📑 Daftar Isi

Para pendiri Inherent, startup AI asal London yang mengembangkan agen Faraday

Startup AI London Kalahkan Claude dan GPT-5.5 dengan Model 27B

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Inherent, startup AI London bentukan alumni DeepMind, klaim agen Faraday-nya ungguli Claude Opus 4.8 dan GPT-5.5 dalam replikasi makalah ilmiah
  • Faraday berjalan di model Qwen 3.6 dengan 27 miliar parameter, jauh lebih kecil dari kompetitor
  • Inherent menggunakan reinforcement learning untuk melatih "research taste" pada agen AI-nya
  • Faraday memanfaatkan GPT-5.5 Codex dari OpenAI untuk kebutuhan coding
  • Perusahaan berkantor di King's Cross, London dengan belasan karyawan dan target 20-25 orang akhir tahun
  • Edward Hughes mengkritik praktik garden leave di Inggris yang menghambat mobilitas talenta AI

Telset.id – Startup AI asal London, Inherent, mengklaim agen AI-nya berhasil mengungguli model-model besar dari Anthropic dan OpenAI dalam tugas mereplikasi temuan makalah ilmiah. Hal ini dicapai Faraday, agen AI andalan Inherent, meskipun berjalan di atas model yang jauh lebih kecil dan efisien dibandingkan kompetitornya.

Inherent, laboratorium AI yang didirikan oleh para alumni Google DeepMind, baru saja keluar dari mode siluman beberapa minggu lalu dengan pendanaan awal senilai $50 juta. Kini mereka mulai memamerkan hasil karya tim mereka. Faraday, agen AI yang baru dirilis, diklaim mampu secara mandiri mereproduksi hasil penelitian ilmiah yang sudah dipublikasikan tanpa diberi tahu jawabannya terlebih dahulu.

Keberhasilan ini menjadi sorotan karena Faraday beroperasi di atas model bernama Qwen 3.6 yang hanya memiliki 27 miliar parameter. Sebagai perbandingan, model yang diungguli seperti Claude Opus 4.8 dari Anthropic dan GPT-5.5 dari OpenAI memiliki ukuran yang jauh lebih besar. Secara sederhana, jumlah parameter menjadi proksi ukuran model dan biasanya berkorelasi dengan biaya pelatihannya.

Meski demikian, bagi Inherent, kemenangan atas model frontier tersebut bukanlah tujuan utama. Edward Hughes, salah satu pendiri sekaligus kepala ilmuwan Inherent, menegaskan bahwa yang lebih menarik adalah cara mereka membangun Faraday. “Yang paling menarik bagi kami bukanlah hasil mengalahkan agen frontier itu, yang tentu saja kami sukai, tetapi justru cara kami membangun ini,” ujarnya kepada TechCrunch.

Melatih “Riset Rasa” dengan Reinforcement Learning

Inherent tidak hanya menargetkan akurasi dalam mengukur keberhasilan Faraday. Perusahaan menetapkan standar yang lebih tinggi, yaitu kemampuan menunjukkan “research taste” atau insting tentang eksperimen apa yang layak dijalankan dan bagaimana mendesainnya dengan baik. Kemampuan abstrak semacam ini sulit diajarkan secara langsung.

Untuk mengatasinya, Inherent menggunakan pendekatan reinforcement learning. Metode pelatihan ini memberikan penghargaan pada sistem AI ketika menghasilkan hasil yang baik, alih-alih memberikan aturan eksplisit yang harus diikuti. Strategi ini dipilih karena diyakini akan lebih mudah digeneralisasi untuk tujuan jangka panjang perusahaan, yaitu membangun agen yang mampu berkontribusi di berbagai bidang ilmu pengetahuan.

“Kami selalu dipandu oleh tujuan utama membangun agen ilmuwan AI dan menanamkan rasa (taste) pada agen kami,” kata Hughes. Fokus ini juga memengaruhi keputusan Inherent tentang apa yang tidak mereka bangun. Alih-alih mengembangkan alat coding sendiri, Faraday justru menggunakan GPT-5.5 Codex milik OpenAI, mirip seperti ilmuwan manusia yang memanfaatkan perangkat lunak yang sudah ada.

Hughes juga menjelaskan bahwa Inherent berusaha menghindari pembuatan agen yang sekadar memberi tahu pengguna apa yang ingin mereka dengar. Targetnya adalah menciptakan kolaborator ideal yang bisa berkata, “Saya penasaran tentang ini, lalu saya melakukan eksperimen ini. Bagaimana menurutmu hasilnya?”

Insting kolaboratif ini juga tercermin dalam cara Inherent beroperasi sebagai perusahaan. Seluruh karyawannya yang berjumlah belasan orang bekerja secara tatap muka di kantor yang berlokasi di King’s Cross, London. Kawasan ini dulunya merupakan lingkungan yang kurang terurus, tetapi kehadiran Google DeepMind telah mengubahnya menjadi salah satu pusat AI terkemuka di dunia. “Kami percaya London adalah tempat yang tepat,” ujar Hughes.

Kritik terhadap Praktik “Garden Leave” di Inggris

Hughes optimistis terhadap kepadatan talenta AI di London. Namun, ia juga menyuarakan kritik terhadap praktik “garden leave” yang umum di Inggris. Kebijakan ini melarang karyawan yang mengundurkan diri untuk bergabung atau mendirikan perusahaan saingan selama beberapa bulan setelah resign. Restriksi semacam ini umumnya tidak dihadapi peneliti di Amerika Serikat, memberikan keunggulan bagi startup AS dalam merekrut talenta yang baru keluar dari pekerjaan sebelumnya.

“Ini pandangan pribadi, bukan pandangan perusahaan, tetapi saya pernah terkena dampak masalah garden leave,” kata Hughes. Ia sendiri akhirnya berhasil mengatasi kendala tersebut dan mendirikan Inherent bersama dua alumni DeepMind lainnya dan satu pendiri keempat.

Inherent tidak berencana melambat. Perusahaan menargetkan pertumbuhan jumlah karyawan menjadi sekitar 20 hingga 25 orang pada akhir tahun ini. Dengan ambisi mereka di bidang world models dan adanya ketidakpastian di internal DeepMind pasca peran baru Demis Hassabis, Inherent berpotensi menjadi tujuan menarik bagi karyawan DeepMind yang mempertimbangkan untuk pindah. Restrukturisasi Google DeepMind memang tengah menjadi perhatian banyak pihak di industri.

Keberhasilan Faraday menunjukkan bahwa efisiensi model dapat menjadi pembeda di tengah persaingan AI global. Pendekatan Inherent yang berfokus pada reinforcement learning dan replikasi makalah ilmiah menjadi strategi yang berbeda dari kompetitor yang mengandalkan kekuatan komputasi besar. Perubahan di DeepMind sendiri berpotensi mengubah lanskap industri AI dalam waktu dekat.

Dalam konteks yang lebih luas, pencapaian Faraday menjadi bukti bahwa model dengan parameter lebih sedikit tetap bisa bersaing dalam tugas-tugas spesifik. Hal ini membuka peluang bagi lebih banyak pemain untuk berinovasi tanpa harus mengeluarkan biaya pelatihan yang sangat besar. Inherent kini menjadi salah satu nama yang perlu diperhitungkan dalam ekosistem AI global, terutama di London yang terus mengukuhkan posisinya sebagai pusat inovasi teknologi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.