Di era awal komputer pribadi, VisiCalc dikenal sebagai “killer app” yang memicu ledakan pasar PC. Kini, sejarah mungkin terulang dengan kehadiran Sourcetable—spreadsheet berbasis AI yang diklaim mampu mendemokratisasi analisis data untuk semua kalangan. Diluncurkan bersamaan dengan pendanaan ventura senilai US$4,3 juta, platform ini menjanjikan revolusi dalam cara kita berinteraksi dengan angka.
Mengubah Kompleksitas Menjadi Simpel
Menurut data Sourcetable, 750 juta orang menggunakan spreadsheet setiap hari, namun hanya 20% yang memahami fungsi analisis dasar. “Kami menghilangkan hambatan teknis yang telah membelenggu spreadsheet sejak awal kemunculannya,” jelas perusahaan dalam pernyataan resmi. Dengan Sourcetable, pengguna cukup memberikan perintah dalam bahasa alami—baik melalui ketikan maupun perintah suara—dan AI akan mengerjakan sisanya.
Fitur autopilot-nya mampu menangani beragam tugas kompleks yang biasanya membutuhkan keahlian tingkat lanjut:
- Membuat dan mengedit model finansial
- Membangun pivot table
- Membersihkan data mentah
- Membuat visualisasi data
- Menganalisis workbook secara utuh
Digital Analyst yang Selalu Siap
Eoin McMillan, CEO Sourcetable, menggambarkan produknya sebagai “analis digital brilian yang selalu siap membantu”. “Ini memungkinkan Anda melakukan hal-hal sulit dengan lebih mudah dan tugas-tugas memakan waktu menjadi lebih cepat. Alur kerja yang biasanya memakan jam kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit,” ujarnya kepada TechNewsWorld.
Pendekatan ini mendapat apresiasi dari praktisi industri. Chris Sorenson, CEO PhoneBurner, menyebut integrasi AI ke dalam spreadsheet sebagai evolusi logis. “Dengan AI, orang bisa bertanya dalam bahasa alami dan mendapatkan jawaban nyata tanpa perlu menjadi analis data. Ini pembuka produktivitas besar, terutama untuk tim tanpa ahli data khusus,” katanya.
Era Baru Analisis Data
Para analis memprediksi Sourcetable bisa menjadi VisiCalc-nya era AI. Mark N. Vena dari SmartTech Research menyatakan: “Seperti VisiCalc dan Lotus 1-2-3 yang membawa komputasi ke audiens lebih luas dengan memenuhi kebutuhan akuntansi dan perencanaan, spreadsheet AI bisa melakukan hal serupa untuk AI.”
Robin Patra, kepala data di sebuah kontraktor AS, menambahkan: “VisiCalc mengubah spreadsheet dari buku besar berbasis kertas menjadi alat digital. Sourcetable dengan antarmuka ‘self-driving’-nya mewakili perubahan paradigma serupa.”
Tantangan dan Pertimbangan
Meski menjanjikan, teknologi ini tidak tanpa risiko. Rob Enderle dari Enderle Group memperingatkan: “AI bisa memperkenalkan kesalahan yang sulit diidentifikasi, membuat hasilnya tidak andal.” Vena juga mengingatkan tentang bahaya ketergantungan berlebihan pada output AI yang mungkin tidak selalu akurat atau bisa dijelaskan.
Di balik potensinya yang besar, Sourcetable menghadapi tantangan untuk meyakinkan pasar tentang keandalan sistemnya sambil menjaga keseimbangan antara otomatisasi dan kebutuhan pengembangan keterampilan tradisional. Bagaimanapun, langkah mereka telah membuka babak baru dalam evolusi alat produktivitas digital.