šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi teknologi pengenalan gaya berjalan SKDMap-Net dengan kamera keamanan

SKDMap-Net: AI Pendeteksi Identitas dari Cara Berjalan

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • SKDMap-Net adalah sistem AI pengenal identitas dari cara berjalan (gait recognition)
  • Akurasi mencapai 95,8% pada dataset utama dan 83,7% pada dataset dunia nyata
  • Sistem mempelajari gerakan sendi, ritme, dan pola langkah tanpa memerlukan wajah
  • Teknologi ini berguna untuk keamanan jarak jauh namun menimbulkan kekhawatiran privasi
  • Para peneliti menekankan perlunya aturan ketat untuk penyimpanan dan akses data

Telset.id – Sistem keamanan modern kini tidak lagi hanya mengandalkan pengenalan wajah. Sebuah penelitian terbaru memperkenalkan SKDMap-Net, sistem kecerdasan buatan yang mampu mengidentifikasi seseorang hanya dari cara berjalannya, bahkan saat wajah tidak terlihat jelas oleh kamera.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal International Journal of Reasoning-based Intelligent Systems ini mengungkapkan bahwa SKDMap-Net adalah sistem pengenalan gaya berjalan (gait recognition) yang dirancang untuk mengidentifikasi individu dari video rekaman langkah kaki, tanpa memerlukan pemindaian wajah secara dekat. Alih-alih mengandalkan hasil tangkapan close-up, sistem ini mempelajari bagaimana tubuh seseorang bergerak dari satu bingkai ke bingkai berikutnya.

ā€œTeknologi ini berguna sekaligus tidak nyaman dalam ukuran yang sama,ā€ tulis laporan tersebut. Jika seseorang berada jauh, membelakangi kamera, atau sebagian tubuhnya terhalang, cara berjalannya mungkin masih cukup untuk melakukan pemeriksaan identitas.

Model SKDMap-Net mencapai akurasi 95,8% pada satu kumpulan data gaya berjalan utama dan akurasi Rank-1 sebesar 83,7% pada kumpulan data dunia nyata yang lebih sulit. Angka ini menunjukkan potensi besar sistem tersebut untuk diterapkan dalam berbagai skenario keamanan.

Mengapa Cara Berjalan Bisa Lebih Efektif

Wajah, sidik jari, dan iris mata semuanya menghadapi kendala praktis yang sama. Ketiga metode biometrik tersebut memerlukan pengambilan data yang dekat dan jelas, persis seperti yang sering tidak didapatkan oleh banyak kamera keamanan.

Cara berjalan memberikan lebih banyak ruang bagi sistem untuk bekerja. Kamera tidak perlu menangkap seseorang yang berdiri diam di bawah pencahayaan sempurna. Sistem dapat mempelajari pola pergerakan yang terbentuk dari panjang langkah, waktu, dan gerakan anggota tubuh.

Itulah mengapa pengenalan gaya berjalan terus muncul dalam penelitian keamanan. Teknologi ini memberikan sinyal identitas tambahan bagi kamera jarak jauh ketika wajah buram, menghadap ke samping, atau terlalu kecil untuk dapat dipercaya.

Bagi industri yang bergerak di bidang keamanan siber, perkembangan ini menjadi perhatian tersendiri. Beberapa perusahaan seperti Savi Security telah mengembangkan solusi deteksi penipuan berbasis AI, dan teknologi pengenalan gaya berjalan dapat menjadi lapisan keamanan tambahan yang signifikan.

Bagaimana AI Membaca Gerakan

SKDMap-Net tidak memperlakukan cara berjalan sebagai garis luar yang datar. Berbagai faktor seperti sudut kamera yang buruk dapat membuat garis luar tersebut menjadi kacau dengan cepat. Sebaliknya, sistem ini memecah tubuh menjadi titik-titik yang bergerak dan melacak bagaimana titik-titik tersebut berperilaku dari waktu ke waktu.

Sistem ini mempelajari bagaimana sendi menekuk, seberapa cepat sendi tersebut berputar, dan bagaimana ritme tersebut berubah selama berjalan. Pendekatan ini membantu ketika pandangan memburuk. Jika tubuh bagian bawah terhalang, model dapat memberikan bobot lebih pada gerakan tubuh bagian atas, bukan menebak dari kaki yang hilang. Sistem ini mengamati gerakan, bukan sekadar bentuk.

Penelitian tentang keamanan AI juga terus berkembang di berbagai sektor. Anthropic baru saja merilis Claude Security berbasis Opus 4.7 untuk kebutuhan enterprise, menunjukkan bahwa keamanan berbasis AI semakin menjadi prioritas utama di dunia korporat.

Kekhawatiran Privasi yang Mengemuka

Ada versi yang lebih bersih dari masa depan ini di mana kamera memproses data kerangka, bukan menyimpan video mentah. Hal itu dapat mengurangi jumlah rekaman yang dapat diidentifikasi yang bergerak melalui sistem keamanan. Namun, hal itu tidak membuat ide tersebut menjadi tidak berbahaya.

Gaya berjalan tetaplah biometrik perilaku, yang berarti pola berjalan dapat digunakan untuk mengidentifikasi ulang seseorang bahkan ketika wajahnya dihapus. Pemeriksaan keamanan jarak jauh yang lebih baik juga dapat membuat pergerakan publik lebih mudah dilacak.

ā€œTeknologi ini membutuhkan aturan ketat seputar penyimpanan, akses, dan penerapan sebelum ā€˜berjalan normal’ menjadi saran privasi yang buruk,ā€ tulis para peneliti.

Perkembangan ini juga relevan dengan upaya peningkatan keamanan siber di Indonesia. XLSMART baru saja menggelar BRAVO 500 SUMMIT yang berfokus pada AI dan cybersecurity, menunjukkan bahwa integrasi AI dalam sistem keamanan semakin menjadi tren global.

Selain itu, kolaborasi antara Indosat, Kemkomdigi, dan Mastercard dalam meluncurkan modul pelatihan cybersecurity juga menandakan kesadaran akan pentingnya keamanan digital di Indonesia semakin meningkat.

Kehadiran SKDMap-Net membawa implikasi besar bagi industri keamanan. Kemampuan mengidentifikasi seseorang dari jarak jauh tanpa kontak langsung membuka peluang baru sekaligus tantangan etis yang perlu dijawab dengan regulasi yang tepat. Tanpa batasan yang jelas, teknologi ini berpotensi mengubah ruang publik menjadi area pemantauan yang tidak terkendali.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.