun infrastruktur pencarian web untuk aplikasi AI seperti Alexa.

Styskin juga melihat data dari Cloudflare yang menunjukkan bahwa AI crawler bertanggung jawab atas pangsa volume pencarian yang terus meningkat. Hal ini membuatnya menyadari bahwa ada peluang besar untuk mengembangkan infrastruktur pencarian web yang memang dirancang khusus untuk AI.

Berbekal pengalaman tersebut, Styskin merekrut sejumlah mantan koleganya untuk bergabung dengan startup barunya. Keenable juga sedang membangun kemampuan retrieval proprietary, termasuk produk terbaru yang akan datang bernama WebQueryLanguage.

Produk ini dirancang untuk membantu sistem AI menjawab pertanyaan dengan menggabungkan informasi dari berbagai sumber web, bahkan ketika tidak ada satu pun sumber yang mengandung jawaban lengkap. Kemampuan ini menjadi kunci untuk menghasilkan respons yang komprehensif dan akurat.

Biaya Menjadi Faktor Kunci Persaingan

Biaya akan menjadi bagian penting dalam persamaan bisnis ini. Styskin mengakui bahwa sangat sulit untuk meyakinkan orang agar berpindah dari Google untuk kebutuhan pencarian. Namun, ia melihat bahwa dilema inovator (innovator’s dilemma) membuat raksasa asal Amerika Serikat tersebut berpotensi “dikalahkan” pada kueri agentic.

Menurutnya, perusahaan yang lebih kecil seperti Keenable dapat berinovasi dan menawarkan solusi yang lebih hemat biaya kepada perusahaan AI. Meskipun demikian, biaya untuk membangun indeks pencarian raksasa memang nyata. “Jangan tanya — ini sangat mahal,” ujarnya.

Namun, startup ini berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga biaya tetap terkendali dan mengatur ritme pengeluarannya. Dengan tim berjumlah 15 staf teknik yang tersebar di Amerika Serikat dan Eropa, perusahaan berencana menggunakan dana segar ini untuk menggandakan jumlah karyawan pada akhir tahun guna membangun go-to-market motion.

Menuju “Google Baru” untuk Agen AI

Masih banyak langkah yang harus ditempuh sebelum startup ini dapat mewujudkan mimpinya menjadi “Google berikutnya untuk agen AI”. Beberapa pemain lain juga sudah memasuki ruang ini, seperti Brave dan Exa. Google sendiri juga sedang merombak pengalaman pencariannya untuk era AI.

Namun, gerakan yang lebih luas ini mengindikasikan bahwa keyakinan Keenable juga dimiliki oleh Google. Baik untuk manusia maupun untuk agen, era “sepuluh tautan biru” (ten blue links) mungkin akan segera berakhir. Perubahan ini menandai transformasi fundamental dalam cara informasi ditemukan dan diproses di internet.

Bagi industri teknologi Indonesia, perkembangan ini menunjukkan arah baru dalam ekosistem AI global. Investasi besar pada infrastruktur pencarian khusus AI menjadi sinyal bahwa persaingan layanan AI tidak hanya berhenti pada model bahasa besar, tetapi juga pada fondasi data yang mendukungnya. Perusahaan-perusahaan AI di Indonesia yang mengandalkan data web untuk melatih model atau memberikan respons real-time dapat menjadi pihak yang terdampak langsung dengan hadirnya layanan seperti Keenable.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.